Love Vs Blood

Love Vs Blood
29.Love vs Blood


__ADS_3

Sebuah mobil dan motor mengikuti Arya dari sisi kanan dan kiri. Awalnya Arya tidak mencurigai jika dirinya diikuti oleh mobil dan motor yang sedang mengikutinya.


Arya merasa sudah ditunggu di jalan yang cukup jauh dari markasnya. Motor itu semakin mendekati, beruntung jalanan sepi membuat Arya bisa menambah kecepatan.


"Sial*an pasti ulah Z'Cross." Umpat Arya dibalik helm full face nya.


Tidak mungkin dirinya menuju ke tempat orang tuanya yang sudah menunggu.


"F*ck." Umpatnya lagi.


Arya membelokkan motornya untuk menghindari mereka. Mereka masih mengikuti, Arya dan semakin memperlihatkan jika Arya incarannya.


Aksi kejar-kejaran di jalan terjadi. Bukan Arya jika menyerah. Meliuk-liuk di jalanan yang mulai ramai. Otak Arya bermain, memikirkan kemana tempat yang harus dirinya tuju.


"Anj*nk." Arya kembali mengumpat, pulang tidak mungkin,kembali ke markas apalagi.


Motor dan mobil itu masih di belakangnya, mencoba menghentikan dirinya.


Arya mulai teringat jalanan depan jika berbelok ke kanan menuju ke rumah Clay. Bodo amat, Arya terus menambah kecepatan, membelokkan motornya menuju jalanan yang tadi pagi dirinya lewati.


Tidak ada yang akan berani masuk dan bikin kegaduhan. Perumahan mewah rumah Clay, tidak akan jadi sasaran empuk mereka untuk menyerang dirinya.


"Yes." Arya merasa senang, bagai sang juara setelah masuk ke halaman rumah Clay dengan Security membuka pagar tanpa disuruh.


Mengenali Arya yang datang mengantarkan Clay.


"Thanks pak." Ucap Arya.


"Sebotol kopi bikin orang merasa jadi bestie." Batin Arya, ketika ingat tadi mengantar Clay berpesan ke Security untuk tidak membukakan pintu jika Clay ingin keluar rumah dengan memberikan sebotol kopi penuh kenangan pada Security (Tidak di Endorse).


"Ada apa mas kok ngebut banget? Mereka siapa mas?" wajah khawatir si Security.


"Begal pak. Bapak kok tau saya dikejar - kejar?" Tanya Arya penasaran celingukan.


"Di cctp mas, saya mantau di pos satpam. Kayak inget motor itu, mangkanya bapak langsung bukain gerbang pas motor mas masuk ke arah sini. Cctp juga terpasang di gerbang depan." Arya melongo mendengar penuturan Security.


"Wah keren pisan bapak mah? Terima kasih ya pak. Clay masih ada kan di dalam?" tanya Putra.


"Aman mas, ada di dalam." Jawab Security yang Arya belum diketahui namanya, bahkan di seragamnya tidak ada nama tag, dan itu tidak peduli buat Arya.


Dengan sopan Arya masuk ke dalam rumah, disambut langsung oleh Clay.


"Tumben, ada apa?" Tanya Clay yang otomatis bingung dengan kedatangan Arya untuk pertama kalinya masuk ke rumahnya.


Berasa rumah sendiri, Arya langsung duduk di sofa tanpa menunggu dipersilahkan.


"Gara-gara kau, aku dikejar anak Z'Cross." Ucap Arya.

__ADS_1


"Kenapa aku? Bukanya kamu yang nendang dia?" Clay berdiri di samping Arya.


"Wah gak tau diri amat ini cewek, dibantuin malah gini." Ujar Arya menatap gedek ke Clay.


"Aku gak mau bikin masalah sama mereka, mangkanya aku gak teriak minta tolong. Karena mereka pasti bikin ulah ke yang nolongin aku." Tutur Clay.


"Waaah parah kamu, tau gitu tadi kubiarkan kau diganggu dia. Bukannya bilang terima kasih udah ditolongin." Ucap Arya sudah tidak mau dengar.


Ponselnya bergetar, dibuka banyak sekali notifikasi panggilan tidak terjawab dari Ayahnya.


Arya segera mengangkat dan menjawab "Ayah, maaf Arya ada tambahan pekerjaan. Lain kali ya, maaf banget tidak bisa ditinggal." Setelah berucap belum mendengar Rio berbicara Arya segera menutup, ditakutkan mendengar suara Clay yang ikut menyahut.


