
"Kasus berita yang lagi viral sama persis dengan kasus kematian Mama." Ucap Tania.
Putra menoleh ke Tania.
"Orang yang sama dan itu Jamie." Jawab Putra langsung tanpa pikir panjang.
"Semua bukti menjurus ke dia, tinggal kita tunggu waktu yang tepat untuk menangkap." Ujar Nando.
Pintu terbuka, tampak Arya baru datang "Sorry telat." Ucapnya yang langsung mengaktifkan semua alat kerjanya.
"Kasus Serly biar kepolisian yang bertindak, kita jangan gegabah." Arya berucap sambil memantau beberapa rekaman.
"Apa yang sudah kamu dapatkan?" Tanya Putra.
"Aku meyakini kasus ini tidak 100% atas perbuatan Jamie sendiri. Aku akan cari tahu, salah satu dari kita apalagi kamu brother," Tunjuk Arya pada Putra
"Jangan pernah ambil kasus ini. Biarkan dulu mereka menang sampai kita mendapatkan bukti kuat untuk menjerumuskan Jamie dan yang lainnya." Pesan Arya begitu dewasa berbicara dihadapan tiga orang yang lebih dewasa umurnya.
"Sorry Tania." Ucap Arya, karena mengetahui semuanya.
Tania menunduk berharap Arya tidak membahas tentang kejadian yang berusaha dirinya lupakan.
"Aku ingin secepatnya Tania bisa masuk ke rumah Jamie!" Pintah Arya, membuat jantung Tania berdetak semakin cepat.
"Kenapa harus Tania?" Tanya Putra.
"Tidak ada pilihan, karena Tania paling dekat dengan Jamie. Dan Jamie terlalu mencintai Tania." Tutur Arya.
"What? Ngerti apa kamu tentang cinta?" Tanya Putra, tidak ingin adiknya menjadi korban sang bajing*an.
"Jangan marah brother! Ini demi mendapatkan bukti yang kuat, dan hanya Tania yang dapat masuk ke rumah dia." Arya menjelaskan.
"Benar juga kata Arya, jika nunggu kau yang masuk kita tidak tahu kapan akan dapat bukti atau bahkan gak dapat sama sekali." Nando ikut mendukung keputusan Arya.
"Kalau terjadi apa-apa dengan Tania, apa yang kalian lakukan?" Tanya Putra, tidak pernah ingin kehilangan satu keluarga yang masih dirinya miliki.
"Tidak akan terjadi apapun dengan Tania, aku jamin itu." Arya berucap yakin.
Tania diam memikirkan keputusan antara mengindahkan atau menolak.
"Gimana Tan?" Tanya Putra pada Tania.
"Iya, aku siap." Jawab Tania lirih namun pasti.
Sudah siap jika harus kehilangan nyawa sekalipun.
"Tiga mobil yang terpantau keluar masuk rumah Jamie," Arya menjelaskan.
"Mereka adalah anak buahnya, identitas sudah aku kantongi tetapi mereka tidak lebih dari anak buah yang tidak bisa dijadikan bukti kuat." Arya melanjutkan.
Notifikasi ponsel Putra berdering cukup nyaring, lupa tidak mengganti ke mode getar.
Dilihatnya nama seseorang yang menelepon
__ADS_1
"Arika." Putra memberitahu kepada semuanya setelah itu Putra menjawab panggilan.
"Ada apa?" Tanya Putra langsung tanpa bertele-tele.
Terdengar suara Arika menangis, sesenggukan hingga tidak mampu berucap.
"Kamu kenapa?" Putra khawatir jika terjadi sesuatu pada Arika.
Tania, Nando dan Arya saling menatap.
"Rileks dulu, tenang, minum oke." Tidak bisa disembunyikan jika Putra begitu khawatir.
Telepon ditutup Arika, berganti Arika mengirim pesan 'Aku butuh kamu', sebuah pesan yang tidak Putra pahami.
"Ada apa dengan dia?" Tanya Tania.
"Dia menangis, dan kirim pesan jika butuh aku." Tutur Putra.
"Tenang Brother, jangan gegabah. Periksa keberadaan dia sekarang." Kembali lagi Arya memerintah sebelum terlambat asal menolong.
"Dia masih di dalam rumah." Jawab Putra.
"Dia hanya terkejut mendengar kabar kematian Serly." Ujar Nando.
Putra hampir lupa dengan kejadian itu.
"Ada yang belum aku sampaikan ke kalian. Arika menyuruhku untuk mencari keberadaan orang tuanya tanpa diketahui oleh Jamie."
