Love Vs Blood

Love Vs Blood
42. Love vs Blood


__ADS_3

"Ada apa sayang?" Jamie hendak pergi, mendapati Tania keluar dari mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.


"Aku hanya ingin kemari," Tania memeluk tubuh Jamie yang sudah rapi dan harum aroma parfum begitu melekat.


"Entah, aku takut di rumah." Ucap Tania lagi.


"Its oke, kita masuk dulu!" Rangkul Jamie ke pundak Tania mengajak masuk ke dalam rumah.


Tania merasakan pusing, semalaman hanya duduk di sofa memikirkan apa yang harus dilakukan.


Notifikasi pesan dari Nando yang memberitahukan adanya penyerangan markas komunitas dan tubuh Robert ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan masuk markas.


"Wajah kamu pucat sekali sayang, istirahatlah!" Jamie melupakan waktu genting, keberadaan Tania seperti menghipnotis dirinya.


Jamie terus mengajak berjalan hingga keluar bangunan rumah bertemu kolam renang jembatan kecil menuju ke kamar pribadinya.


Tania berusaha untuk fokus, kedatangannya punya tujuan untuk mencegah Jamie keluar rumah. Supaya mereka bisa mencari tahu siapa dalang dibalik semua selain Jamie.


Untuk pertama kalinya Tania masuk ke kamar tidur Jamie. Melihat suasana kamar yang nyaman dan tenang. Aroma lavender sesekali tercium, wewangian ruangan itu selalu didapati di setiap ruangan.


"Ini kamarku, kamu bisa istirahat," ucap Jamie menyuruh Tania untuk duduk.


"Apa kamu belum tidur? Terlihat pucat wajahmu, bagaimana dengan bayi kita kalau kamu gak menjaga kesehatan?" Jamie menunjukkan perhatian, mengangkat kaki Tania ke atas ranjang supaya bisa beristirahat.


"Apa kau begitu menyayangiku dan ba … yi kita?" Tanya Tania.


"Tentu, kenapa bisa kau bertanya seperti itu? Kita akan menikah, dan aku sudah menyiapkan mansion untuk kita tinggali."


Deg ….


Jantung Tania berdetak semakin hebat.


"Sini jaketnya biar aku simpan!" Tania yang menggunakan Jaket untuk menutupi tubuhnya yang hanya menggunakan one set baju tidur lengan.


"Tidak, biar aku pakai saja." Tania menolak mulai mengubah posisinya tidur memiring.


Jamie mendekati, duduk di pinggir ranjang mengelus puncak kepala Tania.


"Semua akan baik-baik saja sayang." Tangan kanan Jamie mulai melonggarkan dasi, perlahan melepas lagi jas hitam yang sudah melekat di tubuhnya.


"Aku takut." Ucap Tania.


"Ada aku, aku akan selalu menjagamu." Jamie membalikkan tubuh Tania supaya bisa menatap wajahnya.


Tania begitu lelah dan pucat tapi otaknya masih teringat tujuan sesungguhnya dia datang ke rumah Jamie.

__ADS_1


"Aku haus, tolong ambilkan air putih!" Membuat Jamie langsung berdiri, mengambil air mineral di lemari es yang berada di samping meja kerjanya tidak jauh dari tempat tidur.


Tania kebingungan, mencari cara supaya bisa melakukan aksinya.


"Aku siapkan makanan, tunggu disini jangan keluar kamar!" Jamie berucap sambil memberikan sebotol air mineral untuk Tania.


Perasaan Tania cukup lega, ada waktu untuk bernapas dan memberikan pesan ke Nando.


"Oke." Jawab Tania sebelum minum.


Dilihatnya Jamie keluar menutup pintu dengan rapat, terlihat dari tirai berwarna putih yang menutupi sebagian kaca. Dinding kaca sebagai pembatas memperlihatkan pemandangan kolam renang. Tania duduk menekuk lutut di atas kasur. Diambilnya ponsel yang tersimpan di saku jaket.


"Nando, aku di rumah Jamie. Arya bisa memantau aku dari gps. Jangan kasih tau Putra, aku tidak ingin dia khawatir. Aku yakin Putra sedang bersama Arika. Jangan dibalas!" Pesan terkirim sebelum Jamie kembali lagi, Tania segera menyimpan ponselnya kembali.


---


Di Markas, Nando yang baru kembali dari penyelidikan kejadian di Markas Morpheus.K melihat pesan dari Tania segera membangunkan Arya dan si kembar yang masih tertidur.


"Arya bangun …. "


"Raka … Riki …. " Nando mengguncang tubuh tiga lelaki yang sudah seperti adiknya itu.


