Love Vs Blood

Love Vs Blood
45. Love vs Blood


__ADS_3

Lorong gelap senyap, bau anyir dirasakan. Hanya cahaya dari senter ponsel sebagai bantuan untuk menelusuri anak tangga menuju ruangan semakin gelap.


Rasa penasaran lebih besar dari rasa takut yang dirasakan oleh Tania, sejak menemukan pintu rahasia di balik rak buku yang ada di kamar Jamie.


Sebuah warna buku yang berbeda dari deretan warna buku yang lain, membuat Tania memecahkan masalah.


Langka kaki telanjang perlahan menyusuri ruang pengap dan penuh misteri. Tania melihat beberapa senjata laras panjang di setiap sudut dinding. Tidak ada waktu untuk mengecek keaslian dari senjata. Yang Tania pikirkan harus bisa menemukan bukti - bukti untuk diserahkan pada Putra dan Nando.


Dengan cekatan Tania meninggalkan tancapan cctv yang sengaja dibawanya dari rumah.


Jarum kamera cctv yang dirinya dapat dari Arya, saat melakukan penyelidikan Mr. Angkasa.


Mata Tania menatap ke penjuru ruang, dari kejauhan tampak terlihat samar meja dan kursi usang seperti sudah puluhan tahun menjadi penghuni ruang gelap. Tania mempercepat langkahnya, menelisik berharap menemukan sesuatu disana.


Napasnya tersengal, tubuhnya semakin gemetaran ketika arah pandangnya menemukan tiga tengkorak dengan posisi duduk tidak jauh dari meja yang dirinya datangi.


"Tania rileks." Ucapnya pada diri sendiri, kedua tangan Tania memukul pelan berulang - ulang pada pipinya.


Berharap dirinya tidak pingsan, tidak ingin ditemukan di ruang gelap benar-benar penuh misteri seperti dugaan.


Tania dengan cepat mencari berkas - berkas yang tersimpan di laci meja usang. Dua buku tebal ditemukan, satu berwarna usang dan satunya masih tampak rapi. Tania buru-buru keluar setelah mendengar pelan suara rintihan. Dirinya gelagapan menancapkan satu lagi jarum kamera cctv.


Tania terus berlari sebelum dirinya ketahuan oleh penghuni ruangan. Keringatnya bercucuran, secepatnya mengembalikan rak seperti semula.


Tania tidak peduli lagi, lari menuju mobil yang sudah menunggunya di keluar.


Napas tersengal menaiki mobil secepatnya untuk menyimpan buku yang sudah ditemukan.


"Hassttt … haruskah ketinggalan?" Comelnya disaat menyadari kunci mobil dirinya taruh di atas nakas kamar Jamie.


"Huft …." Helaan napas antara takut dan pasrah dirinya lakukan, kembali melangkah menuju rumah Jamie untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal.


Rumah begitu sepi, langkah kaki Tania perlahan dengan pandangan kesana kemari, menatap setiap sudut penjuru ruang.


Rumah yang tidak begitu besar, sepi, kelam, bau anyir seakan masih tercium melekat di indra penciuman.


Pesona kolam memberikan sedikit tenang, Tania menyelidik, di bawah kolam dengan air yang berwarna bening terdapat kegelapan yang mengerikan, lantas tengkorak siapakah gerangan?


Tania memberanikan diri mencelupkan kaki pada air kolam, membasuh sedikit kotor pada telapak kaki. Merasakan sedikit sejuk dan tenang, Tania kembali merebahkan diri di samping Jamie yang masih terlelap.


Tania memutuskan untuk tetap tinggal, agar tidak ada kecurigaan.

__ADS_1


---


"Tania belum juga keluar." Ucap Arya pada si kembar.


"Apa perlu kita kesana?" Tanya Riki yang lebih gesit dari Raka.


"Tidak perlu, kita tunggu sampai seharian. Jika tidak ada kabar, biar Nando yang mengatasi." Tutur Arya.


Jam sudah siang, mereka masih memantau, menjalankan tugas dan saling memberi informasi.


Tidak berangsur lama Arya terkejut adanya dua notifikasi masuk. Dua kode dari kamera cctvnya terpantau mereka ruang gelap.


"Tania?" Tanyanya keheranan, karena hanya Tania yang membawa jarum cctv lebih banyak.


