
Wanita paruh baya itu melihat situasi, merasa aman untuk melakukan misi setelah membersihkan serpihan kaca ulah tuan besarnya.
---
Tania mendadak bersembunyi, takut bertemu Putra dan Arya, jika si bocah sudah menceritakan pada Putra tentang kelakuan bejatnya, entah Tania tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Di rumah yang ditempati sendirian, hanya menerima pekerjaan via email, duduk manis sambil menyeruput teh hangat Arika mengerjakan laporan pekerjaan.
Hunian yang minimalis dan estetik, rumah kedua yang dirinya beli untuk menyendiri.
Ponsel dimatikan, sunyi, sepi dirinya rasakan.
Tania meringis, "Hahahahaha takdir hidupku begitu lucu." Ucapnya bagai kehilangan kewarasan.
Tania menatap wajahnya di kaca rias, "Perempuan menyedihkan." Berucap menatap sinis pantulan dirinya di kaca.
Matanya melihat lipstik tertatah rapi di depannya. Mengambilnya, membuka perlahan kemudian mengoleskan lipstik berwarna merah marun di bibir pucatnya. Menatap dirinya lagi di kaca, tersenyum sinis tangannya mengusap kasar lipstik di bibirnya.
"Dasar pel*cur." Hinanya pada diri sendiri.
---
Dua hari berlalu, Putra tidak pulang bahkan menghubungi Arika yang masih tinggal di apartemennya.
Arika merasakan bosan, teramat bosan juga kekhawatiran.
Ribuan pesan masuk dan telepon keluar, menghubungi Putra tidak ada jawaban.
Arika terus berbohong disaat Jamie menghubungi dirinya.
Pekerjaan yang mengharuskan dirinya tetap tinggal di perusahaan. Putra dengan tim nya harus gesit menyelesaikan setiap perkara. Memenangkan dalam persidangan dengan kejujuran dan keadilan.
Bunyi pintu terdengar, Arika merasa senang menyambut kedatangan Putra.
"Kamu bisa pulang sekarang." Ucap Putra pada Arika, yang membuat senyumnya pudar.
"Sekarang? Alasan?" Tanya Arika, yang seharusnya dirinya senang tetapi seakan mengganjal.
"Apa kamu tidak kangen rumahmu?" Putra bertanya sembari berjalan kesana kemari, dari melepas sepatu, menaruhnya di rak, menaruh tas, mengambil air minum. Dan Arika mengikuti di belakangnya meminta penjelasan.
"Kenapa tiba-tiba?" Arika kecewa, ada rasa sakit di dadanya.
Arika mencari alasan untuk tetap tinggal, rasa bosan dan khawatir tiba-tiba hilang. Dirinya tidak ingin pulang.
"Bukannya kamu pengacaraku, kenapa menyuruh client mu pulang?" Tanya Arika lagi.
Putra melonggarkan dasinya, "Client tidak pernah nginap di rumah pengacaranya."
Jawaban Putra membuat Arika marah, teringat yang meminta tinggal adalah dirinya.
__ADS_1
"Oke." Arika tidak ingin ada perdebatan, hanya rasa sesak dirinya rasakan.
Arika berjalan masuk ke kamar, berganti pakaian. Memakai bajunya sendiri saat pertama datang, tidak membawa satu barang pun yang sudah dibelikan Putra.
Tanpa berpamitan, Arika keluar meninggalkan apartemen.
"Biar kau tau siapa Jamie?" Batin Putra, meski merasa khawatir dengan keberadaan Arika jika berada di luaran sendirian.
Balas dendam teman-teman SMA nya yang pernah menjadi korban bully oleh Arika.
Berjalan cepat, menahan tangis Arika keluar menghentikan taxi di depan apartemen.
---
"Robert hilang!" Seru seorang anggota, memberikan kabar
"Kata siapa?" Tanya mereka.
"Kakaknya telepon, Robert gak bisa dihubungi." Jawab salah satu dari anggota Morpheus.K itu.
"Mario belum ketemu dan ini lagi Robert si mulut comberan," Calvin melempar puntung rokoknya sembarangan.
"Anj*nk …. cari siapa dalang dibalik semua ini?" Calvin tidak akan tinggal diam.
"Apa Z'Cross?" Sontak Ian bertanya-tanya.
"Gak usah nuduh jika gak ada bukti." Ardian paling tidak bisa dengan orang yang asal ngomong.
"Tetap saja kita harus cari tahu, kita cari bukti. Jika tidak, kita yang m*ti di tangan mereka." Ardian mengingatkan.
