
"Jadi selama ini bukan abang yang menculik aku?" Robert tercengang ketika mengetahui bukan Sonic yang menculik dirinya.
"Sudah berapa kali aku bilang bod*h!* Sonic sudah menjawab berulang kali.
"Terus siapa?" Robert masih bertanya-tanya.
"Itu yang harus kita cari, kenapa mereka tidak melenyapkan kamu?" Robert mengambil botol minuman, mengajak Robert untuk singgah di rumahnya.
"Lenyap? Kepikiran buat melenyapkan aku? Tanya Robert.
Sonic menengok "Pikir sendiri!" ucapnya.
"Mario sampai detik ini tidak diketahui keberadaannya, tidak ada bukti atau apapun yang dapat dijadikan petunjuk untuk mengetahui keberadaan dia." Ujar Sonic lagi.
"Apa ini ulah Jamie?" Tanya Robert.
"Semua orang berpikir sama, tetapi Jamie tidak menunjukan dia pelakunya." Sonic menghisap rokoknya, asapnya beterbangan.
"Kalau Jamie yang menculik pasti sudah enyah." Pungkas Sonic, perkataannya membuat Robert merinding.
---
"Tidak sesuai rencanaku kak." Tania bercerita pada Putra via telepon.
Setelah memberi makan Arika, dan masih saling diam. Putra duduk di ruang kerja untuk menerima telepon dari Tania.
"Apa yang kamu rencanakan?" Putra penasaran.
"Kakak tidak perlu tau, aku hanya ingin segera menyudahi tetapi dia …. " Tania memotong pembicaraannya sejenak sebelum melanjutkan.
"Dia sepertinya sayang sungguhan ke aku kak, Jamie selama ini membuka akses masuk rumahnya untuk aku. Dia menunggu aku datang sendiri karena sikap aku yang suka menghilang, dia berharap aku bisa datang ke rumah dia jika aku butuh bantuan dia." Tutur Tania dengan suara perlahan.
Teringat kala Jamie memperlakukan bak ratu ketika Tania berada di rumahnya.
Putra berpikir apa itu jebakan atau sungguhan? Semua bisa saja Jamie lakukan.
Terdengar suara rintihan membuat Putra penasaran untuk mengecek di luar ruangan.
Berdiri, berjalan keluar masih dengan telepon menyambung ke Tania. Dilihatnya Arika terjatuh, sontak Putra teriak "Apa yang kamu lakukan?"
Arika tidak menjawab, melainkan Tania dibuat penasaran.
"Siapa? Ada siapa di apartemen kamu?" Tanyanya.
Putra menaruh ponselnya di atas meja, dirinya menghampiri Arika untuk membantu berdiri.
Tubuh Arika lemah dan sempoyongan, membuat dirinya tidak kuat menahan untuk berdiri. Putra dengan sigap menggendong memasukkan ke dalam kamar, merebahkan tubuh Arika di atas ranjang.
"Kamu butuh apa? Biar aku yang ngambil!" Tanya Putra dengan suara lembut.
"Aku ingin minum." Jawab Arika, Putra melihat di atas nakas, sebotol air tidak ada disana.
__ADS_1
"Aku ambilin, kamu istirahat. Jangan keluar kamar!" Pintah Putra, segera keluar lagi untuk mengambil sebotol air mineral.
Putra tidak kunjung mengangkat sambungan teleponnya, membuat Tania menutup sepihak.
---
"Kenapa kamu kesini? Arya bertanya pada Clay.
Kondisi kafe sudah membaik, anak-anak komunitas sudah pergi meninggalkan kafe.
"Ternyata jago juga." Ucap Clay yang tidak memberi jawaban atas pertanyaan Arya.
"Kenapa kesini?" Ulang Arya.
Clay tidak peduli,
"Clay?" Arya memanggil Clay yang mengaduk - aduk minuman di dalam gelas.
"Harusnya kamu peka kenapa aku bisa disini kalau bukan karena khawatir b*doh!" Gumam Clay kesal.
Arya mengernyitkan dahinya.
"Kamu khawatir sama aku?" Tunjuk Arya pada dirinya sendiri.
Clay melirik dengan ekor matanya, rasanya ingin menyiram Arya dengan minumannya.
"Mereka bisa saja melakukan lebih dari itu ke kamu." Ucap Clay.
"Apa yang kamu tahu dari mereka?" Tanya Arya pada Clay.
"Jelaskan! Kalau kamu khawatir sama aku setidaknya kamu tidak menutupi semua yang kamu ketahui." Arya dengan sigap menarik kursi yang Clay duduki dengan menggunakan dua tangannya.