Hanya ruangan sunyi yang terekam, Tania menempatkan ngasal tanpa mengarahkan pada bagian yang harus Arya lihat, terutama bagian yang memperlihatkan tiga tengkorak.


"Itu dimana? Bukanya Tania sedang di rumah Jamie." Raka yang duduk di samping Arya ikut melihat jelas layar monitor.


"Ini kamera yang dibawa Tania …. " Ucap Arya menunjuk monitor, meyakinkan.


"Kita tunggu saja dulu apa yang terjadi setelahnya, kita tunggu kabar dari Tania." Riki menyahut.


Sedangkan di monitor lain notifikasi masuk dari Reza 'Helen dan Anjas pergi ke Madrid bukan Mexico.  Mexico hanya untuk mengelabui. Pemerintahan telah ikut campur, jangan percaya siapapun!'


"Kita biji ketumbar melawan monster." Ucap Riki.


"Gak ada yang gak mungkin, semua bukti sudah dikantongi Kak Putra dan Kak Nando, jika kita sulit untuk mengungkapkan masih ada satu cara." Raka mengingatkan satu sosok yang belum masuk dalam tim.


"Siapa?" Tanya Riki.


Tak butuh jawaban saling melihat dan menunjuk anggota lain dalam bingkai foto.


"Good idea!" Arya mengindahkan ide Raka.


"Kita pantau, kita kerja sama, bukannya orang tua Clay juga ikut masuk lubang buaya?" Raka mulai membahas yang sedang ramai.


"Demi sang gebetan, Clay rela mengadu ke orang tuanya." Canda Raka.


"Siapa kekasihnya?" Arya bertanya dengan muka polos.


"Udahlah Ar, terima saja. Gak peka banget jadi laki-laki. Jangan menatap layar terus." Raka kembali menggoda.

__ADS_1


"Yang kalian maksud gebetan Clay itu aku?" Tunjuk Arya pada dirinya sendiri.


Raka dan Riki mengangguk.


"Iya,b*doh!" Seru Riki.


"Mana ada …. " Arya menyembunyikan raut wajah yang mulai memerah.


---


"Rafael menunjuk kamu untuk kasus narkotika yang sedang ramai …. "seorang pimpinan mengajak temu Putra dalam ruang pribadinya.


Putra masih terdiam, melihat gelagat pimpinannya seperti ada yang ingin disampaikan.


"Jangan gegabah, ini bukan kasus kecil. Pikirkan juga dirimu sendiri." Lanjutnya seperti dugaan Putra.


"Maksud anda, saya harus memenangkan atau … justru anda ingin saya kalah?" Putra tidak punya rasa takut


Kegetiran hidup yang seperti apalagi yang belum dirasakan? Bahkan bertaruh nyawa pun Putra sudah sangat siap.


Kehilangan kedua orang tuanya dan sahabatnya sudah cukup memporak poranda kehidupannya.


"Jangan khawatir! saya tidak akan membawa anda dalam kasus ini." Ucap Putra, sudah tahu kemana akhirnya.


"Kasus ini lebih besar dari dugaan dan Rafael terlalu gegabah. Apa kamu siap melawan mereka?"


"Apa anda meremehkan saya? Bukannya ada salah salah satu orang yang menyuruh untuk menutup kasus kematian bocah?" Suara Putra yang dengan nada tinggi semakin mengecil dan menekan.


"Jangan pernah halangi saya untuk tetap maju! Jika tidak, bukan hanya nama anda yang ikut terseret tapi semua firma yang ikut campur untuk menutupi kasus!" Putra tidak bisa lagi menahan.


"Kamu mengan …. "


"Tidak, ini bukan ancaman tapi peringatan!" Putra kembali menekankan suaranya.


Berdiri dari duduknya, segera pergi dari ruangan.


Tidak ada yang pernah adil, bahkan hukum pun bisa dibeli. Tidak ada yang pernah adil, jika keadilan sudah dirampas oleh uang.


Putra dan tim bergegas untuk bertemu Nando. Kepolisian yang bertugas menyelidiki kasus narkotika.


Bukan butuh pahlawan, mereka butuh berjabat tangan untuk mengambil alih keadilan yang dirampas oleh kekuasaan.

__ADS_1


Mobil hitam melesat pergi meninggalkan gedung firma yang membawanya untuk bekerja sama. Nyatanya, mereka juga orang-orang bertopeng pahlawan demi kekuasaan.


Bersambung ….


__ADS_2