
"Sorry," Arya canggung
"Gak maksud." Jawabnya lagi
"Anj*nk ini otak kenapa b*go?" Batinnya.
Clay yang masih duduk di atas kesulitan untuk turun.
"Bantu turun dulu!" Teriak Clay, kebiasaan Arya yang mau meninggalkan Clay di dapur sendiri.
Arya berbelok lagi, untuk membantu Clay turun.
"Dasar peng*cut." Umpat Clay pada Arya.
"Gak bermaksud Clay, sorry." Ucap Arya.
"Setidaknya gak langsung ninggalin gobl*k." Clay memukul berulang kali dada Arya. Arya tidak menahan karena memang kesalahanya.
Getaran ponsel kembali dirasakan Arya, untuk kali ini Arya memegang tangan Clay menahan karena harus mengangkat panggilan penting dari Nando.
"Iya, Segera kesana." Jawab Arya,
"Gak bisa gitu dong." Clay menyahuti seperti dugaan, Arya melepaskan memegang tangan Clay berganti membungkam mulut Clay.
"Siapa itu? Kamu dimana?" Tanya Nando dibalik telepon, karena suara Clay cukup keras.
"Rumah teman." Jawab Arya, buru-buru mematikan.
"Astaga abis dicium dianggap teman, kasihan banget aku." Keluh Clay yang sudah terlepas dari bungkaman tangan Arya.
"Clay, pergi dulu ya. Sorry!" Pamit Arya pura-pura tidak mendengar ucapan Clay dan sibuk memeriksa pesan yang masuk.
"MAU KEMANA?" Suara Clay keras dan membentak, tidak terima.
"Pulang Clay, ada urusan." Jawab Arya sambil berjalan.
Tidak aman, Clay menarik jaket Arya.
"Woy …." Teriak Arya.
Dengan kekuatan super Clay mendorong Arya di tembok.
"Mana bisa kamu ninggalin aku lagi." Ujar Clay, menahan Arya dengan tangannya.
"Clay …. Ada apa nak?" Suara itu membuyarkan Clay yang hendak melakukan serangan balik.
"Mama …."
---
__ADS_1
"Aku butuh bantuanmu Putra, karena aku yakin kamu bisa bantu aku. Aku mohon!" Arika nampak kebingungan.
Putra juga melihat jika Arika tidak butuh dirinya, Arika tidak akan pergi untuk mendatangi apartemennya.
"Apa yang ingin kamu tau? apa yang harus aku cari tahu?" Tanya Putra.
"Aku gak bisa tidur jika berada di rumah Uncle, aku selalu mimpi buruk dan tadi pagi aku mendengar kekacauan hebat. Tetapi ketika aku mengecek di bawah tidak ada apapun yang terjadi," Arika menjelaskan, suaranya seketika terdengar sedih.
"Aku takut Serly meninggal karena ulah Uncle." Ucapnya menundukkan kepala.
"What?" Putra pura-pura terkejut,
"Kenapa itu perbuatan Uncle kamu?" Tanya Putra ingin mengalih.
Arika menggigit bibir bawahnya, menghembuskan napas kasar.
"Temanku pernah t*was ditangan Uncle, dan aku disuruh pindah keluar negeri untuk jadi model. Disana aku ikut agency pilihan Uncle. Aku gak bisa gerak sama sekali," suara Arika mulai parau menahan tangis.
"Ku kira menceritakan semuanya ke Uncle aku bisa lega, ternyata salah. Aku menceritakan ke Uncle sama saja aku menabung sebuah dosa besar tapi bagaimanapun Uncle, dia sayang banget sama aku." Penuturan Arika, tidak henti-hentinya membuat Putra mengumpat didalam hatinya.
Ingin rasanya marah dan mengeluarkan semuanya, akan tetapi Putra menahan. Putra menahan amarahnya demi ingin menggali lebih banyak siapa seorang Jamie?
"Minumlah!" Pintah Putra pada Arika.
"Aku harap kamu bisa membantuku, aku takut, aku sendirian disini. Bahkan aku gak tau keberadaan orang tuaku. Aku mohon Putra, teman pun aku juga gak punya. Iya ini salahku, inilah lah hasil dari yang sudah aku tabur saat remaja. Tidak ada namanya bully yang tidak menyakitkan, mereka yang pernah menjadi korban kenakalanku memendam dendam. Dan aku gak tau apa yang sekarang harus ku lakukan." Tangisan Arika pecah.
