Love Vs Blood

Love Vs Blood
44. Love vs Blood


__ADS_3

"Pin cakaran singa, apa Mr. X mengetahui pin itu milik siapa?"


Mr. X bersedekap "Kita tidak bisa melakukannya berdua, kartel ini sungguh besar dari dugaan kita." Ucap Mr. X


Nando yang berdiri di hadapannya menatap balik lelaki paruh baya yang sedang bicara.


"Pin cakaran singa, apa itu ada kaitannya dengan Jamie?" tanya Nando


"Bukannya semua bukti mengarah ke Jamie?" Nando kembali melihat Mr. X berpikir, tidak cepat untuk menjawab.


"Semuanya berhubungan bahkan semua oknum bisa ikut serta, dari itu saya hanya percaya dengan kamu dan Y'Ar untuk bertindak menyelidiki." Mr. X menuturkan.


"Bagaimana dengan tim anda?" Nando bertanya mencari tahu apakah terjadi pengkhianatan.


"Mereka tetap kerja sesuai perintah hanya kamu dan tim yang kau bentuk, ku percaya untuk penyelidikan kasus narkotika. Bukannya kamu sudah menemukan orang di balik Pasta? Apa kamu masih membiarkan dan menyepelekan orang itu?"


"Sial … Anjas?" Nando lupa untuk membiarkan lelaki gemulai itu menikmati neraka yang dibuatnya sendiri.


"Jangan pernah membiarkan satu orang lepas, mereka bisa saja menjadi bumerang. Keberadaannya sudah tercium tinggal kamu tangkap." Ucapan Mr. X membuat Nando mengakhiri perbincangan, menghubungi Arya untuk mencari keberadaan Anjas.


---


"Aku harus pergi Arika, aku harap kamu tetap istirahat. Jangan pernah meninggalkan tempat ini!" Putra mondar-mandir berganti pakaian, sambil menyiapkan berkas yang perlu dirinya.


"Apa yang sudah terjadi?" Tanya Arika.


"Aku harus menyelesaikan tugas, ada kasus baru. Secepatnya aku akan pulang." Arika tubuhnya terasa lebih baik setelah bercerita panjang lebar kepada Putra.


"Oke, aku tetap di kamar." Ucap Arika.


"Ada beberapa makanan tinggal dipanaskan saja, kalau kamu masih gak kuat …. " Ucapan Putra terpotong oleh Arika yang langsung menyahuti.


"Aku bisa, gak perlu khawatir dan … Thanks untuk semuanya." Putra menoleh pada Arika.


"Its oke. Aku berangkat dulu, aku mohon jangan keluar dari apartemen meskipun hanya ke rooftop!" Pesan Putra, Arika hanya mengangguk.


Sepeninggalan Putra, Arika menuju dapur untuk mencari makanan. Sepi dan sendiri kembali dirasakan. Tidak peduli jika Putra akan menyerang yang penting sekarang dirinya merasakan tenang.


Beberapa kotak makanan siap saji sudah tertata rapi, bagaimana Arika tidak terbuai? melihat secarik kertas ditinggalkan bertuliskan 'Selamat makan, lekas sembuh semua akan baik-baik saja'


"Ah … Kenapa melakukan ini padaku? Bukannya aku musuhmu?" Ucap Arika menyembunyikan rasa malu.


---


Tidak ada kabar membuat Arya ikut khawatir dengan keberadaan Tania. Menghubungi bisa jadi bencana, menggagalkan rencana. Arya dibalik rasa khawatirnya tidak lepas memantau cctv yang mengarah pada rumah Jamie.


Mobil Tania juga masih terdeteksi terparkir di halaman rumah Jamie.

__ADS_1


Notifikasi telepon dari Nando masuk berbunyi nyaring. Arya segera mengangkat menerima perintah atau mungkin informasi.


"Lacak keberadaan Anjas, jangan biarkan dia pergi!" Ucap Nando dibalik telepon.


Tanpa berkomentar Arya segera melakukan perintah.


Identitas Anjas sudah dikantongi, mudah baginya melacak satu bakteri.


Jari jemari Arya mulai menari-nari di atas keyboard kerjanya.


"F*ck." Umpat Arya.


"Kenapa Bro?" Tanya Raka,melihat reaksi Arya sedikit emosi.


"Gak bisa diremehkan ini orang." Jawab Arya masih menatap monitor.


"Siapa?" Tanya Riki.


