Love Vs Blood

Love Vs Blood
36.Love vs Blood


__ADS_3

Robert terpantau mulai bosan di dalam kamar. Berjalan mondar-mandir memikirkan sesuatu. Robert tidak mengetahui jika di tempatnya terdapat cctv yang memantau setiap pergerakannya.


"Ini dimana sih? Kalau mereka menculik aku, kenapa kasih fasilitas? Kenapa gak dihajar? Apa ini ulah Sonic? Apa ada yang jahil?" Robert tak henti-hentinya bertanya-tanya.


"Terus diculik permasalahan apa? Apa yang udah aku lakuin?"


Suara Robert terdengar oleh Raka yang sedang membuka ponsel memantau dirinya.


"Sial*n, emang yang bener dia dibebasin. Gak ada faedahnya nyulik dia. Yang diculik gak tau diri, yang nyulik gabut." Raka ngomel-ngomel sendiri.


Sudah berminggu-minggu berjalan seperti biasa, menikmati waktu dengan cerita yang berbeda-beda.


"Udah bosen, hubungi Arya gih!" Pinta Raka yang dimana ada si Raka pasti ada Riki, begitu sebaliknya.


Karena itu Bagas, sang sulung mengajarkan hal berbeda kepada sang adik supaya bisa saling melengkapi.


"Oke." Riki mengindahkan.


Bahkan sudah berminggu-minggu komunitas juga hening tidak ada pergerakkan.


Mario yang kasusnya ditutup, apalagi Robert yang tidak memiliki kekuasaan. Nyawanya tidak memiliki arti bagi mereka yang berkuasa.


Dibalik telepon Nando memerinta.


"Lepaskan! biar dia jadi umpan untuk orang-orang yang masih bersembunyi di sarang." Nando juga menyadari percuma menyembunyikan Robert, sama saja membantu mereka menghilangkan satu bukti kebenaran.


Riki segera mengutus penjaga untuk diam-diam membuka kunci pintu kamar disaat Robert tertidur dan lekas pergi dari gedung tak berpenghuni.


---


Sebuah meeting besar-besaran tiba-tiba diadakan. Para pengusaha pemegang saham, tidak ada takut meskipun Jamie turut hadir untuk pembahasan.


Papa Clay bagai pahlawan, menuturkan kepada para pengusaha untuk memperhatikan kecurangan yang dilakukan pegawainya.


"Jangan sampai terulang lagi, masalah besar datang dari kebandelan anak-anak kita." Beberapa nama tak segan Rafael menyebutkan nama-nama anak dari komunitas mobil yang terpantau memakai barang haram.


Jamie tersenyum smirk, ketika beberapa mata melirik keberadaannya.


Dengan bukti kuat, setelah dilakukan penyelidikan diam-diam, Rafael papa dari Clay melakukan penyidikan.


Tania yang duduk dengan elegan di seberang meja hanya diam memperhatikan dan mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Rafael.


Anjas sudah tidak pernah lagi kelihatan semenjak Tania mengambil alih semua. Anjas hanya bekerja sesuai perintah dan masih sembunyi-sembunyi di ruang kerjanya menikmati barang haram bentuk suntikan. Pasta? Hanya tinggal kenangan.


Tania tidak takut kehilangan tamu vvip, lebih takut jika perusahaannya jatuh tiada arti.

__ADS_1


Karena perusahaan itu akan ada di tangan Bayu.


Tidak ada tanggapan, Jamie memandang lurus. Pembahasan meeting sudah tidak penting. Kini pusat terpenting adalah wanitanya, Tania. Lipstik merah merona menggoda, membuat Jamie terhanyut untuk terus memandangi.


Merasa ada yang memperhatikan, Tania melihat ke arah Jamie, tentu tidak salah lagi.


Tania merapikan rambutnya, Jamie semakin terkesimah dibuatnya.


---


Arika kelimpungan, bak istri yang mempersiapkan sarapan suaminya. Putra mendapatkan kabar jika satu saksi mata ditemukan. Buru-buru ingin cepat pergi ke kantor untuk membuka kasus kematian bocah kecil.


Semalaman mereka berdua bersenang-senang di rooftop. Tempat terbaik untuk Putra mengajak Tania keluar apartemen meski hanya menikmati angin malam.


"Putra, kamu mau makan apa? Di lemari es persediakan habis." Teriakan Arika terdengar oleh Putra yang sedang berganti baju.


"Ah lupa lagi mau belanja,"gerutunya


"Gak usah kopi aja." Putra pun membalas dengan teriakan.


Arika sadar diri, menumpang tidak boleh berpangku tangan.


