
Tempat yang tidak mungkin seorang polisi ikut campur. Mereka sudah dibungkam dengan dolar untuk memberikan izin kepada komunitas untuk melakukan kebisingan.
Bunyi pistol tiga kali didengar, yang Raka dengan bunyi pistol ditembakkan ke udara.
Anggota Z'Cross berlarian.
Riki keluar dari mobilnya melihat apa yang terjadi, berlari kecil menuju Raka yang masih berdiri di tempatnya dengan tatapan mencari sumber suara.
"Apa yang terjadi?" Tanya Riki penasaran.
"Gak tau." Raka masih melihat sekeliling. Semua sudah pergi meninggalkan tempat.
"Ayo pergi!" Ajak Riki menarik tangan kembarannya.
"Gak mungkin polisi melakukan ini, pasti ada orang lain yang mau ikut campur." Raka menolak ajakkan Riki untuk pergi sebelum memeriksa tempat.
Raka mulai menelisik seluruh tempat. Dari kejauhan terlihat bayangan dua orang yang sedang berdiri.
Bayangan itu tidak pergi, seperti menunggu kedatangan Raka dan Riki.
Semakin dekat si kembar mengenali siapa pemilik bayangan itu.
Clay bersama seorang pria paruh baya berdiri cukup jauh dari keberadaan mereka.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Teriak Raka geram.
"Aku datang membantu kalian." Jawab Clay berasa keren.
"Bangsat*d ….. " Riki yang diam langsung mengumpat.
"Apa yang kau ucap kepada anakku?"
Raka dan Riki gelagapan, tidak menyangka omongan Clay dibuktikan.
"Clay ….???" Raka dan Riki seperti meminta penjelasan.
"Aku sudah bilang kan, pasti minta bantuan papa." Ucap Clay sambil tersenyum.
"F*ck." Batin Si kembar.
"Ini kesalahan aku, bukan kalian yang harus tanggung jawab." Tutur Clay merasa jadi pahlawan.
"Bukan gitu Clay …." Raka berusaha ingin ngasih penjelasan, namun seorang lelaki paruh baya itu memotong ucapannya.
"Clay udah cerita ke saya, jadi kalian tidak perlu takut beberapa dari mereka anak dari teman saya. Saya yang akan tanggung jawab."
Raka dan Riki saling tatap,
"Makasih om." Ucap Raka tidak ingin membahas terlalu jauh. Karena ini menyangkut harga diri.
Mengalahkan tanpa berperang jauh lebih terinjak-injak daripada kalah saat pertandingan.
---
__ADS_1
Perkataan Jamie terus terngiang di kepala Tania. Tania merebahkan tubuhnya diatas kasur memikirkan apa yang dirinya akan lakukan setelah pikirannya diserang oleh ucapan Jamie yang begitu tulus mencintai dirinya.
Tania goyah, tubuhnya mendadak cemas tidak karuan.
Hal yang sama dirasakan Arika, ketika Arika meminta tolong untuk mencari keberadaan orang tuanya.
"Jamie musuhku bukan kekasihku." Batin Tania untuk menolak realita.
---
Sudah berjam-jam Nando dan Arya di markas menyelesaikan tugas, setelah mendapatkan sedikit informasi mengenai Antonio.
"Ah …. tidak ku sangka jika akhirnya begini." Ucap Nando.
"Kalau kita menyelidiki lebih jauh lagi, aku yakin tidak hanya satu komplotan yang kena." Arya berargumen.
Melihat jelas dari bukti-bukti yang sudah didapat, dari Anjas hingga Baskara.
Satu persatu mulai muncul dipermukaan.
"Ada satu identitas yang bagiku mengganjal." Arya menerka - nerka sambil men-scroll data yang sudah dirinya dapatkan.
"Siapa? Yang mana?" Tanya Nando, mulai lelah duduk terlalu lama.
"Nama perempuan ini," tunjuk Arya.
"Coba otak-atik atau cari tau siapa dia?" Arya melanjutkan.
Bukan Arya jika putus asa dengan pekerjaannya. Terus berusaha mencari jawaban supaya lega tidak menjadi beban.
"HELLEN as ELLE." Teriak Arya ketika menemukan data identitas anggota seseorang.
"Helen?" Tanya Nando.
Semakin jelas ketika foto Helen terpampang di layar monitor.
"F*ck, Bangs*d …." Tidak henti-hentinya Arya mengumpat.