"Bohong banget." Clay nyeletuk.


"Minta minum, aku haus, capek." Ucap Arya tanpa peduli dimana dirinya sekarang berada.


"Dikira aku siapa?" Clay menolak.


"Aku tamu." Jawab Arya.


Clay berbelok, jalan menuju ke dapur untuk mengambilkan Arya minum.


Arya yang penasaran ikut berjalan pelan mengikuti langkah Clay dari belakang.


"Kok sepi?" Tanya Arya membuat Clay terkejut.


"Penasaran, kenapa sepi?" Tanya Arya.


"Orang tua lagi ada acara, bibi lagi cuti." Tutur Clay.


"Sendirian?" tanya Clay.


"Sama pak Security, katanya kamu nyuruh dia buat ngelarang aku keluar." Tutur Clay, mengambil gelas di atas kitchen set, tangannya tidak sengaja menyenggol tubuh Arya yang masih ngikut di belakangnya.


"Kamu ngapain sih Ar?" Tanya Clay gregetan.


"Rumahnya gede, takut nyasar." Ucapan Arya makin bikin Clay gedek.


"Mangkanya tadi nunggu di ruang tamu, kau ngikut gini kek anak ayam." Tutur Clay menghadap Arya.


"Enak saja dikata anak ayam." Arya tidak terima, tubuh dia yang lebih gede dari Clay langsung mengangkat Clay ke atas meja dapur.


"Aarryaaaaaa …." Teriak Clay, dengan bersamaan kepala Arya terbentur pintu tempat gelas yang sepenuhnya belum tertutup.


"Aarrgghh …." Keluh Arya, karena benturan itu cukup keras, membuat Arya menggosok-gosok kepalanya dengan tangan.


Clay tidak bisa menahan tawa "Udah dibilang juga, karma."

__ADS_1


Kesal, Arya menatap tajam mata Clay yang masih tertawa. Seketika Clay terdiam.


Entah mendapat dorongan dari mana, Arya perlahan mendekatkan wajahnya membuat Clay gugup.


Wajah Arya semakin dekat, napasnya terasa berderu, Clay dapat merasakan.


Jantung Clay berdetak tidak karuan. Memalingkan muka tidak bisa, Arya semakin dekat meng*cup lembut b*bir Clay.


Clay membalas, mengalungkan kedua tangannya di leher Arya.


---


"Baskara bangs*t." Jamie memaki - maki, percuma menggelontorkan banyak uang jika Menteri itu tidak bisa bekerja dengan baik.


"Kep*rat.* Umpatnya lagi dan lagi.


Sebuah email masuk, memerintahkan dirinya untuk memusnahkan Baskara.


Tidak menunggu lama, Jamie menghubungi Sniper untuk membereskan pekerjaannya.


"Laksanakan perintah!" Ucap Jamie.


Jamie hanya percaya sama Sniper. Untuk pertama kalinya seorang yang bekerja dengan dirinya membuktikan menembak tangannya sendiri demi bisa dipercayai oleh Jamie.


Badannya yang kekar, bentuk tubuhnya yang menawan begitu terlihat di pantulan kaca. Jamie melihat keluar jendela, di otaknya ada bayangan Tania. Begitu rindu dengan perempuannya. Ruang kerja menjadi saksi tumpah ruah perasaan yang tidak bisa ditafsirkan.


Jamie lunglai, Tania masih tidak ada kabar. Ruang kerja yang gelap, sengaja tidak dinyalakan lampunya. Jamie terusik, ke rumah Tania tidak bisa, menunggu ternyata menyakitkan. Bagaimanapun sang mafia tetaplah manusia.


Kesepian, rindu terus mengusik. Mengalihkan masuk ke kamar mandi didalam ruang kerjanya.


Jamie merendam tubuhnya di bathtub dengan air hangat. Butuh tenang dan rileks, menjauhkan hiruk pikuk permasalahan.


---


Bunyi bel terus menerus bersahutan. Putra yang lagi sibuk dengan pekerjaan segera bangun dari kursi untuk membukakan pintu.


Arika berdiri, menggunakan baju tidur dengan jaket.


Putra melihatnya speechless, tidak disangka Arika datang melanggar peraturan Jamie.


"Tidak menyuruhku masuk?" Tanya Arika.


"Silahkan." Jawab Putra lirih.


Arika segera masuk, merasa lelah harus keluar rumah dengan secepatnya dan mengebut demi segera sampai di apartemen Putra.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2