Love Vs Blood

Love Vs Blood
35.Love vs Blood


__ADS_3

"WHAT??? HELEN ASISTENKU?" Tania masih tidak percaya dengan penjelasan Nando dan Arya.


Tubuhnya lemas hampir pingsan, dengan gerakan cepat Nando menahan tubuh Tania.


"Tan, tahan. Kita akan cari tau apa maksud dia mendekati kamu." Ujar Arya


Bukan lagi sebuah pengkhianatan, bagai balasan dari perbuatan yang belum dirinya lakukan.


Dari Anjas yang memporak porandakan usahanya, kini tidak ada lagi menu vvip untuk pelanggan istimewa.


Pergerakan Anjas mundur, membuat Sonic maju mendekati Helen.


"Jangan berpikiran untuk memecat dia. Tunggu sampai kita menemukan semuanya." Pesan Nando.


Tatapan mata Tania nanar, berdiri melawan trauma demi untuk mendapatkan keadilan itu tidaklah muda.


"Aku serahkan pada kalian, aku siap melakukan apapun jika kalian butuh aku. Meskipun aku harus masuk ke mulut singa, aku akan melakukan." Ucap Tania, tak ingin ngentar. Sudah berjalan terlalu jauh, bukan waktunya untuk menyerah atau bahkan berhenti.


"Aku cuma ingin satu, kamu harus bisa masuk ke rumah Jamie. Disana kita akan menemukan jawabannya." Tania menoleh pada Arya.


"Semuanya mengarah ke Jamie," Nando melanjutkan.


"Kita sudah mengantongi semua identitas, hanya saja kita butuh jawaban apa yang tersimpan di rumah Jamie. Polisi tidak bisa menggeledah. Jamie tidak bisa mereka kalahkan. Bahkan mereka bisa berpaling dan tunduk pada Jamie." Ucapan Nando membuat Tania berpikir.


Kesempatan emas bagi Tania untuk masuk ke rumah Jamie, melihat sikap Jamie memperlakukan dirinya membuat Tania berpikir akan lebih muda untuk membuka pintu rumah Jamie untuk dirinya.


---


Mario masih dengan keadaan yang sama. Tubuhnya meringkuk tidur di lantai penuh aroma anyir.


Sudah beberapa bulan menjadi penghuni ruangan gelap. Jika bisa memilih dirinya lebih baik mati daripada harus menunggu perlahan waktu siksaan itu datang.


Air es kembali dirasakan tersiram di sekujur tubuhnya. Setiap itu terjadi Mario merasa waktunya yang ditunggu secepatnya akan datang.


Air es bagai membius kesakitan, tubuhnya kaku, kedinginan. Terdengar benda berat jatuh ke lantai. Tubuh Mario makin kaku, dan mulai ketakutan.


Tidak terdengar suara manusia, mulut Mario yang terbungkam ingin rasanya berteriak.

__ADS_1


Jamie berdiri tidak jauh dari Mario. Langkah kakinya tidak terdengar.


Suara hantaman benda tumpul kembali dilakukan untuk memberi kode pada Mario, jika ada orang yang datang.


"Jamie apa itu kau?" Batin Mario


Mario tidak berani berontak, tubuhnya tetap diam masih menahan dingin.


Suara cambuk kembali terdengar seperti beberapa hari yang lalu. Suara cambuk kali ini begitu keras terdengar, tidak seperti waktu itu yang samar-samar.


Mario bersusah payah menelan salivanya. Membayangkan tubuhnya terkena c*mbuk saja sudah tidak kuasa, meskipun otaknya sudah tidak berdaya menginginkan kem*tian datang pada dirinya.


"Tenang, aku tidak akan secepat itu memusnahkan mu, akan aku carikan teman biar kau tidak sendirian." Akhirnya Jamie mengeluarkan suara.


Tubuhnya mulai berontak. Matanya yang tertutup sangat ingin melihat Jamie dihadapannya. Mario juga ingin mengetahui dimana dirinya sekarang berada.


"Tenang, tidak akan lama orang itu berada disini. Kalian sudah mengkhianati, tak ada ampun. Bahkan nyawa kalian tidak berarti lagi." Jamie mendekat mencengkr*m kencang dagu Mario.


Andai bisa, Mario sudah melud*hi wajah Jamie, tidak peduli akan balasan yang akan diterimanya.