---
"Arya, apa kamu masih ingat Mario?" Tanya Clay, mengganggu Arya menikmati semangkuk mie ayam.
"Hmmm …." Jawab Arya, tidak peduli dengan omongan Clay.
"Aku baru kalau dia hilang, diculik." Arya tersedak, Clay dengan sigap memberi segelas minuman yang ada di atas meja.
"Yang nyulik dia rugi Clay." Respon Arya.
"Serius Arya, aku baru tahu dari adiknya." Raut wajah Clay tampak serius.
"Dasar bod*h, mungkin sekarang sudah jadi tulang belulang." Batin Arya, yang sudah tidak nafsu lagi dengan makanannya tapi sayang masih tinggal setengah.
"Arya …." Panggil Clay lagi sambil menepuk bahu Arya.
"Ternyata Mario ketua komunitas mobil modifikasi Morpheus.K." Arya tersedak dua kali.
"Serius Clay." Jawab Arya seakan tidak tahu.
__ADS_1
Cpat semakin semangat untuk cerita "Iya Arya, ku kira komunitas mobil aja."
"Sumpah ini ada b*go, bukan polos lagi." Batin Arya sangat ingin menyudahi perbincangan dengan Clay.
Clay sudah bisa menebak, jika Arya mencari ancang ancang hendak meninggalkan dirinya. Buru-buru memegang tangannya, "Udah tau triknya weeeeekkkkk …." Clay merasa puas sambil tertawa " Hahahaha Arya sudah cukup ninggalin aku sendirian."
"Kamu lagi gak ada masalah kan Clay?" Tanya Arya dengan nada pelan.
"Enggak ada." Jawab Clay muka polos.
"Tuh dicariin Dosen." Arya menunjuk arah samping Clay, sontak Clay melepaskan tangan Arya dan Arya dengan cepat berhasil kabur.
"Aryaaaaaaaa …." Teriak Clay
---
Kabar hilangnya Robert sudah sampai pada telinga Jamie. Sniper tidak ada kaitannya dengan hilangnya Robert. Tidak ada yang berani bertindak jika Jamie tidak menyuruh.
Jamie tidak memiliki gairah untuk mengurusi hilangnya Robert, pikiran dan perasaannya dipenuhi sosok Tania.
Sang kekasih tidak ada kabar, Jamie sudah mencoba mencari di perusahaan. Helen mengatakan jika Tania tidak datang ke kantor.
Rumah Tania yang mewah begitu sepi bagai tak berpenghuni.
Menyuruh bawahannya untuk mencari Tania, bukanlah seorang Jamie. Tugas mereka hanya tentang kerja, bukan ikut campur dengan permasalahan kekasihnya.
Jamie menghabiskan beberapa botol wine, tidak menyangka jika Arika sudah datang dan duduk di kursi mini bar sampingnya.
Arika mengambil botol wine yang masih tersisa setengah, menuangkan pada gelas kosong. Jamie tidak menghentikan, tubuhnya yang sudah sempoyongan tidak mampu lagi mencegah. Hanya mampu melihat keponakan kesayangannya meneguk berulang kali minuman yang sama dengan dirinya minum.
Arika dan Jamie duduk saling berdiam, menikmati dunianya sendiri. Pikirannya saling melayang buana, tidak ada niatan untuk bercerita atau saling bertanya.
Begitu hening, cinta selalu menjadi persoalan yang tidak mudah.
Seperti halnya n*rkotika terlalu lama bikin candu, terlalu banyak overdosis.
Rasa sakit, rindu, cinta mengaduk menjadi satu dalam ruang bernama hati.
Arika dan Jamie terjebak oleh rasa bernama cinta.
---
Terdengar suara meraung meminta pertolongan. Empat orang menyekap Robert dalam kamar tak bercelah. Robert tidak tahu berada dimana, penculikan yang dialami dirinya bagai penculikan anak kecil.
Memastikan kamar aman, orang berempat itu keluar ruangan. Membiarkan Robert beradaptasi ruangan baru.
Kasur, lemari, kamar mandi dan lemari pendingin berisi penuh makanan dan minuman.
"Penculikan spesial." Beberapa jam sebelum penutup matanya dibuka, Robert histeris meminta tolong.
__ADS_1
Tidak ada yang mendengar, bangunan itu kosong tidak ada orang yang berani mendekati. Satu kamar khusus dibersihkan oleh seseorang khusus untuk Robert.
Bersambung ….