
"Apa kau tidak ingin buang air besar?" Suara itu mengagetkan Mario.
Mario berontak ingin melihat wajah pemilik suara itu.
"Anakku masih punya naluri peduli, aku tak melihat bau k*ncing mu." suaranya terdengar
semakin mendekat.
Perlahan tangannya membuka penutup mulut Mario.
Mario ingin sekali menyentuh mulutnya yang perih, apadaya tangan yang masih terikat kuat.
"Kamu …. Siapa?" tanya Mario.
"Tolong buka penutup kepalaku!" Suara Mario terdengar lesuh hilang tenaga.
"Buka mulutmu, waktunya makan. Kamu akan mati jika tidak makan." Tercium aroma makanan tepat di depan mulut di bawah hidung.
Mario ingin menolak, makan tidak makan pun dirinya akan mati. Namun mulutnya terasa perih tetapi perutnya merasakan minta diisi.
Perlahan Mario membuka mulut menerima suapan demi suapan tanpa tau seseorang yang menyuapinya.
"Dia tidak sekejam itu jika kau tidak berkhianat, Dia anak yang baik." Semakin banyak bicara, Mario semakin penasaran dengan pemilik suara.
"Anda siapa?" Mario kembali bertanya.
"Kau terlalu banyak tanya, ku sudahi makananmu." Bentaknya, kembali mengambil kain penutup mulut tanpa memberikan minum pada Mario.
Mario kembali berontak, sayangnya tubuhnya yang lemah tidak bisa berontak lebih kuat. Kaki dan tangannya masih terikat.
Buru-buru kembali meninggalkan Mario sendiri.
Waktu yang pas keluar dari ruang gelap, engap dan menyeramkan itu.
Terlihat mobil Jamie masuk ke dalam pekarangan rumah.
Tubuhnya gemetaran, segera menyembunyikan mangkuk kecil di dapur belakang.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki Jamie terdengar, menyadari keberadaan dirinya yang belum waktunya datang.
"Apa yang sedang kamu lakukan bi?" Tanya Jamie.
"Maaf tuan, bibi sedang mengambil barang yang ketinggalan. Sekalian membereskan ruangan." ucapnya menunduk.
Jamie mencurigai gerak-gerik seperti ada yang disembunyikan.
"Sebentar lagi bibi pulang, lusa bibi akan datang lagi."
Jamie membiarkan dirinya pergi, tidak terpikirkan atas pengkhianatan.
---
"Robert sudah pergi." Kata Raka pada Nando yang sudah tiba di Markas.
"Sonic yang menjemput, ponsel dia kita taruh di depan pintu. Ingin tau siapa yang akan dihubungi pertama kali oleh dia." Riki menambahkan.
"Apa Arya sudah menyadap ponselnya?" Tanya Nando.
"Tentu, tidak ada kejanggalan. Ku kira Sonic hanya mempermainkan Robert semenjak Anjas, si lelaki gemulai itu tidak bisa diajak kerja sama." Tutur Riki.
__ADS_1
"Kita lihat, apa yang akan dilakukan Jamie setelah mendapatkan kabar tentang Robert." Nando berucap.
Di depannya laptop terdapat beberapa file yang sudah dirinya terima dari anak buah.
"Dokumen Baskara sudah dilenyapkan," ucap Nando.
"Kita menunggu pergerakan mereka selanjutnya setelah Rafael terang-terangan menyerang dan Robert terbebas." Pesannya lagi.
"Siap kak." Jawab Raka.
"Setelah semua ini selesai tolong lanjutkan kuliah, Bagas tidak ingin adik-adiknya berhenti." Pesan Nando sambil menepuk bahu Raka yang berdiri dekat dengan dirinya.
"Iya Kak." Jawab Riki.
"Jangan kecewakan Bagas!" Pesannya lagi.
"Ayah juga meminta kita ikut dengan mereka. Kita bisa memantau usaha dari sana." Ujar Raka.
"Itu bagus, demi masadepan kalian. Bunda juga tidak ingin kehilangan anaknya lagi. Bunda pasti merindukan kalian." Tutur Nando.
Sedikit banyak Nando paham dengan hiruk pikuk kehidupan si kembar dan keluarganya.
Bagas, kakak dari si kembar sahabatnya satu bangku waktu SMA, Nando tidak pernah melupakan kebaikan Bagas pada dirinya.
Kenangan selalu akan teringat, kenangan akan selalu tersimpan.
Kehilangan Bagas semuanya tidak baik-baik saja.