Mendengar jawaban Putra, Arika segera mengambil satu cangkir berwarna putih.


"Pelan-pelan minumnya." Arika mengingatkan.


"Nanti kalau aku telat pulang, kamu belanja online aja ya." Pesan Putra dan Arika mengangguk.


Hanya beberapa tegukan kopi diminum, Putra lekas pergi.


Berharap secepat kilat dirinya sampai, tidak bisa dibayangkan betapa bahagianya dirinya. Karena satu kasus akan membuka beribu jalan menuju kasus lain.


Sepeninggalan Putra, apartemen kembali sepi. Hari-hari Arika hanya dinikmati sendiri. Dadanya kembali merasakan sesak, Jamie sama sekali tidak mencarinya.


Arika masuk ruangan, menata sofa yang dibuat Putra tidur. Melipat selimut yang digunakan Putra untuk tidur.


Orang lain yang tidak dikenalnya memberikan ruang ternyaman untuk dirinya.


Menelisik menuju ruangan pintu tertutup yang Arika sendiri tidak pernah berani untuk masuk, kini dirinya mencoba membuka. Tumpukan berkas-berkas tertata rapi, buku-buku pun sama.


Rasa penasaran menghantui, langka kaki Tania tergoda untuk mengambil satu buku untuk dibaca.


Perlahan Arika mengambil buku tebal berwarna coklat tua. Dibukanya perlahan, Arika tercengang melihat banyak tulisan nama Kinara disana. Arika perlahan membuka setiap lembaran. Setiap lembaran hanya ada nama Kinara. Tubuh Arika gemetaran, otaknya dihantui satu orang dengan nama yang sama. Keringat dingin bercucuran, perutnya mendadak mual, buku di tangannya jatuh ke lantai begitupun tubuhnya.


Mulut Arika terkunci, perasaan tidak karuan dan pikiran juga berantakan. Tubuh Arika semakin lemah. Tertatih mengapai buku untuk dikembalikan lagi di rak bersama buku-buku lain.

__ADS_1


Arika menahan tubuhnya keluar dari ruangan untuk kembali ke kamar. Arika meringkuk ketakutan, nangis gemeteran. Tidak disangka lelaki yang ditemuinya di Bandara, sama saja seperti musuhnya yang lain.


---


"Cpat, apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Arya pada Clay yang sedang berkemas.


"Clay, mereka cerita kalau kamu ikut campur gagalin taruhan mereka its ok. Itu hak kamu untuk tanggung jawab, dari itu aku gak tanya ke kamu." Arya setengah membungkuk berucap pada Clay, apa maksud dari mengadakan penyelidikan dadakan pada komunitas mobil?


"Lalu, kamu tanya tentang apa?" Jawab Clay enteng.


"Komunitas mobil." Ucap Arya langsung.


"Kamu kan bukan anggota kenapa takut?" Clay masih merespon dengan enteng.


"Kamu tau kan asal kenapa menjadi seperti ini? kalau aku gak ikut campur kamu diganggu dia, gak akan sejauh ini Clay. Mereka pasti mencari aku." Tutur Arya.


"Terus kamu takut?" Clay menatap wajah Arya.


"Percuma ngejelasin …. Gak akan ngerti." Tutur Arya lelah, yang tahu ujungnya akan kemana.


Cpat pasti akan mengatakan dirinya peng*cut, pecund*ng yang berujung menjurus ke kejadian di dapur.


Mengalah, Arya pergi. Baru beberapa langka Clay berteriak, sampai kapan kamu jadi pecund*ng?


"Sama aja." Batin Arya


Arya berhenti, mencoba mendengarkan lagi perkataan apa yang akan keluar dari mulut Clay.


Kelas kosong, hanya tinggal mereka berdua. Sengaja Arya meminta Clay untuk tetap tinggal setelah waktu presentasi selesai.


"Aku ngelakuin ini buat kamu, biar mereka dipenjara." Kalimat yang keluar dari mulut Clay membuat Arya berbalik badan.


Menatap Clay bingung,


"Kamu tau apa soal mereka?" Arya bertanya dengan nada suara lirih.


"Mereka ganggu aku itu karena kamu, kamu dikira pacar aku dan …. " Clay mengatur napasnya.


"Dia tau kamu saudara si kembar, aku disuruh deketin kamu buat masukin kamu ke komunitas dia. Untuk menghasut kamu supaya jadi bandar dia." Clay tidak kuasa,


"Aku gak mau Arya, aku gak mau kamu kenal mereka. Bahkan pak Security rumah juga cerita kalau kamu dikejar mereka."


Arya diam, tidak ingin mendengar lagi lebih lanjut. Terlalu pecund*ng bukan?


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2