Love Vs Blood

Love Vs Blood
41.Love vs Blood


__ADS_3

"Markas komunitas mobil diserang." Ucap Si kembar pada Nando.


"Kapan?" Tanya Nando,


"Sekarang, Calvin kasih kabar ke aku waktu dijalan." Ujar Riki.


"Dari itu kita belok ke sini." Ucap Raka ikut menyahuti.


"Arya mana?" Tanya Riki celingukan tidak melihat keberadaan Arya.


"Dibawah, di kafe ada …." jawab Nando terpotong notifikasi telepon masuk.


Raka penasaran menekan tombol keyboard untuk melihat cctv yang merekam di kafe.


Sosok perempuan berpakaian rok selutut dengan atasan sweater, duduk di samping Arya.


"Clay?" Ucap Riki.


"Gak salah kan itu Clay? Bukannya Arya pernah bilang jangan sampai Clay juga tahu tempat ini?" Ujar Raka.


"Z'Cross tadi nyariin Arya, mereka ngikutin Arya sampai kesini." Nando menjawab setelah mematikan telepon.


"Terus kak?" Tanya Riki


"Mereka menyerang anak Barista, kemudian Arya turun ikut ngeladeni." Nando menjelaskan,


"Btw kita gak bisa diem aja, dapat laporan jika yang menyerang markas kalian anak Z'Cross komunitas kalian diadu domba, entah siapa yang mengadu domba semenjak Rafael ikut campur."


"Kita ikut pergi atau …." Tanya Raka.


"Kalian tetap disini, aku gak akan biarkan kalian masuk ke jebakan mereka. Biar aku dan team yang mengurus." Tutur Nando.


"Baik kak." Jawab Riki.


"Jaga Markas sampai Arya naik kesini!" Perintah Nando.


Nando mengambil jaket kulitnya, perlahan keluar dari markas tanpa diketahui Clay dan Arya.


---


"Apa yang terjadi?" Putra mengangkat telepon yang terus menerus berbunyi, membangunkan dirinya dari tidur.


Putra tertidur di samping Arika yang tidur masih demam, dengan kening yang di kompres.


"Lagi dimana?" Tanya seseorang dibalik telepon.


"Apartemen." Jawab Putra masih mengumpulkan nyawa, dilihat jam menunjukan waktu tengah malam.


"Oke, besok pagi ke markas." Nando seseorang yang menghubungi Putra memastikan keberadaannya.


"Jelaskan!" Pinta Putra sebelum Nando menutup telepon. Dirasa tidak ada yang menghubungi dirinya selain Nando, Putra menaruh ponselnya lagi di atas nakas.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Arika yang ikut terbangun mendengar suara Putra.


"Teman," jawab Putra


"Minum?" Putra menawarkan Arika untuk meminum, tangannya mengecek memegang kening Arika.


Arika menggeleng.


"Boleh aku bertanya?" Suara Arika lirih ada ketakutan.


"Apa?" Jawab Putra.


"Apa kamu mendekatiku karena sengaja?" Putra terpaku.


"Kamu lanjut tidur lagi ya!" Putra beranjak dari duduknya.


Arika menahan menarik baju Putra, membuat Putra menoleh.


"Jawab! jika tujuan kamu buat balas dendam … Kenapa kamu baik sama aku?" 


"Arika … Kamu tidur ya!" 


"Putra … Tolong jawab!" Mata sayu dan sendu itu menatap memohon ke Putra.


Rasa tidak tega kembali menyeruak, rasa yang membawa getaran yang tidak pernah diinginkan kembali datang.


Putra duduk, memegangi tangan Arika pelan.


Arika sangat terkejut, kembali memori lama memutar di kepala. Mata yang sudah kering kini basah diserbu air bening kembali.


Tangannya dingin gemeteran, Putra menggenggamnya begitu erat.


"Apa … Be … nar yang dilakukan Uncle ke Kinara dan Bagas?" Arika bertanya dengan suara tersendat. Kerongkongan bagai tercek*k disaat Putra mengangguk sebagai bentuk jawaban mengindahkan pertanyaan dirinya.


Tangisan Arika semakin pecah. Putra tidak bisa mendiamkan, tubuhnya mendekat mendekap tubuh Arika yang gemetaran nan demam.


"Aku gak pernah punya niatan menyakitimu, tujuanku dari awal hanya Jamie, dan maaf jika harus melalui kamu." Jujur Putra.