---
Tania berhenti 100 meter dari rumah Jamie, menyiapkan mental sebelum sampai depan rumah sebagai tujuan.
Gerbang tinggi itu sudah terlihat mengegetarkan Tania. Tubuhnya mendadak cemas dan keringat dingin dirasakan.
"Ayo Tania, kamu pasti bisa!" Ucapnya pada dirinya sendiri.
Tania mengelus bahunya sendiri, untuk menguatkan.
Helaan napas berat, Tania mulai menyalakan mesin mobil.
Bram…
Bram ….
Gerbang terbuka lebar untuk dirinya, ketika mobilnya berhenti tepat di depan gerbang, membuat Tania terkejut. Yang dirinya ketahui, tidak semua orang punya akses masuk.
Dengan cepat Tania memasukkan mobilnya ke rumah yang tidak mewah hanya terlihat indah.
Tania menenangkan dirinya sebentar sebelum keluar mobil.
Dirasa cukup tenang, Tania perlahan membuka pintu mobil. Tania turun dari mobil merasakan aroma lavender. Begitu tenang, melihat taman kecil dengan tanaman hijau rimbun semakin membuat tenang.
Begitu asri tidak terlihat menyeramkan.
Tania menengok kesana kemari, tidak melihat adanya security.
Rumah yang dikenal sepi penuh misteri.
Kaki jenjang itu mulai melangkah menuju pintu dengan penuh keberanian.
Tania memejamkan mata sejenak sebelum menekan bell yang berada di sudut pilar samping pintu.
Tania mengangkat tangan penuh keberanian, Pintu mendadak terbuka mengejutkan.
Degupan jantung berdetak hebat tidak karuan. Lelaki pemilik rumah berdiri di depannya, bagai menyambut kedatangannya.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" Ucapan itu terdengar begitu lembut di telinga Tania.
"Aku …. Hanya," Tania gelagapan.
"Ada yang ingin aku sampaikan." Ucapnya langsung
Nampak Jamie mengernyit "Kenapa tidak tadi waktu ketemu? atau sangat penting hingga sampai kamu datang kesini?" Tanya Jamie mencari jawaban dari raut wajah Tania yang ketakutan.
"Aku …. " Tania mengg*git bibir bawahnya.
"Kamu kenapa sayang?" Jamie mulai khawatir.
Tania tidak pernah seperti ini.
"Jamie, aku …. " Rasanya Tania ingin menangis menahan rasa takut, jika dirinya mengungkapkan. Tania harus siap dengan segala resikonya.
Jamie mengelus lembut pipi Tania.
"Its ok, apa yang terjadi?" Jamie sedikit menunduk, menatap mata Tania yang mulai berkaca-kaca.
"Aku …. " Tania masih kesulitan untuk mengucapkan.
"Iya, kamu kenapa sayang?" Tanya Jamie.
"Aku hamil." Akhirnya kata-kata yang sudah disiapkan Tania keluar juga, lega tetapi ada rasa takut yang teramat besar.
"Ha …. Kamu Hamil?" Tanya Jamie terkejut.
Otaknya flashback pada kejadian di ruang kerjanya.
"Serius?" Jamie tanya untuk meyakinkan.
Tania hanya nunduk mengangguk, takut kebohongan itu terjawab di bola matanya.
Tidak disangka Jamie memeluknya begitu erat.
"Oh God." Ucapnya
Tania tercengang dengan reaksi Jamie, menciumi puncak kepala dirinya.
Tania semakin dibuat terkejut, kebohongan yang dibuat semakin membingungkan dirinya.
Jamie begitu senang dengan berita kehamilannya.
"Jamie, apa kamu bahagia?"
"Sangat bahagia." Tubuh Tania masih berada di dekapan Jamie.
"Kenapa kau bahagia? Apa kau tidak akan menyuruhku melenyapkan bayi kita? Ucap Tania lirih.
Jamie melepaskan pelukannya, menatap mata Tania dalam-dalam.
"Dia anakku sayang, jangan pernah berpikiran untuk melukai dia sedikitpun." Jantung Tania mendadak ingin lepas.
"Apa kau tidak marah?" Tanya Tania lagi dengan nada suara lirih.
"Marah? Apa itu yang kau takuti sayang?" Lemas, Tania merasakan lemas.
Tania ingin lenyap, menghilang.
Mana bisa kebohongan yang buat, membuat membingungkan dirinya sendiri.
"Jaga bayi kita, aku tidak akan membiarkan kamu terluka" Pesan Jamie, kembali memeluk tubuh Tania.
Tania gemetaran.
__ADS_1
Bersambung ….