"Mungkin dia sudah mulai curiga dengan Jamie." Ujar Nando.
Seperti tugas dari sang atasan, Arya tidak ingin semuanya gagal.
"Jangan datangi Arika! aku bantu pantau dari sini." Pesan Arya lagi.
Juga tidak ada waktu untuk Putra, belum mandi dan sebagainya. Bantuan Arya sangat dibutuhkan, meski khawatir dirasakan.
"Cepat balik, Tania sepertinya tau kamu kesini." Usir Helen pada Sonic yang tiba-tiba datang.
"Bukannya dia beberapa hari gak ke kantor?" Tanya Sonic, seorang kepolisian terasa seperti pengangguran.
"Karyawan ada yang bilang Tania tadi pagi mampir kesini. Aku belum sempat membereskan kekacauan semalam juga. Semua barang berantakan." Keluh Helen yang semalam melakukannya lagi dan lagi di ruang kerjanya bersama Sonic.
"Kamu semakin terlihat sexy kalau marah." Sonic mendekati Helen yang berdiri usai membereskan barang-barang yang berjatuhan.
"Sonic, please!" Helen menolak kecup*an yang dilayangkan Sonic.
Tubuh Helen sudah berada didekap*n Sonic.
"Kamu serius menolak?" Tanya Sonic sedikit kecewa.
"Please!" Mohon Helen, takut jika tiba-tiba Tania datang.
__ADS_1
Sonic tertawa lirih "Kamu takut sama Tania?" Seperti bisa membaca pikiran Helen.
"Tentu, dia atasanku. Bagaimana jika Tania tau aku berbuat lancang seperti ini? Bahkan membocorkan padamu tentang pekerjaan dia." Helen berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Sonic.
Tangan kekar Sonic menahan, sebuah kecup*an mendarat di leher Helen.
"Ah Sonic, Please!" Tidak ingin memancing keributan.
Helen mendorong tubuh Sonic, memahami apa yang diinginkan Sonic. Helen menarik tangan Sonic untuk menuju lift.
Sebuah hasrat terkadang membuat lupa, di dalam lift Helen membuka perlahan kancing bajunya dan Sonic menyerang tanpa aba-aba.
"Kita nyulik dia ada gila-gilanya." Ucap Raka ke Riki yang lagi memantau pergerakan Robert via rekaman cctv.
"Diculik keenakan ya dia." Riki ikut kesal.
Bagaimana tidak, Robert hanya makan tidur,sedangkan mereka mengkhawatirkan nyawanya. Dan Robert tidak tahu jika nyawanya terancam.
Si kembar sedang berada di salah satu bengkel kepunyaannya usai melakukan meeting. Memantau perkembangan usaha yang dirintis bersama, membuat mereka tidak pernah lalai untuk mementingkan pekerjaan.
"Hari ini bunda tidak menghubungi, coba kau telepon." Riki menyuruh Raka.
Komunikasi tetap terjaga meskipun Ayah dan Bundanya sudah pindah tempat tinggal.
Berada di tempat baru membuat kedua orang tuanya lebih tenang, sedikit lupa meskipun rindu selalu terasa.
"Are you oke ayah?" Panggilan video call tersambung.
Tampak Irwan sang Ayah yang mengangkat.
"Ayah baik, hanya bunda lagi istirahat tidak enak badan." Jawab Irwan.
"Pantes bunda kok absen hubungi kita." Ujar Riki.
"Kerjaan gimana nak?" Tanya Irwan.
"Aman yah." Jawabnya lagi.
"Bagaimana project ayah?" Raka ikut bertanya. Terakhir kali Irwan bercerita mendapatkan project besar untuk membuat desain gedung bawah tanah.
"Masih berjalan nak." Jawab Irwan.
"Ayah, setelah project ini selesai tolong istirahat ya. Biar kita yang bekerja, Raka ingin Ayah dan bunda menikmati hidup, berkeliling dunia jika perlu." Tutur Raka,
Sebuah impian dari sang kakak, yang harus dilanjutkan oleh dirinya. Bagaimanapun Bagas kakak terhebat dan terbaik bagi mereka.
"Ayah senang bekerja, jika tidak bekerja, ayah bosan." Ujar Irwan dibalik layar telepon.
"Jika ada apapun kabari kita, ayah juga butuh istirahat." Riki berpesan.
"Ayah ingin kalian kuliah, meskipun kalian sudah terkenal sebagai seorang pengusaha tetapi ayah ingin melihat anak ayah jadi sarjana." Ucapan Irwan membuat si kembar saling bertatapan.
__ADS_1
Kemudian keduanya menjawab "Iya."
Bersambung ….