
Lift terus naik menuju lantai paling atas. Pintu lift terbuka lebar, tidak ada satu orang yang melihat. Helen kembali dilupakan dengan adanya cctv.
Masih dalam kondisi saling memeluk, berpaut dengan Sonic. Bercak merah terlihat di sekujur d*da dan leher. Rambutnya yang panjang bergelombang berantakan.
Terengah-engah Helen melepaskan,
"Thanks beb." Bisik Sonic tepat di telinga Helen.
Tangan Sonic mengusap lembut pipi Helen. Helen menatap manik mata Sonic, memperlihatkan ketulusan dan kebrengs"kan sekaligus.
"Pulang lah! Kita ketemu nanti malam." Pinta Helen.
Sudah mendapatkan inginnya, Sonic mengindahkan. Tersenyum kemudian meng*cup kening Helen. Membuat Helen refleks menutup mata.
Sonic turun menggunakan lift yang sama. Sedikit cairan putih berserakan di lantai lift, Sonic senyum kep*rat mengingat kenakalannya bersama Helen.
Di atas rooftop Helen mencari udara segar. Menutup lagi kancing bajunya satu persatu. Membiarkan rambutnya terurai, angin membuat rambutnya berantakan eksotis.
Matanya silau menatap sinar matahari, langit cerah sedangkan hatinya lelah.
Helen merasa bersalah atas kepercayaan yang diberikan oleh Tania, di sisi lain Helen juga merasakan jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada sosok Sonic.
"Helen …." Suara itu memanggilnya, menyembunyikan perasaan dengan sikap linglung bukan dirinya.
"Kenapa disini?" Tanya Tania.
"Kok tau aku disini." Helen penasaran.
"Tadi ada yang ngeliat kamu masuk lift menuju lantai atas." Batin Tania.
"Gak sengaja, pengen ke atas buka pintu kok ada kamu." Ucap Tania pada akhirnya.
"Hmmm …." Jawab Helen, merapikan rambutnya untuk menyembunyikan bekas-bekas merah pada lehernya.
"Lagi ada masalah?" Tanya Tania.
Gelagapan Helen menjawab "Ah tidak …. tidak, hanya ingin cari udara segar."
"Oh, langit hari ini cerah. Sebentar lagi senja," kata Tania
"Ingat gak waktu kita ke pantai berdua, melarikan diri dari banyaknya pekerjaan. Melihat senja berdua di pantai." Sengaja Tania mengingatkan kejadian ketika mereka berdua bersama, ingin tahu bagaimana reaksi Helen.
"Iya." Jawab Helen menatap langit, yang akan berubah warna.
"Apa malam ini kita ke pantai aja?" Tania menyilangkan tangan, menatap Helen.
Rambut Helen tersibak angin, mata Tania tidak sengaja melihat bekas merah itu.
Senyum smirk, Helen buru-buru merapikan.
__ADS_1
Mendapat notifikasi pesan dari bagian ruangan pemantau cctv, membuat Tania segera meninggalkan markas untuk menuju ke kantor. Tidak beruntung, Tania hanya berpapasan dengan mobil Sonic ketika hendak masuk parkiran basement yang sejatinya parkiran hanya digunakan untuk orang-orang yang dirinya kasih akses untuk masuk.
"Dasar penghianat." Batin Tania, tangannya ingin sekali mencengkr*m leher Helen, menarik tubuh Helen, melemparkannya dari atas.
"Kamu sakit?" Tanya Tania
"Nggak Tan, kecapean aja." Jawab Helen.
"Bagaimana gak kecapean, dasar wanita jal*ng." Batin Tania.
"Pulang aja, istirahat lagian udah selesai pekerjaan. Kalau ada panggilan masuk matiin aja, tinggal suruh yang lain buat handle." Tutur Tania.
Helen melihat ke arah Tania, Tania yang dikenalnya sangat baik. Tania yang mengajak untuk gabung menjadi asisten pribadinya hanya modal kepercayaan dan kepercayaan itu dirinya ingkari.
"Thanks Tan." Ucap Helen.
Tania merogoh tasnya, mengambil ponsel kemudian membuka ponsel tidak lama berucap pada Helen.
"Buka pesan, cek itu buat periksa jika perlu."
"Ponsel?" Tanya Helen, Tania mengangguk.
