Love Vs Blood

Love Vs Blood
31.Love vs Blood


__ADS_3

"Kepar*t, apa yang sudah kau lakukan?" Jamie tidak segan menjamb*k rambut Baskara.


Wajah lebam, dar*h mengalir di pelipis, lengan, dan juga sela bibir.


Dua tangannya diborgol, tubuhnya bergelantung di atas besi panjang dan rantai yang menahan tangan kanan kirinya.


Matanya menyipit, bengkak kesulitan membuka kebanyakan kena puk*lan.


"Berapa uang yang kau pakai bangs*t?" Teriakan Jamie tentu tidak dijawab.


Jangankan menjawab, merintih saja Baskara tidak bisa.


Guyuran air dingin membasahi sekujur tubuhnya membuat Baskara merontah.


Sniper membawa Baskara hidup-hidup, tahu jika tuannya ingin meluapkan emosi sebelum mengh*bisinya.


"Siapa lagi yang sudah mengetahui tentang ini?" Bukan tentang uang yang dikorupsi saja, melainkan kepolisian sudah mencium gerak-gerik Baskara yang ikut campur tentang narkot*ka.


Tampangnya yang tidak lagi bisa sewena-wena, gelagapan di hadapan sang tuan.


Kali ini bukan p*stol yang diambil Jamie. Cambuk berwarna maroon bergaris warna hitam diambilnya, sekali c*mbukan dilakukan di lantai.


Baskara sudah tidak berkutik, jika pun tulang belulang tubuhnya harus remuk, dirinya sudah tidak peduli.


Merasa dikhianati satu c*mbukan menghantam tubuh Baskara.


Menggeliat, seakan sudah menunggu untuk merasakan c*mbukan yang akan menyerang tubuhnya bertubi-tubi.


Wajah terdakwa bagai meminta ampun, mulut mulai mengeluarkan rintihan.


Tidak ada ampun, lebih baik Baskara lenyap di tangannya. Tidak peduli di luar sana ramai akan berita Baskara menghilang atau melarikan diri.


"What the f*ck?" Ucap Jamie, matanya memerah amarahnya tidak bisa ditahan lagi. Terus menyerang, tetesan d*arah berjatuhan.


Semakin tidak tahan, senapan laras panjang ditariknya dari tangan Sniper.


Dooorrrr …..


Usai 


---


Merasa aman, Arya melaju cepat kembali menuju Markas.


Nando sudah menunggu kedatangannya di Markas.


"Baskara, apa kamu sudah menemukan identitas dia?" Tanya Nando.


Arya membuka semua file yang didapatnya, menunjukan pada Nando.


Mutasi keluar masuk uang dengan nomor rekening atas nama dirinya sendiri dengan jelas terpampang melakukan transaksi dengan nominal yang tidak sedikit ke pemilik nomor rekening yang sama.


"Apa Mr.X tidak memberitahu sesuatu tentang dia?" Tanya Nando pada Arya.


"No." Jawab Arya, yang kemudian menunjukkan banyak file tentang identitas Baskara.


"Dia tidak mungkin melakukannya sendiri. Pemerintahan sudah di obrak - abrik, dia tidak akan bisa menyembunyikan lagi meskipun memenangkan kasus." Tutur Nando

__ADS_1


Arya menoleh "Pemerintahan?" tanyanya.


"Jika ada dibalik mereka satu lagi yang bersuara, enyah sudah. Jika masih menyimpan satu racun, semua bisa mati."


Arya bermain dengan pikirannya,


"Aku yakin Baskara sudah lenyap." Ucap Arya membuat Nando menatap dirinya.


"Jamie?" Tanya Nando


"Entah …. Jika pemerintahan sudah ikut campur. Siapa saja bisa melenyapkan dia? Bukannya lebih baik melenyapkan racun daripada harus mati semuanya?" Tutur Arya.


"Tapi harus ingat, menutupi bangkai sama saja mendatangkan euforia." Ucap Nando.


Mereka berdua saling menatap, kemudian tertawa bersama.


Pikiran mereka sama, Nando dan Arya tanpa perintah langsung bekerja sesuai misinya. Kehilangan satu orang, justru akan mendatangkan orang-orang baru.


Lebih kep*rat atau bahkan membantu.


Arya bermalam di markas, jari jemarinya semangat untuk melakukan pekerjaan.


Nando di duduk di sampingnya sesekali memberikan instruksi untuk melakukan ini dan itu.


---


"Baru kali ini lihat orang diculik enak banget."  Riki yang sedang duduk di tempat kerjanya, dengan ponsel di tangannya yang memperlihatkan video seseorang sedang tertidur.


