Love Vs Blood

Love Vs Blood
32.Love vs Blood


__ADS_3

Tersemat pikiran untuk pulang bersama Jamie, telepon Helen membuat Tania mengurungkan.


"Iya." Jawab Tania


"Kenapa berangkat sendiri?" Tanya Helen dibalik telepon, terdengar khawatir.


"Sorry, buru-buru sekalian posisi lagi di deket sini. Kamu istirahat saja." Ucap Tania.


Jamie yang baru keluar dari ruang meeting melihat Tania sedang menelepon.


Menunggu sambil berkacak pinggang. Beberapa orang yang baru keluar ruangan menyapa dengan sopan. Jamie hanya sedikit menundukkan kepala tanpa mengubah posisinya.


Tatapannya yang tajam seperti mengintimidasi, menatap dari bawah hingga kepala.


Tania merasakan diperhatikan seseorang, matanya kesana kemari mencari.


Putaran arah arah jam lima, keberadaan Jamie.


"Sial."Batin Tania.


Mengurungkan tentu hanya wacana.


Tania kembali memasukkan ponsel ke dalam tas warna hitamnya.


"Ayo, pulang bersama!" Ajak Jamie.


Tania berpikir antara harus menolak atau menerima ajakan.


Melihat raut wajah Tania yang mempertimbangkan ajakan dirinya, membuat Jamie berjalan mendekati.


Menarik pelan tangan Tania, Jamie tidak ingin kehilangan lagi dan lagi.


Tania menuruti, berjalan mengikuti Jamie.


---


"Butuh bantuan kalian woy!" Teriak Arya dalam sambungan teleponnya ke Raka.


"Tumben?" Tanya Raka, si sepupu.


"Sumpah gara-gara Clay, hidupku gak tenang. Anak Z'Cross ngikutin melulu sial*n." Suara Arya terdengar sangat amat kesal.


"Abis bikin perkara apa sama mereka?" Tanya Raka kebingungan, karena Arya tidak pernah mau berhubungan dengan komunitas mobil secara langsung.


"Entar aku cerita, sekarang tolong kesini! Aku ada di kampus." Tutur Arya.


"Ngapain?" Raka butuh penjelasan.


"F*CK TOLONG KESINI CEPAT!"  Teriak Arya.


Bagaimana tidak butuh pertolongan, beberapa orang anggota sudah nangkring di taman, tempat yang biasa Arya datangi untuk merefresh otak.


"Anj*nk." Arya tidak hentinya mengumpat.


Jika dirinya menyerahkan diri, sama saja menyerahkan nyawa.


Kelas di lantai dua, dengan kaca jendela menghadap langsung ke taman.


"Kenapa?" Clay memang tidak punya rasa bersalah.


"Noh lihat." Tunjuk Arya ke arah taman.

__ADS_1


"Yaelah hadapi bukan sembunyi." Teriak Clay tepat ditelinga Arya.


Arya hanya menunjukan jari tengah pada Clay sebagai bentuk jawaban.


"Ayo keluar!" Ajak Clay.


Arya tidak peduli, berdiri di samping jendela masih memperhatikan taman.


"Biar aku yang hadapi." Ucap Clay.


"Gak usah!" Tolak Arya tidak ingin Clay kenapa-kenapa.


"Cie cemburu yaaaa? takut aku diapa-apain ya?" Goda Clay sambil tersenyum.


"Hilih." Jawab Arya.


"Ya udah aku keluar dulu." Pamit Clay, Arya tidak peduli yang penting nyawanya selamat.


---


"Aku berangkat dulu." Pamit Putra pada Arika, yang semalam tidak pulang.


Arika mengangguk.


"Tunggu disini, jangan pulang!" Pesan Putra sebelum menutup pintu.


Arika mencari kesibukan, bagai Art. Arika membersihkan piring-piring bekas dirinya dan Putra sarapan.


Menata meja, menyapu, mengepel lantai semuanya dirinya bersihkan.


Arika merasa harus tahu diri, sebelum dirinya kembali melanjutkan tidur.


"Uncle tidak mencari, apa tidak tahu jika aku pergi?" Kebiasaan Arika yang ngomong sendiri, salah satu cara untuk Arika tidak stress menghadapi problematika hidup.


"Ah bodo amat, yang penting aku berada di tempat yang tepat." Arika juga tidak memikirkan pakaian ganti, sebab barang-barang miliknya masih ada di apartemen Putra. Barang-barang yang pernah Putra belikan.


Ponsel Arika sunyi, seperti hidupnya. Tidak ada yang menghubungi semenjak dirinya kembali ke tempat kelahirannya.