"Jika atasannya mengetahui kebocoran data, habis dia." Pungkas Nando gak abis pikir.
Seorang Helen, wanita polos ternyata cerdik juga.
"Apa yang dia cari? Apa yang dia mau?" Sebuah pertanyaan yang menjadi pikiran Arya dan Nando.
"Tania, hubungi Tania suruh kesini?" Arya menyuruh Nando, sudah tidak peduli dengan sopan santun.
Nando segera menghubungi Tania, sesuai perintah Arya.
---
Tania yang masih merebahkan tubuhnya bermain dengan pikiran. Otaknya terlalu overthinking memikirkan ucapan Jamie.
"Dia musuhku …. !!!!" Ucap Tania berkali-kali untuk meyakinkan dirinya.
__ADS_1
Getar ponsel panggilan dari Nando mengalihkan pikirkannya. Sudah malam Nando menyuruhnya untuk ke markas. Tanpa pikir panjang Tania mengambil jaket untuk menghangatkan tubuhnya.
Mengambil kunci mobil, segera keluar rumah.
---
Dari sore Putra sudah di apartemen, jadwal pengadilan ternyata lebih cepat dari yang dibayangkan.
Kasus pembun*han yang kembali dimenangkan. Sudah menjadi hal biasa tersangka di kambing hitamkan, apalagi dalam kasus kematian yang merebutkan warisan.
Putra tercengang ketika pertama kali mendapatkan client yang masih berusia 18 tahun dituduh menghab*si kedua orang tua yang selama ini dijaganya.
Arika duduk dibawah sambil memainkan ponsel menemani menyelesaikan berkas-berkas untuk esok hari.
"Tidur duluan saja, aku masih lama." Layaknya suami istri.
"Seharian banyak tidur." Jawab Arika.
"Kamu nunggu siapa?" Putra bertanya mengetik sambil melirik Arika.
"Uncle, dia gak hubungi aku sama sekali." Ujar Arika sendu.
"Mungkin gak tau kamu pergi, atau lupa kalau kamu ada di rumahnya." Jawab Putra.
"Itu menyakitkan Putra, lebih baik aku bekerja tanpa berlibur jika tau seperti ini." Arika semakin sedih.
"Sedekat apa kau sama dia?" Tanya Putra ingin tau juga supaya ada pembahasan.
"Sangat dekat, dari aku kecil temanku hanya Uncle." Arika berucap terdengar antusias.
Putra berhenti mengetik, menatap Arika layaknya anak kecil menunggu orang tuanya sedang bekerja.
"Lalu, coba ceritakan." Pinta Putra ingin mendengar cerita dari Arika.
"Uncle selalu dimanfaatkan oleh teman-temannya, karena Kakek selalu memberikan uang jajan banyak ke Uncle, suatu ketika aku lahir." Arika berdiam sejenak.
"Mom …. Yang menceritakan kalau Uncle hampir gak pernah main keluar selalu menemani aku. Bahkan sampai aku sekolah Uncle yang selalu mengantarku. Huuuft …." Putra mendengarkan dan menatap ekspresi Arika
"Higga setelah aku disuruh ke Paris, Uncle jarang sekali menghubungi aku. Aku mendadak kehilangan kedua orang tua dan perhatian Uncle pun juga." Arika menahan sesak di dada.
Rasanya ingin menangis meledak. Arika mencoba bertahan untuk tidak mengeluarkan air mata.
"Lalu …." Putra masih menunggu kelanjutan.
"Lalu …. Aku disini membutuhkanmu. Orang yang tidak pernah aku kenali. Hanya kamu yang aku punya sekarang, Uncle seperti tidak sadar jika aku ada. Mungkin terlalu sibuk sampai lupa dengan aku, satu-satunya keluarga yang dia punya. Aku gak tau harus kemana? Merindukan orang tua yang bahkan aku tidak tahu keberadaannya, teman? Aku tidak punya. Akupun juga tidak tau siapa kamu? Bisa jadi kamu salah satu dari mereka yang pernah aku bully untuk balas dendam kepadaku yang tiba-tiba saja menik*m tubuhku." Bagai kehilangan oksigen, Arika berucap menggebu - gebu. Air matanya tumpah ruah, dadanya sesak bagai ditik*m bel*ti.
Putra masih punya hati untuk melihat musuh di depannya tersakiti.
Berdiri mengusap mata merah berlinang air mata.
"Minumlah!" Pinta Putra pada Arika.
Bersambung ….
__ADS_1