Love Vs Blood

Love Vs Blood
43. Love vs Blood


__ADS_3

Suasana hening dan mencekam begitu terasa di tempat. Anak-anak anggota komunitas Morpheus.K sudah diamankan. Beberapa barang bukti dari barang haram hingga minuman keras disita.


"Apa yang kalian temukan?" Nando yang sudah berada di tempat penyelidikan bertanya pada sang anak buah.


"Ini, pin yang belum kita ketahui siapa pemiliknya." Seorang berpikiran seragam menunjukkan benda kecil bundar dengan ukiran tangan singa yang sedang mencakar.


Nando mengambil alih benda kecil yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik kecil itu.


"Tidak ada kartel yang memakai simbol ini, biar ku cari." Ucap Nando.


"Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Jamie, seseorang mengadu domba. Kita tidak menemukan jejak dan bukti apapun yang menjurus dia pelakunya," ucapan seorang detektif dari tim Nando berjalan mendekati Nando.


"Kurasa ada orang lain yang ingin balas dendam ke Jamie tapi dia sangat fatal melakukan kesalahan dengan menjatuhkan pin itu." Lanjutnya lagi menjelaskan.


Nando membolak - balik pin yang masih dipegangnya, menamati siapa gerangan orang yang berbuat ceroboh.


"Ada goresan luka cakaran di leher Robert, itu bukti jika dia memberikan tanda siapa orang dibalik kejadian ini."


Nando hanya mendengarkan laporan dari anak buahnya. Sembari memotret pin untuk dikirim ke Arya.


"Lanjutkan tugas kalian …  ini tugasku, biar aku yang mencari." Nando yang masih memegang pin itu menunjukkan ke anak buahnya.


Semua anggota mengindahkan ucapan Nando.


 


Jamie menyiapkan makanan untuk Tania, nasi goreng seafood tidak lupa dengan tambahan sayur mayur dan segelas air putih disajikan di atas nampan.


Jamie bak pramusaji hotel, dengan gagah membawa nampan dari dapur menuju ke kamar tidurnya.


Tania yg sudah berbaring lagi, menunggu kedatangan Jamie.


"Waktunya makan sayang!" Ucap Jamie, membuat Tania bangun dari posisi tidurnya.


"Kamu masak?" Tanya Tania.


"Yes, untuk my baby." Kecupan mendarat di kening Tania.


Tania kembali dibuat tercengang. Berbeda dengan Putra, Tania masih mempertahankan keegoisan dan masih mengingat jelas tujuan dirinya hadir di kehidupan Jamie.

__ADS_1


"Kamu sudah makan?" Tanya Tania.


"Belum, kamu makan dulu ya!" Jamie mulai mengambil sendok, menyuapi Tania.


Tania menerima suapan pertama, mengunyah dengan perlahan.


"Gantian kamu juga makan, kita makan bareng." Ucap Tania, ketika Jamie hendak menyendok ponsel yang berada di saku bergetar. Segera Jamie mengambil ponsel dan mengangkat notifikasi telepon,


Tanpa pamit Jamie langsung keluar kamar, menghindar dari Tania.


Dan Tania dengan cepat melakukan aksi nekatnya.


Di perjalanan menuju rumah Jamie, Tania menyempatkan untuk bertemu dengan Anjas.


Semalaman Ajas juga menghubungi Tania meminta bantuan untuk membiarkan dirinya pergi karena polisi sudah mencium keberadaannya. Dengan licik Tania meminta imbalan untuk memberikan Tania obat tidur dengan dosis tinggi. Melihat Anjas pagi-pagi buta menunggu di taman untuk memberikan obat pada Tania sebelum dirinya harus lepas landas meninggalkan negara. Tania segera turun untuk mengambil obat tidur itu. Kini obat tidur itu tersimpan di balik jaket yang masih digunakan.


Tania buru-buru mengambil dan dengan gerakan cepat meneteskan obat berbentuk cair itu pada sesendok nasi dan setetes dimasukkan ke dalam gelas yang berisi air minum.


Tania berusaha untuk menyembunyikan rasa takutnya. Tania tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan selain memasukkan obat tidur itu ke dalam makanan dan minuman.


Di luar Jamie menerima telepon dengan menahan amarah, dengan adanya Tania tidak ingin kemarahannya diketahui.