"Bantu hubungi Kak Reza, Anjas sudah meninggalkan negara dari dua jam yang lalu. Biarkan Kak Reza yang melakukan." Perintah Arya pada Raka maupun Riki.


Tentu mereka segera melakukan perintah, menghubungi Reza yang sedang melakukan pekerjaannya menjadi agen rahasia di luar negeri.


"Ok, sudah terhubung." Jawab Riki.


"Bangs*t." Umpat Arya lagi.


"Apalagi?" Tanya Riki, tentu Raka dan Riki yang tidak mahir dengan pekerjaan Arya bagai orang bod*h.


"Tolong kasih teleponnya ke Arya!" Pintah Reza


"Iya bang." Riki menindahkan.


Arya yang menggunakan earphone segera menerima ponsel dari Riki.


"Anjas dan Helen sudah meninggalkan negara dari dua jam yang lalu. Tolong bantuannya bang! Segera aku kirim identitas dia dan semua bukti yang aku punya." Ucap Arya


"Mereka menuju ke mana?" Tanya Reza


"Negara dengan kartel terbesar, Mexico." Jawab Arya.


"Astaga, bikin takut aja." Canda Reza.


"Woy bang, bukan waktunya bercanda." Arya sewot, merasa sudah emosi kehilangan dua orang yang harusnya sudah lenyap.


"Sudah lama gak ada yang ngajak bercanda Arya, hidup terasa serius terus di sini. Kangen euh merasakan ikan bakar." Curhat Reza.


"Bang woy … Malah curhat." Bentak Arya.

__ADS_1


"Di markas ada siapa aja?" Tanya Reza.


"Si kembar doang sama aku. Kenapa bang?" Jawab Arya yang kemudian tanya balik.


"Sumpah kangen banget sama markas, kangen kumpul, kangen ngeband." Suara Reza terdengar ada kesedihan.


"Bang kita masih ada kerjaan, belum waktunya buat cerita kenangan." Celoteh Arya.


"Dua orang itu biarkan mereka tertidur, sebelum sampai di tempat tujuan dipastikan mereka sudah di tangan kita. Dan kalau itu sesuai rencana, traktir ikan bakar kalau aku pulang." Ucap Reza yang sudah pro menjadi agen mata-mata.


"Sepertinya ada masalah lagi bang." Arya yang tatapannya tetap fokus ke monitor baru menyadari jika mobil Sonic masih berada di rumah Helen.


"Apa?" Bukan hanya Reza yang penasaran, Raka dan Riki juga.


"Mobil Sonic masih terparkir di rumah Helen sedangkan Helen …. "


"Hubungi Nando!" Reza yang dari tadi mode bercanda langsung membentak menyuruh Arya untuk menghubungi Nando.


Telepon langsung menyambung ke Nando yang masih ada di Markas besar.


"Ada apa? Sudah ketemu?" Tanya Nando.


"Kak, tolong selidiki rumah Helen, mobil Sonic masih ada disana dan Helen bersama Anjas sudah pergi dari dua jam yang lalu." Penuturan Arya yang tidak bisa ditunda.


Nando langsung menutup telepon meluncur ke rumah Helen untuk penyelidikkan.


---


Beberapa wartawan ramai memburu Rafael untuk mendapatkan penjelasan tentang terjadinya keributan.


Rafael masih menutup mulut, langkahnya yang tanpa pikir panjang membuat keramaian dimana-mana.


Bayu duduk menyaksikan berita antara Rafael diagungkan bak seorang pahlawan sudah berani mengobrak - abrik markas anak-anak muda pecandu narkotika, juga sebagai umpan untuk menangkap para oknum yang masih sembunyi untuk melanjutkan laporan atau memberikan keringanan.


Bayu tersenyum smrik, "Orang tua satu langkah lebih maju asal punya kuasa tanpa merhitungkan keselamatan anaknya." Pungkas Bayu.


"Terlalu gegabah, yang ada menyerang dirinya sendiri." Sabilla menimpali.


"Arya terlalu mempesona, membuat anaknya buta," ucap Bayu bercanda


Sabilla mengerutkan kening.


"Bagaimana tidak mempesona, Clay berani meminta pertolongan ke bapaknya, sedangkan yang ditolong sudah melakukan pekerjaan itu jauh dari ketidaktahuannya." Jelas Bayu.


"Anak muda." Respon Sabilla, sambil menggendong Sabay.


"Apa kamu akan berbuat seperti itu my lovebird?" Tanya Bayu usil.

__ADS_1


"Tidak akan, aku masih punya logika." Jawab Sabilla


Bersambung ….


__ADS_2