Love Vs Blood

Love Vs Blood
26.Love vs Blood


__ADS_3

Arya tidak akan lagi membuang kesempatan melakukan tugas dengan benar dan tidak akan mengecewakan.


"Tumben udah datang?" Jika boleh Arya ingin sekali membinasakan Clay.


Arya tidak menjawab, beberapa siswa sudah datang siap menunggu dosen untuk mengisi kelas.


Arya duduk di bangku paling belakang dan ujung. Mendengarkan presentasi mereka hal yang membosankan. Waktunya kembali tidur, tidak ada yang berani membangunkan. Bahkan dosen sekalipun, membiarkan Arya semaunya.


Clay kelimpungan hari ini waktunya presentasi dan Clay tidak mengerti apa yang harus disampaikan. Arya yang mengerjakan soal, dirinya yang kewalahan.


Membangunkan Arya akan menjadi permasalahan. "Astaga, aku harus ngapain?" Clay keringat dingin.


Arya mendengar nama Clay dipanggil ke depan saat dosen sudah datang memberi salam.


"Mampus kau." Batin Arya ngeledek Clay.


Clay bingung, menggigit bibir bawahnya.


"Silahkan!" Dosen mempersilakan Clay.


Clay berdiri menghela napas panjang, berdiam cukup lama.


"Clay …." Dosen manggil, memastikan Clay baik-baik saja.


"Iya." Clay gugup.


"Silahkan!" Dosen mempersilakan lagi.


Clay mendengus, para mahasiswa yang ada di kelas beberapa hanya tersenyum dan ada yang tertawa.


Bagaimana bisa Clay berdiri di depan untuk presentasi? sedangkan yang mengerjakan tugasnya sedang tidur di bangku paling belakang.


Arya tidak peduli, biar saja Clay dengan urusannya sendiri. Mendengarkan Clay berbicara terbatah seperti membaca bukan presentasi. Arya dalam hati kecilnya tertawa, Clay bak anak kecil disuruh membaca di depan kelas.


 


"Ada apa?" Nando datang telat.


Putra melirik Tania menanyakan "Kamu kesini mau ketemuan sama Nando?" 


Tania mengangguk.


"Hellen, dia yang mengacaukan semuanya. Dia punya hubungan dengan Sonic," Tania berucap.


"Aku tidak bisa langsung memecat dia, jika aku langsung memecat dia pasti bikin ulah." Tania menjelaskan.


"Dasar rubah." Putra tidak habis pikir dengan rencana yang mereka lakukan. Bahkan mungkin dibalik ini akan ada seseorang yang mempunyai kekuasaan besar menjadi dalang mereka.


"Pura-pura tidak tahu, seperti yang kau lakukan pada Anjas." Pesan Nando.


Dapur restoran sudah diganti dengan chef handal pilihan Tania atas rekomendasi Nando. Para Agen pilihan yang harus berkamuflase.


"Adakah informasi terbaru?" Tanya Putra,


"Aku masih fokus mencari identitas Sniper, aku yakin dia yang membunuh anak kecil itu." Tutur Nando


"Anak kecil yang kasusnya ditangani, sedangkan orang tuanya tiba-tiba menutup?" Putra bertanya meyakinkan apakah benar, sedangkan barang bukti sedikit demi sedikit sudah di kantongi.


"Yes." Jawab Nando.

__ADS_1


"Bangs*t" Umpat Putra.


"Kita tetap harus waspada, meskipun kita sudah tahu bagaimana mereka." Pesan Nando.


 


Arika memberanikan diri ke luar kamar mengendap - ngendap ke bawah untuk mengecek apa yang sudah terjadi. Tidak ada satupun barang berantakan.


Lantai bersih tidak ada yang berceceran. Arika menengok kanan kiri, rumah sepi sunyi.


"Apakah rumah ini berhantu?" Batinnya, bulu kudunya merinding.


"Ada yang bisa dibantu non?" Suara Bi Wati mengejutkan.


Tidak terdengar langkah kaki berjalan, Bi Wati tiba-tiba sudah berdiri di belakang Arika.


"Astaga …." Arika memegangi dadanya refleks.


"Apa bi Wati mendengar kekacauan?" Tanya Arika tanpa basa-basi.


"Saya dari tadi di dapur belakang, tidak mendengar kekacauan apapun." Jawab Bi Wati.


Dapur belakang hanya berjarak lima meter di balik mini bar.


Arika menoleh ke arah pintu menuju dapur belakang. Rasa penasaran ingin mengecek terhalang, Jamie datang dari arah lain dengan setelan lengkap siap berangkat ke kantor.