"Siapa yang telepon?" Tania bertanya basa-basi.


"Bukan siapa-siapa, hanya tentang pekerjaan." Jawab Jamie duduk kembali di pinggir ranjang.


"Yaudah, sekarang gantian kamu yang makan. Aku suapin." Ucap Tania sambil menyodorkan makanannya tepat di depan mulut Jamie.


Jamie menatap Tania, Tania mengangguk memberikan kode supaya Jamie membuka mulut.


Melihat Tania mengangguk sambil tersenyum begitu manis membuat Jamie tidak berkutik, lekas membuka mulutnya.


"Perfect." Batin Tania.


Makanan yang di mulut Jamie baru tertelan, Jamie tersedak dengan cepat Tania memberikan segelas minum yang sudah diberikan obat tidur. Tania ketakutan karena obat belum menunjukkan reaksi.


Kepikiran apakah dirinya salah atau kurang dosis?


Setengah air sudah masuk ke dalam perut Jamie. Hitungan detik Jamie mulai merasakan pandangannya buram.

__ADS_1


Perlahan tubuhnya ambruk tertidur di atas ranjang.


Tania segera membantu mengangkat kaki Jamie supaya naik ke atas kasur. Tubuh Jamie yang kekar dan besar membuat Tania kewalahan.


"Huft …. "


Tidak cukup waktu, Tania segera mencari apapun yang bisa dipakai untuk bukti.


Tania memberanikan diri membuka loker dan lemari Jamie.


"Please, fokus temukan sesuatu!" Ucap Tania pada dirinya sendiri yang sedang membuka dokumen-dokumen yang tersimpan.


Tania kembali ke rak buku, membolak-balik buku yang berjajar di rak. Tidak ada satupun yang membuat Tania curiga hingga terpikirkan olehnya untuk menghubungi Arya maupun Nando.


"Ah … Tidak - tidak, aku harus bisa mengerjakan sendiri. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu di kamar ini." Tania bergumam lagi pada dirinya sendiri sembari tangannya sibuk mencari sesuatu.


Tania terus memperhatikan sekeliling, Jamie yang nampak tertidur pulas dan waktu terus berjalan. Tania melihat di atas meja kerja Jamie, masih tidak ada yang mencurigakan, hingga kemudian satu benda membuat Tania terpikat, matanya menuju benda yang terletak di atas meja yang berada di samping rak buku. Di atas rak itu ada foto seorang lelaki paruh baya dan anak perempuan berambut panjang. Di samping bingkai foto, satu benda yang pernah Tania berikan pada Jamie saat pertama kali menjalin hubungan yaitu jam pasir.


"Benda ini masih ada?" Tania menutup mulutnya.


Tania mengambil jam pasir dengan pasir berwarna mocca, dengan sanggahan besi ukiran berwarna coklat seperti kayu.


Tania kemudian memandang foto itu, seorang anak perempuan yang tidak pernah dirinya ketahui bersandar pada bahu lelaki yang sedang duduk di kursi tempat makan.


"Bukankah Jamie hanya punya kakak laki-laki, dan kakaknya itu papanya Arika?" Tania bertanya - tanya. Tania hanya mengetahui seorang paruh baya itu adalah orang tua Jamie. Sang mafia yang fotonya terpajang di ruang kerja di perusahaan Jamie.


Tania mengernyitkan keningnya,


"Bukankah rumah seorang mafia memiliki ruang bawah tanah untuk persembunyian?" Ucap Tania, matanya kembali menelusuri setiap sudut kamar yang menyatu dengan ruang kerja Jamie.


Tania tidak tinggal diam, menelisik setiap dinding bak mencari pintu rahasia seperti pintu rahasia yang ada di markas Arya.


Tania tidak banyak waktu, mencoba keluar kamar tidak mungkin. Tania masih berfikir takut jika di luar kamar Jamie terdapat cctv yang memantau dirinya mengobrak-abrik rumah Jamie.


"Siiittt …. " Umpat Tania mencoba berfikir dan berfikir.


"Bod*h …. " Tania melangkah maju dari keberadaannya sekarang. Hingga sepuluh langkah berhenti pada sebuah rak buku, melihat lagi jam pasir yang dirinya tadi pegang. Tania melirik ke kanan kiri dan ....


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2