"Sepertinya kita salah nyulik orang, dia aslinya introvert kayaknya. Karena introvert mulutnya jadi comberan efek jarang ketemu orang." Tutur Raka yang lagi menandatangani berkas-berkas.


Riki mematikan ponselnya "Kita keluarkan saja gimana?"


"Gak denger berita rame mencari Baskara?"


"Iya Tahu." Jawab Raka.


"Bagaimanapun kita harus punya empati, tapi btw kenapa yang lain berhenti nyari Robert ya?" Ucap Riki.


Raka juga penasaran, karena komunitasnya juga lagi adem ayem.


"Iya, mereka hanya fokus ke Mario, bahkan gak ada yang mempertanyakan keberadaan Robert."


Kejanggalan yang harus mereka cari alasannya, antara ketahuan atau mereka menganggap Robert sudah lenyap.


---


Tania melenggang begitu anggun. Beberapa pasang mata memandang ke arahnya, tidak hanya laki-laki para perempuan juga kagum dibuatnya.


Kekasihnya Jamie, begitulah mereka mengenal. Tidak ada yang berani mengusik, menyapa saja enggan. Lebih hormat menunggu sapaan dari pada harus menyapa. Tidak ada yang tidak mengenal Jamie, hanya saja mereka tidak benar-benar mengenal.


"Acara belum dimulai?" Tanya Tania pada salah satu petugas penjaga.


"Belum nona." Jawabnya sopan.


Tania sengaja berangkat lebih awal dan sendiri. Tidak meminta Helen untuk menemani. Begitupun Anjas yang mengajaknya berangkat bareng tidak direspon.


Seperti biasa acara meeting para pengusaha dilakukan untuk saling mendukung satu sama lain.

__ADS_1


"Ok, thanks." Ucap Tania, matanya mencari tempat untuk dirinya menyendiri.


Pandangannya berhenti pada sebuah kursi kosong di kafe dalam gedung perusahaan tempatnya akan melakukan meeting.


Tania kembali berjalan menuju tempat yang tidak jauh dari dirinya berdiri.


"Tania …." Suara itu membuat tubuh Tania mematung.


Tania lupa jika Jamie juga pasti datang di acara meeting ini.


Emosinya kepada Helen melupakan keberadaan Jamie.


Tania berusaha untuk menoleh ke belakang, asal suara berada. Tubuh Tania mendadak kaku, antara takut dan bingung.


Langka kaki itu terdengar mendekat, Jamie tanpa sungkan memeluk tubuh Tania dari belakang.


"I miss u." Bisiknya tepat di telinga Tania.


Bagai es balok terkena panas, tubuh Tania melemah.


"Banyak orang." Ucap Tania.


Suasana luar hall cukup ramai.


"Aku tidak peduli. Aku hanya merindukan kamu." Ucap Jamie lagi.


Tidak ada yang berani melihat keromantisan itu, pura-pura tidak melihat dan pura-pura tidak tahu menjadi pilihan mereka.


Perlahan Tania melepaskan tangan Jamie yang masih melingkar di perutnya.


Jamie menuruti sang kekasih.


"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menghilang lagi." Ancamnya.


Tania tidak takut atas ancaman, jika sudah mengetahui Jamie tidak bisa tanpa dirinya.


Satu misi yang bagi Tania sudah berhasil, membuat Jamie terperangkap oleh perasaannya.


"Aku mau kesana," tunjuk Tania pada kafe yang tadi ingin dirinya tuju.


"Kamu bisa masuk duluan. Ingat ini tempat kerja!" Pesan Tania pada Jamie.


"Aku akan ikut dengan mu." Ucap Jamie, benar-benar tidak ingin berpaling dari Tania.


Tania berjalan lagi, bagai tidak terjadi sesuatu. Jamie mengikuti dari belakang, juga tidak menanyakan perihal alasan Tania menghilang. Kejadian di ruang kerjanya, pertama kali bagi Tania. Jamie berusaha memaklumi keadaan Tania. Meskipun dirinya tersayat oleh rasa rindu yang  begitu hebat.


Duduk berdua berhadapan bagai orang asing yang baru kenal. Dua cangkir kopi sudah tersaji di atas meja.


Tidak ada yang dibicarakan, saling menatap dalam diam.


Tidak dipungkiri, Tania juga rindu dengan orang bengis yang ada di hadapannya.


Terpaut jauh umur, tidak melihat adanya keriput. Wajah Jamie masih sangat tampan dan membius.


Bersambung ….


 

__ADS_1


 


__ADS_2