"Arya …." Sontak Clay terkejut.
"Jelaskan!" Perintah Arya yang kini wajahnya berhadapan dengan Clay hanya berjarak sejengkal.
"Mereka … Mereka bukan hanya komunitas mobil tapi …. "Ucapan Clay terpotong karena Arya tidak sabaran.
"Tapi apa?" Tanya Arya.
"Mereka mengkonsumsi barang barang, mabuk, dan … Sudahlah Arya!" Clay menghentikan ucapannya yang terpotong, membuat penasaran.
"Dari kapan kamu tau?"
"Sejak kejadian ulang tahun ku." Lagi dan lagi Arya memahami jika Clay juga menyelidiki karena penasaran atas sikapnya.
"Terus apa yang kamu ketahui lagi?" Arya bertanya mengintimidasi. Tatapan matanya menusuk, Membuat Clay gelagapan.
"Arya sudah! Aku gak mau kamu bermasalah dengan mereka." Clay memberanikan diri menatap wajah Arya.
"Kenapa?" Tanya Arya butuh alasan.
__ADS_1
"Because … i love u." Ucap Clay pada akhirnya. Tidak bisa lagi menahan untuk memendam rasa.
Arya semakin menatap tajam mata Clay. Bibirnya yang penuh dan ada sedikit bercak darah mengering di sela bibirnya diam membisu.
"Gak usah dijawab, gak usah dipedulikan." Clay membuang pandangan.
"Ulangi lagi!" Ucap Arya pada Clay.
"Nggak, percuma juga aku ngomong …. " Lagi-lagi Arya menarik, kini tubuh Clay semakin mendekat dengan tubuh Arya.
Nando yang dari tadi duduk di depan monitor yang mereka mereka berdua menahan senyuman. Begitu manis kelakuan dua anak muda. Bagai nonton film action yang dibumbui romantika, entah ending bahagia atau sebaliknya.
---
Jamie mengumpulkan beberapa anak buah untuk mempersiapkan kebutuhan Tania. Memberikan instruksi jika Tania membutuhkan sesuatu.
Jamie tidak ingin menjadi seorang ayah yang tidak disukai oleh calon bayinya.
"Bersihkan mansion kita, biarkan Tania yang menempati." Ucap Jamie pada seorang lelaki tak memiliki rambut.
"Siap." Jawab Lelaki itu.
"Jangan ada yang berani-berani mendekati dia, biarkan dia, hanya jika dia datang kesini tanpa sepengetahuanku dan kalian mengetahui segera hubungi aku!" Jamie tidak habis-habis memberikan pesan pada sang pesuruh.
Tidak lebih dari 10 orang pilihan yang bisa masuk dan punya akses ke rumahnya, terutama Tania.
Di sebuah markas besar Jamie duduk.
"Tuan, Robert sudah diketahui keberadaannya." Salah seorang pesuruh menyampaikan berita.
"Tidak perlu ikut campur, biarkan dia berkeliaran. Karena … Bukan hanya kita yang mengincar dia." Jamie berpikir untuk tidak bertindak lebih jauh, otaknya penuh memikirkan sang calon bayi. Hatinya begitu bahagia, memikirkan dunianya begitu indah bersama wanita dan calon bayi kedepannya.
"Siap tuan."
Beberapa orang pergi, keluar dari markas yang tersembunyi. Tidak ada orang yang mengetahui.
Markas mewah nan glamor harum aroma lavender. Setiap sudut terdapat replika senjata laras panjang. Dinding berwarna merah marun, kursi dan perlengkapan tidak jauh dari warna hitam pekat dan gold.
Sangat terlihat darah seorang mafia duduk dengan garang diatas singgasana.
---
Di ruangan lain, Tania kebingungan mencari solusi untuk menutupi kebohongan dirinya.
Bagaimana jika Jamie menyuruhnya untuk memeriksakan kandungan?
Bagaimana jika dirinya ketahuan berbohong bahwa sesungguhnya dia tidak hamil?
"Si*lan, semua jadi bumerang." umpatnya.
Tania teringat, melihat tanggal yang ada di ponsel, sudah dua bulan dirinya juga belum mengalami datang bulan.
__ADS_1
"Hal yang biasa, konyol bukan jika aku sekali melakukan terus begitu saja hamil." Tania tidak ambil pusing, meski pikirannya terus mencari jalan keluar untuk yang sudah dirinya lakukan.
Bersambung ….