"Aku salah, aku sangat bersalah dan sekarang aku gak tau harus bagaimana? Tidak ada yang bisa aku percaya dan tidak ada tempat untuk meminta tolong selain kamu Putra." Arika semakin terisak di dekapan Putra.
Disisi lain hati Putra bergetar ingin rasanya membantu, berusaha menepikan bayang-bayang kehilangan sahabatnya karena ulah orang yang sedang di dekapnya.
Putra tidak membenarkan apa yang sudah diperbuat oleh Arika, tetapi Putra juga merasa kasihan kepada seorang perempuan yang membuat hatinya bergetar.
Usai menghembuskan napas kasar, Putra mengatakan "Ya, aku bantu."
Arika mendongak, menatap Putra. Putra yang menatap langit-langit merasa dipandang, memandang balik Arika.
Mata Arika sembab dan merah, terlihat penyesalan disana. Manik mata indah itu, membuat tangan Putra mengusap tetesan air yang masih mencoba mengalir.
"Aku janji akan membantu kamu." Ucap Putra meyakinkan ucapannya.
Air bening semakin mengalir, Arika merasa ada yang melindungi.
"Maafkan aku, atas penghianatan ini." Batin Putra, jika teman-temannya mengetahui, entah tidak akan ada misi yang tuntas dilalui.
---
Elang dan Sabay tertidur pulas. Sabilla dan Bayu duduk berdua menikmati secangkir minuman hangat di balkon kamar. Berdua bernostalgia dikala jaman putih abu-abu.
"Andai Kinara masih ada, mungkin kita akan shopping bareng, nongkrong bareng." Ucap Sabilla.
__ADS_1
"Iya, mereka terlalu muda. Tapi dibalik musibah kita juga tidak pernah mengetahui kematian kapan datang." Tutur Bayu.
"Bagaimanapun mereka adalah soulmate." Sabilla berucap melihat suaminya.
"Ada apa? Kok natapnya kayak gitu." Tanya Bayu.
"Aku pengen kita kayak mereka, soulmate. Aku gak bisa kayaknya kalau tanpa kamu." Ucap Sabilla, mengucapkan saja rasanya sesak.
"Lah, kalau aku mati kan kamu jadi janda kaya raya tapi jangan nikah lagi ya! Uang aku banyak untuk kalian bertiga foya-foya." Canda Bayu yang dianggap Sabilla tidak lucu sama sekali.
"Bawa uangmu, kubur sekalian sama tubuhmu." Ucap Sabilla emosi.
"Kenapa marah lovebird ku?" Tanya Bayu, tangan kanannya menggapai kepala Sabilla yang terhalang meja diantara kursi mereka.
"Aku beneran gak akan bisa tanpa kamu Bay, Tolong apapun misi kamu dengan yang lain, jangan pernah ada yang jadi korban. Aku mohon! Aku istrimu, sampai kapanpun aku butuh kamu." Semenjak kejadian yang menimpah dirinya, membuat Sabilla semakin sensitif.
Bayu menjadi lebih sering berada di rumah, keluar juga urusan amat sangat penting.
"Iya cintaku." Ucap Bayu yang masih mengelus puncak kepala Sabilla.
"Aku belum mengucapkan terima kasih pada Kinara, andai waktu itu aku tidak menginap di rumahnya, mungkin aku gak akan pernah kenal kamu." Tutur Sabilla.
"Bukannya kamu suka Reza daripada aku?" Bayu mulai lagi mengajak bercanda, yang sebenarnya hatinya juga merindukan, sangat amat merindukan masa-masa itu.
"Oiya, Reza kabarnya gimana?" Tanya Sabilla.
"Tuh kan,baru juga diingetin."
"Kangen juga, pengen bisa ngumpul lagi." Ucap Sabilla.
"Tanya tuh sama Putra, mereka masih komunikasi." Pinta Bayu.
"Lah ngapain tanya Putra? Kalau Putra masih komunikasi sama sahabat kamu ya kamu pasti lebih duluan." Sabilla geram
"Putra juga sahabatnya." Bayu tidak mau kalah.
"Sama aja ih, terus kamu siapanya mereka?" Tanya Sabilla makin kesal.
"Bosnya." Jawab Bayu songong.
Sabilla mikir, kemudian berucap "Ada benernya juga sih."
"Tuh kan, emang suamimu ini udah ganteng, pinter, kaya raya, apa coba yang kurang?" Bayu sombong.
"Kurang waras." Celetuk Sabilla kemudian masuk ke kamar.
"Apa? Kurang keraaaass!" Teriak Bayu.
Bersambung ….
__ADS_1