"Ada apa?" Tanya Jamie pada Arika.


"Enggak," jawab Arika berbohong.


"Uncle ke kantor?" Tanya Arika


"Arika boleh keluar?" Suara Arika terdengar bagai anak kecil meminta izin untuk main.


"Untuk sementara di rumah dulu, jangan keluar. Bi tolong jaga Arika!" Pesan Jamie tanpa pamit langsung berjalan keluar.


Perasaan yang tidak pernah dirasakan oleh Arika. Jamie bukan orang yang dikenali.


"Mau sarapan apa non?" tanya Bi Wati.


Arika yang menatap punggung Jamie sampai hilang dari pandangan menoleh ke arah bi Wati.


"Omelet aja bi, sama air putih." Jawab Arika.


Arika berjalan meninggalkan bi Wati yang sedang menyiapkan sarapan. Arika menuju taman samping, beberapa tanaman dalam pot menghiasi, berjejer rapi di samping rerumputan.


Arika duduk di kursi halaman, pagi ini cukup panas. Seperti keadaan di dalam rumah, diam hening sunyi tersembunyi atmosfer panas yang dirinya belum ketahui.


Bi Wati datang membawa nampan berisi sarapan Arika.


 "Makasih bi." Ucap Arika.


"Sama-sama non." Jawab bi Wati yang tidak langsung pergi, berdiri menunggu Arika.


"Bibi tinggal aja, aku gak papa sendirian." Ujar Arika.


"Non hati-hati ya kalau keluar rumah." Merasa khawatir bi Wati ingin memberitahu keadaan di luar tentang berita Arika.


"Kenapa bi?" Tanya Arika.

__ADS_1


"Tidak jadi non, maaf silahkan makan!" Bi Wati buru-buru pergi.


Arika semakin curiga, membuka ponsel yang tersimpan di saku celananya. Berita viral seorang wanita ditemukan tewas over dosis. Arika terkejut "Serly?" Ucapnya menutup mulut. Omelet yang sudah masuk di mulutnya sangat kesulitan untuk ditelan.


Identitas itu sama persis dengan kartu nama yang diberikan Serly tempo hari.


"Apa ini perbuatan Uncle?" Arika bertanya-tanya.


Menyuruh Putra mencari keberadaan orang tuanya tidak cuma-cuma Arika lakukan. Arika tidak sengaja mendengar nama Jamie disebut orang tak dikenal "Jamie si Bandar."


Tubuh Arika lemas, tidak ingin bi Wati mengetahui kondisinya.


Dengan menangis dan dada sesak Arika menelan menghabiskan sarapan tak tersisa.


---


"Berita terbaru ditemukan seorang wanita meninggal overdosis." Arya membaca judul berita yang didapat dari Nando.


"Anj*nk." Umpat Arya.


Melihat jam, memastikan tidak ada kelas. Arya menuju parkiran untuk mengambil motornya.


"Haaaaasssttt …." Situasi di parkiran membuat Arya tidak bisa cuek untuk tidak ikut campur. Melihat Clay sedang kewalahan digoda seorang lelaki yang diketahui Arya mereka salah satu dari anggota geng mobil Z'Cross.


"Clay …." Panggil Arya teriak.


Clay mendengar, berusaha menghampiri Arya namun dihadang.


"Clay …." Panggil Arya lagi, sebelum ikut campur urusan mereka.


"Arya tolong!" Teriak Clay dari jarak cukup jauh dari Arya berada yang sudah duduk diatas jok motor.


Helm Arya yang akan dipakainya, ditaruh lagi. Arya turun berjalan perlahan semakin dekat dengan lawan Arya menendang.


Brruuuukk ….


Lelaki yang dikenal bernama Eros tersungkur.


Tidak ada perkataan, Arya menarik tangan Clay meninggalkan Eros yang mengumpat.


"Mau kemana?" Tanya Arya.


"Pulang." Jawab Clay raut wajahnya tampak ketakutan.


"Naik, ku antar." Arya menawarkan diri.


Clay langsung naik, mengindahkan tawaran Arya.


"Sorry, cuma bawa helm satu." Ucap Arya.


"Iya." Jawab Clay singkat. Kedua tangannya memegangi jaket sisi kanan dan sisi kiri tubuh Arya.


Arya hanya melirik,


"Kalau ada yang ganggu lagi langsung tendang burungnya, jangan kayak tadi." Pesan Arya diatas motor melaju.


Terlihat dari spion motor Clay mengangguk.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2