Love Vs Blood

Love Vs Blood
33.Love vs Blood


__ADS_3

"Maaf Arya semalam gak ikut." Arya duduk di kursi taman belakang, Rio menyesap kopi hitam buatan istrinya.


"Udah dibilang jangan kerja, Ayah bukan memanjakan tapi supaya kamu fokus kuliah. Kamu hampir gak pernah pulang, sampai Mama kamu udah gak peduli mau pulang apa nggak." Tutur Rio


"Tapi Arya gak bisa pa, Arya juga kuliah masih aman-aman aja." Arya tipe yang gak bisa dibilangin menyahut.


Rio menatap anaknya berucap "Kenapa kamu gak pernah nurutin omongan orang tua?" 


"Arya punya pilihan, tidak ingin terus-menerus harus mengikuti kemauan kalian bukan?" Jawaban Arya mendapat bentakkan dari Rio.


"ARYA ….!"


Arya tidak ingin berkelanjutan, mencoba pergi menghindar "Mau kemana kamu?" Tanya Rio.


"Ke kamar." Jawab Arya.


"Ayah pindah tugas, kemarin mengajak kamu makan bareng ingin menyampaikan perihal ini. Ayah pindah tugas ke Jepang, kebetulan jadi ayah sekalian aja Bunda kamu. Disana ada Bude Ina sama Ayah Irwan." Tutur Rio.


"Gak masalah, Arya udah gede. Arya disini aja." Jawaban Arya membuat Rio sedih, anak satu - satunya berharap bisa diboyong juga.


"Ok kalau itu pilihan kamu." Balas Rio,


Ani sudah capek dengan perdebatan mereka. Ani lebih baik diam, menunggu keras kepalanya mereka yang tidak bisa diatur.


Arya masuk kamar, merebahkan tubuhnya. Tidak mungkin dirinya mengatakan pekerjaan sebenarnya yang sedang dirinya geluti.


Dirinya menyadari jika jawabannya membuat Ayahnya sakit hati.


Pekerjaan Arya yang harus siap sedia dengan laporan masuk dan dikerjakan secepatnya. Bagaimana bisa ikut pindah, hanya satu alasan jika dirinya juga dipindah tugaskan untuk menyusup jadi agen mata-mata.


Arya menjitak kepalanya sendiri, bagaimana bisa berpikir jauh. Arya memutuskan untuk mandi sebelum pergi lagi untuk menuju markas.


Sepeninggalannya ponsel Arya berdering, notifikasi email hingga telepon darurat tidak sempat dirinya jawab. Gemericik suara air mengalir membasahi kepalanya.


Nando 'Cepat, kau kemana? Angkat!!!!' 


Salah satu pesan terakhir yang masuk.


---


"Tania tidak pernah seperti ini, sekalipun hal kecil pasti dibicarakan ke aku." Helen bercerita pada Sonic.


Polisi yang tidak tahu diri.


"Sudahlah biarkan dia, gak usah datang ke kantor jika dia tidak butuh." Jawab Sonic, memainkan korek api.


"Sonic, mengertilah! Tania baik sama aku, dia selalu ngebantu aku." Helen mencoba menjelaskan.


"Ingat! seseorang kepunyaan Jamie, tidak ada yang baik. Hanya kau begitu polos dan terlalu baik sama dia." Tutur Sonic, duduk menyilangkan kaki di atas sofa warna ungu.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan dari Tania?" Tanya Helen pada Sonic.


Sonic berdiri, bagai mendapatkan jackpot.


"Serahkan dia padaku!" Ucapnya tepat didepan wajah Helen.


"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Helen tiada rasa takut.

__ADS_1


"Dia penghalang Jamie, Jamie tidak akan bertindak lebih jauh jika perasaannya masih berurusan sama dia." Tutur Sonic pada akhirnya.


"Kerjasama apa yang sedang kau Lakukan bersama dia?" Helen bertanya lagi.


"Bukannya kau mengincar Tania karena Anjas yang nyuruh?"


Sonic tertawa begitu keras,


"Anjas?" Tanya Sonic,


Helen mengangguk.


"Laki-laki letoy itu hanya pesuruh yang tidak bisa diandalkan." Ujar Jamie.


Tangan Jamie mulai meraba pipi Helen, mengelus lembut.


"Hanya kau yang aku punya sayang, kau yang tau maunya aku sayang, kau segalanya." Omong kosong keluar dari mulut Sonic.


"Its ok, aku akan bantu tetapi ada satu syarat." Ucap Helen, kemudian membisikkan satu kalimat di telinga Sonic, yang langsung dijawab tanpa pikir panjang "Impossible."


