
Arika tidak kuat membawa tubuhnya, terlalu lama menangis membuat tubuhnya lemas dan demam.
Masih di atas ranjang kamar Putra, Arika meringkuk tertutup selimut tebal.
"Arika …. Arika …. " Terdengar suara Putra memanggil, Arika ketakutan.
Yang dirinya sekarang ketahui ialah masuk kedalam kandang musuh yang siap melenyapkan dirinya.
Matanya perih, air mata mengering terlalu lama menangis matanya sembab sayu.
Krek ….
Terdengar pintu kamar dibuka. Arika masih terdiam, bergerak rasanya kesulitan.
"Kamu tidur?" Tanya Putra mendekat, menyalakan lampu.
Menutup gorden kamar.
Tidak ada pergerakan maupun suara dari Arika. Putra mendekat, mencoba mengecek Arika.
Selimut tebal dikibaskan perlahan,
"Kamu kenapa?" Suara Putra terdengar khawatir.
Setetes air bening mengalir di sela matanya, bagai air terakhir yang tersisa.
Putra mendekat, duduk di tepi ranjang. Tangan Putra menyentuh kening Arika yang demam.
"Kamu sakit? Kenapa gak telepon aku?"
Tubuh Arika tidak ada pergerakan, lemas, lemah dan pusing dirasakan.
Putra mencoba menggerakkan tubuh Arika, membantu mengubah posisinya yang membuat dirinya dapat melihat raut wajah Arika yang sembab tidak karuan.
"Arika, are u okay?" Putra semakin khawatir, Putra beranjak, berlari mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres kening Arika dan segera kembali.
Mengompres keningnya perlahan.
"Kamu kenapa?" Tanyanya lagi
Arika hanya menggelengkan kepala perlahan.
"Ada apa?" tanya Putra butuh jawaban.
"Kamu minum dulu ya!"Pintahnya membantu Arika bangun dari tidurnya.
Arika menuruti, minum seteguk air putih dalam gelas. Ketakutan kembali menghantui.
"Habiskan!" Pintah Putra dengan lembut.
Arika menggelengkan kepala, air matanya rembes lagi keluar.
Seakan dia sudah siap jika harus mati karena minuman yang diberikan oleh Putra.
"Cerita, ada apa Arika?"
"Kita ke rumah sakit ya?" Putra kebingungan, pertanyaan terakhir yang diucapkan membuat Arika menatap Putra.
"Apakah benar dia menginginkan aku sembuh?" Batin Arika.
__ADS_1
Matanya yang sayu, sembab menatap mata Putra yang penuh kekhawatiran.
"Apa kau mengenal Kinara?" Tanya Arika tidak ingin lagi basa-basi.
Arika mencari jawaban di kedua mata Putra. Sorot mata itu tidak bisa menipu dirinya.
"Iya, ada apa?" Jawab Putra to the point yang membuat Arika semakin terisak.
Mata kering itu kini kembali basah kuyup dihujani akan air mata.
Tidak bisa lagi menyembunyikan rasa patah dan sakit berkali lipat. Seorang lelaki di depannya, seorang lelaki yang bahkan dimintai pertolongan untuk mencari tahu keberadaan kedua orang tuanya ternyata mengenal orang yang pernah disakitinya.
"Kamu …. " bibir Arika bergetar.
"Ka …. Mu siapaanya Kinara?" Tanyanya.
"Sahabat." Sorot mata Putra menatap manik mata Arika yang penuh rasa bersalah.
"Apa kau mendekatiku karena dia? Apa kau mendekatiku untuk balas dendam?" Mulut Arika bergetar ketakutan, matanya tampak terlihat tidak ada keberanian di sana.
"Iya." Jawab Putra yang masih duduk di pinggir Ranjang menatap mata Arika yang duduk.
Tangan Arika mengepal, menguatkan dirinya.
"Apa yang kamu ingin dari aku? Apa kau ingin melukaiku?" Arika kembali bertanya.
Putra semakin mendekatkan dirinya. Dua tangannya mengunci tubuh Arika.
Arika sontak memejamkan mata ketakutan.
"Iya, aku ingin menyakitimu." Jawab Putra lirih.
"Istirahatlah biar ku buatkan makanan." Ucap Putra berdiri pergi, meninggalkan Arika sendiri di kamar. Menuju dapur untuk mempersiapkan makanan sebelumnya Putra masuk ke dalam ruangan, meluapkan emosinya. Putra memukul tembok berkali-kali.