"Hmmm aku gak punya teman, its ok Arika. Kamu adalah teman untuk diri kamu sendiri." Ucapnya lagi sambil menepuk - nepuk bahunya sendiri sambil tiduran miring ke kanan.


---


Beberapa oknum membicarakan kasus Mario dan Robert. Nando, duduk di kursi kerjanya pura-pura tidak mendengar.


"Kenapa bisa tidak menemukan jejak atau bukti satupun?" Hanya itu yang sangat terdengar karena seseorang berucap sambil berteriak.


Nando mencari sesuatu yang dapat dikerjakan. Di bagian ini, Nando hanya bertugas menjadi agen mata-mata atas suruhan Mr.X.


Seorang detektif datang sebelum membuka tasnya untuk mengeluarkan bukti-bukti dari kasus yang sedang dikerjakan. Si Pimpinan datang menarik bajunya tanpa rasa hormat.


Detektif itu terkejut atas perlakuan sang pimpinan.


Jarinya yang sudah di atas keyboard komputer, Nando langsung mencari identitas si detektif.


Bernama Antonio, file segera dikirim ke email Arya untuk mengambil alih tugas selanjutnya.


Meretas dokumen-dokumen milik Antonio.


Tidur hanya beberapa jam di markas membuat dirinya masih merasakan ngantuk. Nando berganti tempat setelah menghilangkan jejak pengiriman file.


"Mau kemana?" Tanya seorang teman di ruangan.

__ADS_1


"Ngopi." Nando berjalan melewati dua partner yang masih tersisa.


Tidak sengaja Nando melihat perdebatan antara Antonio dan pimpinan. Tidak terdengar, Nando terus berjalan menuju kantin yang sudah dipersiapkan.


---


Raka dan Riki datang menjemput Arya. Tidak peduli dibilang pecundang, Arya hanya tidak ingin punya masalah terlalu jauh dengan mereka.


Mendapat telepon jika si kembar sudah dibawah, Arya lekas turun.


Seperti dugaan, mereka menghadang jalannya Arya.


"Dasar pengecut."  Ucap seorang yang Arya tidak diketahui namanya.


"Minggir." Jawab Arya berusaha stay cool.


Memang ada kalanya lebih baik jadi pecundang daripada menantang yang sudah tahu akan menjadi runyam.


"Lepaskan dia!" Suara Riki datang mendekati sang sepupu.


"Masih amankan? Belum disentuh mereka kan?" Tanya Raka pada Arya,


"Anj*nk dikira aku apaan disentuh." Batin Arya.


"Yok pulang!" Ajak Riki pada Arya dan Raka.


"Ini urusan kita sama dia, bukan kalian." Seseorang dari anggota Z'Cross mendekati Riki.


"Dia sepupuku, jika punya urusan sama dia, selesaikan sama aku." Jawab Riki dengan biasa saja, tidak ada yang berani.


Riki pembalap handal.


"Kita ngobrol baik-baik nanti malam di tempat biasanya." Pesan mereka sebelum pergi.


Tentu turun jalan, balapan adalah solusi mereka dan Riki bertanya "Kenapa bisa berurusan sama mereka?"


"Ada yang aku tendang kemarin gara-gara godain Clay." Jawaban Arya bikin Raka ingin menghajar Arya.


"Bangs*d, kirain kenapa? Tau gini bodo amat diculik dia." Ujar Riki, bagaimana tidak jika kesalahan yang dilakukan Arya, komunitasnya yang akan kena imbas.


Turun di jalan bukan waktu yang tepat saat Mario masih tidak diketahui keberadaannya.


Jika tidak menuruti, perang akan terjadi. Jika dituruti tidak beda jauh dengan Robert yang kini sedang enak tidur dirinya culik. Sebuah


pilihan yang runyam.


"Aku aja yang turun jalan," Clay ternyata diam-diam mendengarkan dan seperti mengetahui situasi.


Arya, Raka dan Riki menoleh.


"Biar ini aku yang tanggung jawab, kalian gak usah ikut campur. Ini kesalahan ku, jika Mario tau semua akan jadi masalah besar." Tutur Clan.


"Ini bocah omongannya kayak udah puber aja." Batin Arya.


"Gak usah urusin orang pecundang kek dia ya, kalian masih waras. Biarin dia tanggung jawab atas kelakuannya. Sorry ya!" Ucap Clay kembali.


Raka dan Riki saling menatap bagai memberi sinyal "Tidak semudah itu, kita sudah masuk urusan ini. Jika tidak, mereka akan terus menerus menyerang." Tutur Riki.


Kali ini jawaban Clay bikin tiga laki-laki di sampingnya terkejut "Ya udah biar aku nyuruh Papa aja buat laporin mereka."


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2