Jamie lah sudah banyak membantu Mario, Jamie tidak segan membantu Mario keluar dari rumah orang tuanya yang selalu ribut dengan perselingkuhan. Meskipun mereka punya kekuasaan, tidak akan serius untuk mencari anak laki-lakinya. Perhatian hanya diberikan pada anak gadisnya.


Penutup mata basah atas kecerobohan yang telah dilakukan.


---


Semilir angin malam membuat rambut Arika sesekali berterbangan. Putra mengajak menuju rooftop apartemen untuk mencari udara segar. Keluar, bukan waktu yang tepat untuk mengajak Arika.


"Kita mau ngapain?" Tanya Arika.


Putra menatap sekeliling, matanya mencari sesuatu. Di pojok rooftop ada meja tampak terlihat dua raket badminton disana.


"Kita main badminton." Putra segera berlari untuk mengambil dua raket dan shuttlecock.


"Aku gak bisa main badminton." Ucap Arika, tubuhnya terbungkus hoodie dan celana kain panjang.


"Kita hanya main, bukan tanding." Satu raket diberikan pada Arika.

__ADS_1


Arika dengan terpaksa menerima. Matanya terlihat sembab, begitu ketara.


Putra dan Arika memasang posisi, Putra memulai yang diselingi tawa kecil dari Arika. Kebingungan harus melakukan apa.


---


"Seperti permintaanku, kapan kita ke rumah Jamie?" Tanya Helen yang tidur dipangkuan Sonic.


"Aku tidak bisa, hanya orang-orang pilihan yang bisa masuk kesana. Coba kamu tanya Tania, aku yakin dia juga belum pernah masuk ke rumah Jamie." Sonic menjelaskan, sembari tangannya memainkan rambut-rambut Helen.


"Justru karena Tania tidak bisa, kita harus jadi orang pertama yang bisa masuk ke rumah Jamie. Bukannya kau suruhan dia?" Helen mulai menunjukkan keberanian.


Sejenak tangan Sonic menghentikan aktivitasnya mulai berpikir.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Bukannya dia menyuruhmu dan kamu juga berhak tau situasi disana. Entah dia hanya memanfaatkan kamu atau ada sesuatu yang dia sembunyikan dari kamu," Helen dengan suara lembutnya mencoba mencuci otaknya Sonic.


"Sonic, jangan kau seperti Anjas. Hampir saja nyawa dia melayang, untung saja Tania tidak mengetahui jika dibalik ini semua juga ada kamu. Anjas sudah gak bisa berbuat apapun kan?" Helen melirik wajah Sonic, yang menatap lurus ke depan.


"Sayang, kamu ada aku. Kita hadapi bersama, aku akan terus cari tau tentang apa yang akan dilakukan Tania. Dan kamu juga harus bergerak untuk lebih dekat dengan Jamie. Bukannya kamu aparat yang harus ditakuti." Helen mengangkat kepalanya, mencium singkat dagu Sonic.


Membuat Sonic terkejut, menatap wajah Helen yang tersenyum tipis.


"Semua yang kamu katakan ada benarnya, dia harusnya takut sama aku. Bukan aku yang takut sama dia." Ujar Sonic.


Dalam hati Helen tertawa riang "Bagaimana bisa aparat belagu seperti mu ditakuti oleh Jamie." Batin Helen.


"Lakukan tugas kamu sayang, aku akan melakukan tugasku. Kita akan sama-sama mencari tau apa maunya Jamie." Ucap Sonic.


Tangan Sonic perlahan turun ke bawah, dari kepala berhenti di atas sebuah gundukan. Sentuhan lembut dirasakan oleh Helen.


"Si kep*rat tetap akan kep*rat." Batin Helen, sudah tidak bisa menolak. Permainan sudah berjalan, Helen harus melanjutkan hingga finish. Entah siapa yang akan menang atau kalah?, Entah siapa yang akan terpengg*l? Atau bertahan melanjutkan hidup untuk melakukan misi.


Dimanfaatkan atau memanfaatkan.


Jari jemari Sonic bermain dengan lembut. Helen berusaha menahan kewalahan. Tidak hanya Tania, mulut Helen bisa mengerang tetapi hatinya tidak henti mengumpat sumpah serapah.


"Brengs*k, F*ck tunggu nyawa kau ada di tanganku." Umpat Helen dalam batinnya.

__ADS_1


Bersambung ….


__ADS_2