---
Arya baru datang ke markas, tanpa sepengetahuan beberapa orang mengikuti dirinya dari belakang. Cctv memantau halaman parkiran, beberapa mobil datang memenuhi.
Kafe yang dalam kondisi tidak cukup rame kini begitu bising dengan kedatangan mereka, memesan seenaknya.
"Anj*nk." Umpat Putra melihat layar monitor.
"Jangan turun!" Ucap Nando.
"Mereka hanya mengincarku." Jawab Arya yang masih memantau kebisingan kafe dari cctv yang merekam.
Info tentang Arya yang bekerja part time di kafe sudah menyebar. Tidak bisa lagi disembunyikan.
"Kemana Arya!" Tanya seorang anggota Z'Cross pada seorang Barista.
"Tidak ada." Jawabnya.
"Tadi dia ke arah sini, panggil dia!" Bentaknya.
"Arya tidak ada, dia tidak masuk." Jawabnya lagi.
Sebelumnya Tania sudah memberitahu pada para karyawannya, jika ada yang mencari Arya cukup bilang tidak ada. Meskipun mereka mengetahui jika Arya bekerja di gedung sebelahnya.
"Panggil dia atau aku obrak abrik tempat ini!" Ancamnya.
__ADS_1
Barista itu tidak punya rasa takut. Dia tidak menjawab, terus melanjutkan pekerjaannya menyiapkan pesanan.
"Apa kamu tuli?" Bentaknya lagi.
"Aku sudah bilang tidak ada dan kamu masih bertanya." Barista itu semakin meninggikan nada suaranya.
"Kau gak kenal siapa kita?" Tanya seorang anggota komunitas ikut maju.
"Itu tidak penting." Si Barista kembali mengambil bahan untuk membuat minuman.
"Bangs*t." Satu meja kafe mereka geser dengan keras.
Beberapa pengunjung menghindar.
Tidak ada rasa takut, tiga pegawai kafe pilihan Tania maju menyerang. Bersiap untuk melawan
"Pergi!" Usir Barista.
Suara tawa dari mereka meremehkan.
Aksi serang, berkelahi begitu riuh tidak bisa dibiarkan.
Arya tidak peduli lagi, berlari menuju pintu darurat ruangan Tania untuk keluar menuju kafe. Tangannya menarik satu apron dan topi barista, untuk mengelabui jika dirinya seorang karyawan kafe.
Nando tidak bisa menghentikan gerakkan cepat yang dilakukan Arya.
Jika dirinya turun dan ikut campur sama saja menghancurkan misi.
"Anj*nk." Teriak Arya.
Membuat mereka menghentikan perkelahian.
"Akhirnya keluar juga si pecundang." Seorang anggota berucap, dengan kondisi cela bibirnya sedikit sobek berdarah terkena pukulan.
"Gak malu, main keroyokan?" Arya bertanya sambil melangkahkan kaki mencari posisi yang pas untuk melawan.
"Hai pecund*ng, jangan sembunyi kalau berani. Lawan kita!" Seorang dari anggota mulai menyerang Arya dengan tendangan.
Tidak ada ampun, Arya menghajar habis-habisan dibantu dengan tiga barista melawan mereka 18 orang.
Jiaah ….
Terdengar teriakan dari pengunjung saat Arya mendapat serangan dari belakang.
Tidak tumbang, Arya berdiri lagi untuk melawan. Di hadapan mereka Arya tidak ingin dianggap remeh. Sudah cukup Clay dan si kembar berada di depan, sekarang waktunya Arya melindungi mereka.
Nando membiarkan perkelahian itu terjadi, memantau dari cctv tetapi tetap waspada jika terjadi lebih.
Tidak ada tanda-tanda seni*ta taj*m mereka bawa. Masih dirasa aman untuk anak muda dalam perkelahian.
Dengan gesit Arya memukul satu persatu musuh. Dibuktikan jika dirinya bukan pecundang, bukan pengecut.
Nando bagai melihat film action, melihat Arya dan tiga Barista berdiri terengah-engah menghajar habis musuh.
Bajunya basah penuh keringat.
Tidak disangka Clay berdiri dari kejauhan, melihat aksi keren seorang Arya. Setelah mendapatkan kabar anggota Z'Cross menyerang Arya, Clay segera pergi menuju tempat yang didapatkan.
Arya terkejut, matanya saling bertemu dengan Clay yang masih terpukau.
__ADS_1
Bersambung ….