"Aku harus turun dulu, ponsel di ruangan." Helen baru menyadari kebodohannya, bagaimana jika banyak panggilan tak terjawab atau pesan penting masuk ke ponsel yang digunakan untuk menerima pekerjaan.
"Oke." Jawab Tania, melihat Helen jalan buru-buru.
"Dasar wanita polos, j*lang, pengkhian*t." Umpat Tania.
"What the f*ck?*
Arya mendapatkan satu pesan peringatan.
"Semakin yakin mereka bukan orang biasa." Ucap Arya pada dirinya sendiri.
Arya mengirim kode meminta bantuan pada orang yang dirinya percaya untuk membantu mengganti lokasi dirinya bukan di negara yang sekarang dirinya singgahi melainkan beberapa alamat di beberapa negara yang terpantau ditakuti golongan.
"Thanks Bang." Ucap Arya ketika mendapatkan kode tanda bantuan sudah teratasi dengan baik.
"Baskara, Siapa kau sebenarnya?" Arya terus mencari beberapa data mencurigakan tersimpan di folder menggunakan username 53k4R4+.
"Anj*nk." Umpat Arya lagi. Semakin bengis mencari dan terus mencari. Arya kesulitan untuk menemukan kode untuk masuk.
Tidak menyerah, Arya melakukan tugasnya dengan sempurna. Arya dapat memindah folder sebelum mereka mengetahui lagi jika datanya diretas.
Arya meninggalkan banyak virus, sebelum keluar dari web yang di retasnya.
"GOOD JOB." Pujinya pada diri sendiri.
__ADS_1
Tidak ada yang berani menembus lokasi yang disematkan 'Meksiko'. Negara Kartel terbesar di dunia.
Arya menutup layar laptop dan seluruh monitor yang ada di depannya. Nando dan Putra sudah pergi dari beberapa jam tadi.
Arya memakai hoodienya, mengambil ranselnya untuk pulang ke rumah. Dari sore, Rio menghubungi, mengirim pesan untuk mengajak keluarga kecilnya makan malam.
"Lagi sibuk sorry." Jawab Putra dibalik telepon.
Arika berkali-kali menghubungi dirinya meminta bantuan. Putra berusaha untuk mengabaikan namun hati kecilnya menolak.
"Sorry ganggu. Aku gak tau lagi harus minta tolong ke siapa, karena aku rasa Uncle tidak sama seperti dulu." Keluh Arika.
"Uncle? Ada apa dengan dia?" Tanya Putra.
"Aku gak tau, dari itu aku ingin kamu bantu aku untuk menyelidiki." Pembicaraan Arika dipotong oleh Putra.
"Aku bukan detektif, aku hanya pengacara."
"Iya, I know tapi kamu punya teman detektif untuk bantu menyelesaikan kasus kamu bukan?" Tanya Arika sangat berharap Putra membantu dirinya.
Arika tidak mendengar jawaban dari Putra.
"Jika tidak, aku akan kembali ke Paris secepatnya." Suara Arika terdengar sedih, menahan tangis.
"Kemarilah sekarang!" Pinta Putra, membayangkan wajah Arika saja sudah tidak bisa.
"Aku tidak bisa keluar, uncle menyuruhku diam di rumah." Jawab Arika.
"Kemarilah, jika tidak aku yang akan kesana!" Ancam Putra membuat Arika diam, tidak ingin Jamie mengetahui dirinya dekat dengan seorang lelaki.
Kehilangan satu nyawa orang yang dikaguminya sudah cukup menjadi pelajaran dan kesalahan besar bagi dirinya.
Arika tidak ingin merasakan kehilangan atas kesalahan yang sama. Arika tidak ingin kehilangan Putra, seperti halnya kehilangan Bagas.
"Tunggu aku, aku segera datang." Ucapan Arika, membuat Putra menelan salivanya.
"Aku sudah melakukan perintahmu, lalu apalagi?" Suaranya keras dan membentak.
"Ini hanya seujung kuku tuan muda, masih banyak yang harus kau selesaikan." Suara wanita sungguh sangat lembut didengar.
"Jangan pernah sentuh perempuanku, cukup aku." Pintahnya, pada sang pesuruh.
"Hahahaha bodoh, dia akan menghancurkanmu." Menertawakan di balik layar monitor.
Wanita dengan menggunakan dress warna hitam, berdiri membawa segelas wine menertawakan.
__ADS_1
Bersambung ….