Satu persatu bangun dari tidurnya.


"Kita harus bekerja!" Nando menekan tombol power untuk menyalakan semua monitor.


"Apa yang terjadi?" Tanya Arya.


"Tania sedang di rumah Jamie, aku tidak tahu apa yang direncanakan? Tolong pantau dia, aku harus kembali ke tempat Mr.X memberi perintah, jika Tania tidak ada kabar … tolong secepatnya kabari aku!"  Perkataan Nando membuat Arya langsung terperanjat.


Memang earphone memantau semua cctv dan alat sadap.


"Aku pergi dulu, tolong kerjasamanya! Kalian berdua …." tunjuk Nando pada Raka dan Riki.


"Jangan pernah tinggalin Markas!" 


Raka dan Riki bagai pecundang, semua anggota Morpheus.K tertangkap oleh anak buah Nando.


Nando tidak ingin selangkah lebih jauh dari Rafael meskipun tujuannya sama untuk meringkus mereka, tetapi ada dendam yang harus dibalaskan.


"Baik." Raka dan Riki menuruti, jika tidak semua akan kacau.


"Mobil Sonic mengarah ke rumah Helen dan sampai detik ini tidak ada pergerakkan." Ucap Arya menghentikan langkah Nando.


Nando berbalik arah, 

__ADS_1


"Coba kamu pintar lagi video itu!" Nando menunjuk salah satu video rekaman cctv yang sudah memantau rumah Helen setelah identitas Helen terbongkar.


"Ok thanks," ucap Nando setelah memperhatikan mobil dan jam sama persis saat kejadian di Markas Morpheus.K


"Pantau terus, nanti kabari jika ada pergerakkan." Pesan Nando kepada mereka bertiga sebelum benar-benar pergi dari Markas.


---


Banyak notifikasi pesan masuk yang belum sempat Putra buka. Melihat kondisi Arika, membuat dirinya tidak tega untuk pergi meninggalkan sendirian.


Dirinya merasakan salah dan kasihan dalam waktu yang bersamaan. Perasaan itu tidak seharusnya muncul pada perempuan yang harusnya musuh dalam hidupnya.


"Kamu masih demam, ke rumah sakit ya." Putra tidak melepaskan genggaman tangan Arika.


Tatapan kesedihan dan tangisan Arika terngiang di kepalanya, Putra semakin tidak ingin membiarkan sendirian.


"Enggak …." Jawab Arika dengan mata masih tertutup.


"Biarkan aku istirahat, aku lelah, aku capek untuk hidup." Ucapan itu keluar dari mulut Arika.


"Maafkan Aku … Aku tidak akan menyakitimu." Kalimat yang tidak seharusnya keluar dari mulut seorang Putra. Bagai bajing*an pengkhianat lupa akan janji yang sudah terucap.


Arika tidak menjawab hanya saja mulutnya berkata lain "Mom and Dad, Aku merindukan mereka." Ucap Arika lirih.


"Aku akan berusaha untuk bantu cari mereka buat kamu. Tapi kamu mau ya ke rumah sakit?" Kembali Putra menawarkan.


"Enggak, disana gak aman. Dimanapun gak aman untuk aku. Bahkan Uncle lupa sama aku." Dada Arika terasa sesak, sakit, pedih, perih.


Putra mengelus lembut punggung tangan Arika, begitu terlihat tulus dirasa.


"Apa kamu mengenali siapa Jamie sesungguhnya? Apa kamu tidak pernah merasakan ada kejanggalan?" Perlahan Putra bertanya untuk memulai percakapan.


Perlahan juga mata Arika membuka, dan berucap.


"Tidak, hanya saja terakhir aku mendengar keramaian pertengkaran tetapi saat aku turun tidak ada kejadian apapun, aku hanya …. " Arika berpikir.


"Hanya apa?" Putra Penasaran.


Arika menatap langit-langit, melanjutkan ucapannya "Aku hanya curiga dengan Bibi yang bekerja di rumah Uncle, aku curiga dengan apa yang disembunyikan di sana? Aku bertanya-tanya, semenjak aku tertidur di kamar itu aku selalu mengalami mimpi buruk tentang Mom and Dad." Arika menceritakan dengan perlahan dengan mata mengingat-ingat.


"Apalagi?" Tanya Putra.


"Aku tidak tau, hanya saja semenjak aku SMA orang tuaku pergi sibuk melakukan kunjungan pekerjaan, dan Uncle … Hanya Uncle yang aku punya." Tutur Arika.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2