---


Jamie tidak langsung membawa Tania ke kantornya, melainkan membawa Tania ke suatu tempat yang sangat tidak bisa Tania bayangkan.


Di depan pusara Jamie menunduk, bagai memberikan penghormatan kepada seseorang.


Batu nisan bertuliskan nama Catherine Laurent. Taman ilalang tidak jauh dari satu makam yang usang. Makam sendirian tak berkawan, bagai disembunyikan.


"Ini kuburan my Mom. Namanya Catherine." Jamie memberitahu.


Tania yang berdiri tidak jauh dari Jamie, hanya diam.


"Tidak inginkan menyambut Mamaku?"  Tanya Jamie pada Tania.


Tania mengerutkan dahi, berpikir "Apakah harus?" batinnya.


"Mom, dia Tania. Wanitanya Jamie." Ucapan yang keluar dari mulut Jamie membuat sekujur tubuh Tania mendesir.


Tania kesulitan menelan salivanya, bagaimana bisa musuhnya memperlakukan dirinya seperti ini? Bagaimana bisa Jamie menunjukan betapa berartinya dirinya dengan cara mengenalkan kepada orang yang sudah terk*bur?


Tania ingin sekali mengumpat dan mengasihani dirinya pada waktu yang sama.


"Sa …. Lam ke …. nal Tan ….te." Tania mendadak g*guk. Suaranya gemetaran terbata-bata.


Tangan Jamie meraih tangan Tania untuk mendekat. Tania melangkahkan kaki menuruti.


Jamie menggenggam erat tangan Tania.


"My Mom m*ti karena dibun*h." Tania semakin tidak menyangka jika Jamie menceritakan privasinya kepada dirinya.


"Oh God." Batin Tania berulang kali.


"Dan aku gak ingin kehilangan kamu. Aku gak akan pernah mau kehilangan kamu, Tania." Tubuh Tania semakin gemeteran. Mulut Tania mendadak bungkam.


"Jangan pernah pergi lagi, maafkan aku jika menyakitimu."


"F*ck." Batin Tania.

__ADS_1


Seorang Jamie, Bandar barang haram, mafia kelas kakap mengucapkan omong kosong yang bikin tubuh Tania merasa tidak karuan.


Tania tidak mampu menjawab, bahkan mengangguk saja kesulitan.


"Aku tidak pernah membawa perempuan siapapun kesini." Ucap Jamie yang semakin cerewet.


Tubuh Tania merasakan panas dingin.


"Sial*n." Lagi-lagi dalam hati Tania membatin.


"Mengertilah Tania." Jamie mencium punggung tangannya, mungkin merasakan ketegangan dari diamnya Tania.


Tania tidak berhenti menatap batu nisan itu. Nama yang tertulis perlu dirinya ingat. Jamie tidak mungkin melakukan kebohongan jika sudah menyangkut orang tuanya.


"Tania …." Panggil Jamie,


Tania menoleh,


"Are you ok?" Tanya Jamie,


Tania hanya mengangguk, sebagai bentuk jawaban.


---


Tanpa memberitahukan ke Morpheus,K, Raka dan Riki turun jalan. Menyelesaikan masalahnya tanpa harus mengadu pada anggota.


Dua mobil sudah terparkir begitu gagah. Raka dan Riki hanya berdua, sedangkan Z'Cross membawa pasukan.


Si kembar tidak punya rasa takut, jika pun terdengar ke anggota, si kembar sudah tidak peduli. Apalagi berita ini terdengar pada Mario, tidak mungkin..


Si kembar yakin jika Mario sudah lenyap.


Tidak ada persiapan, Mereka curang dengan menyewa pembalap handal untuk menggantikan.


"Brengs*k." Umpat Riki yang sudah siap duduk di kursi mobil.


Ketua Z'Cross melayangkan jari tengahnya dari kejauhan.


Raka hanya bisa menahan untuk diam. Jika tidak, nyawanya akan lenyap oleh segerombolan anggota mereka yang berjejer di seberang jalan untuk menyaksikan siapa yang akan menang.


Bukan taruhan, tetapi mereka ingin melihat Riki dikalahkan. Yang mereka ketahui, Pengusaha muda Raka dan Riki tidak tertandingi.


Sayangnya mereka memilih Morpheus.K daripada Z'Cross.


Hitungan akan segera dimulai, seorang perempuan hanya menggunakan bik*ni berdiri membawa kain kecil berwarna merah.


Hitungan di mulai,


One


Two


Dooorrr ….


Semua lari menyelamatkan diri.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2