"Tolong aku, tolong cari tahu kemana orang tuaku. Aku butuh dia, aku tidak punya siapa-siapa lagi, Uncle sudah jahat." Arika berceloteh, tidak bisa membiarkan jika Jamie menyakiti orang disekitarnya lagi dan lagi.


"Aku akan berusaha membantumu." Pada kenyataannya semua akan terbalik.


---


"Apa yang sudah terjadi Sonic?" Helen membuka pintu dengan marah melihat Sonic datang penuh luka lebam.


"Biarkan aku disini sementara waktu." Sonic memegangi tangan kirinya, nyelonong masuk.


"Tolong jelaskan!" Pintu rumah ditutup cepat-cepat oleh Helen.


"Rafael tidak main-main, aku mengadu domba antara Morpheus.K dan Z'Cross tetapi anak buah Rafael menghadangku." Deru napas Sonic berantakan.

__ADS_1


"Bod*h, Tol*l kalau gak bisa bergerak jangan melakukan sendiri, dasar pecund*ng. Kau tidak lebih dari Anjas si Bod*h." Helen murka.


"Apa yang kau tahu tentang mereka Helen? Kenapa membuatmu marah?" Sonic memaksakan dirinya berdiri mendekati Helen.


"Hah … Ternyata aku salah mendekati orang brengs*k seperti kamu." Tangan kanan Sonic menekan kedua pipi Helen.


Helen diam, jika dirinya berontak Sonic pasti akan melakukan lebih.


"Hai wanita j*lang … Apa yang kau mau dari aku? Kau hanya wanita j*lang, bud*k pemuasku." Geram mendengar ucapan Sonic.


Kaki Helen menendang tubuh Sonic, menjauhkan dari dirinya.


"Hai lelaki tak tau diri, kau tak lebih dari rongsongan." Helen tertawa mengeluarkan pistol dari balik kemejanya.


Mendapatkan kabar jika diluar sedang tidak baik-baik saja, tentu senjata menjadi pelindung untuk dirinya.


"Apa yang ingin kau lakukan Helen?" Sonic tercengang.


"Apalagi jika tidak menghabisimu kepar*t yang tidak bisa diandalkan." Pistol dengan kuat-kuat sudah berada di posisi siap membidik.


"Berhenti Helen …." Sonic melangkah mundur, tangannya memberikan interupsi ke Helen untuk menurunkan senjatanya.


"Jihan salah target, harusnya aku langsung mendekati Jamie, untuk menikmati tubuhnya. Bukan harus mendekati orang yang tidak bisa diandalkan." Helen menyeringai.


"Jihan?" Sonic menahan tubuhnya karena di belakang sudah menabrak dinding.


"Kau tidak akan mengenali Sonic pecandu kepar*t. Bahkan kau lebih baik musnah di tangan anak buah Rafael supaya tanganku tidak kotor untuk menyingkirkan bajing*an sepertimu."


"Stop Helen! Tolong taruh pistol! Aku mohon!" Peluh mengalir membasahi wajah dan sekujur tubuh Sonic.


Helen tertawa sebelum menekan pelatuk siap menghantam kepala Sonic.


"Helen hentikan …. " Tubuh Sonic gemetaran. Wanita di depannya bukan Helen si polos dan manja yang sering menuruti kenakalannya.


Helen mulai melangkahkan kaki, kembali tertawa sebelum tersenyum smirk.


"Selamat Jalan Kep*rat." Ucap Helen. Bunyi dua kali pistol menyerang tepat sasaran.


Helen meniup ujung pistol, menyaksikan lelaki yang pernah memanjakannya terkapar di ruang tamu tempat dirinya singgah.


Helen tersenyum sebelum menarik tubuh Sonic memasukkan ke dalam ruangan gelap.


"Hallo Tan, biarkan aku istirahat untuk beberapa hari. Tubuhku kacau dan berantakan." Pesan suara terkirim ke ponsel Tania.


Tania yang masih duduk di kursi sendirian, bermain dengan otaknya yang bising. Hanya melirik ponsel kerjanya tanpa membuka atau mencoba membalas.


Dunia terlalu kejam untuk dirinya, dunia terlalu berisik dan usik. Tania kembali memikirkan kebohongan apa yang harus dirinya lakukan. Belum waktunya dirinya menyerah meski otaknya ingin menyudahi.


"Jamie, cukup sekali aku kalah. Aku tidak ingin kalah maupun mengalah." Gumam Tania.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2