Love Vs Blood

Love Vs Blood
24.Love vs Blood


__ADS_3

"Dia sudah aman sama kita." Ucap seseorang pada telepon yang tersambung.


"Tetap pantau, jangan biarkan yang lain mengetahui." Perintah yang harus dilaksanakan, terucap dari orang yang menculik Robert.


"Laksanakan!"


Saluran telepon terputus. Lebih tepatnya mereka sama saja mendapatkan perintah menjaga orang beristirahat dari hiruk pikuk.


Di dalam kamar, Robert mandi setelahnya tertidur pulas.


---


Berita tentang Arika model internasional mantan tukang bully tersebar di media sosial. Arika yang sedang di minimarket menjadi pusat perhatian. Banyak pasang mata memandang, memandang Arika lalu memandang foto yang ada di ponsel mereka.


Merasa risih, Arika segera membayar yang juga dapat perlakuan tidak baik dari kasir minimarket.


"Anda Arika yang lagi rame di berita?" tanya seseorang yang lagi mengantri.


Arika memicingkan mata sebelum menjawab.


Seseorang itu menunjukkan ponsel yang menampilkan foto dirinya waktu sekolah dan foto dirinya disaat acara di mall.


"Serly." Batin Arika.


"Maaf, anda salah orang." Ucap Arika buru-buru membayar kemudian segera pergi.


Arika merasa gugup, gemetaran "Bagaimana bisa mereka melakukan seperti itu?" Pikir Arika sambil menyetir mobilnya, tidak banyak yang dirinya beli karena sudah tidak nyaman dengan kondisi minimarket.


---


"Siapa yang bawa Robert?" Putra datang ke markas dengan penuh amarah.


Usai persidangan, Putra langsung datang ke markas.


"Santai Brother." Arya menenangkan.


"Bagaimana bisa tenang kalau mangsa kita lepas?" Putra mendobrak meja.


Putra bukan hanya emosi karena Robert tapi untuk pertama kalinya Putra kalah dalam kasus suap.


"Kau kenapa?" Nando berdiri dari duduknya menenangkan Putra.


"You know Baskara si anj*nk? Dia menang dengan kasus korupsi uang rakyat 5 Triliun." Putra semakin memanas.


"Menteri keuangan?" Tanya Nando.


"Anj*nk, baru pertama kali kalah dalam kasus suap," Putra memukul dinding.


"Penasaran siapa dalang dibalik semua ini, bahkan Hakim saja berpihak sama dia." Penuturan Putra membuat Nando merasakan aneh, ada kejanggalan.


Pemerintahan bungkam, membisu tampak berjalan tanpa ada persoalan. Nyatanya dalam diamnya semua hampir lenyap karena satu orang yang entah siapa dalang nya.


"Arya, hubungi Mr.X!" Perintah Nando.


Tidak menjawab tetapi langsung melaksanakan perintah.

__ADS_1


Arya mengirim kode kepada Mr.X tanda butuhnya informasi.


Putra dan Nando membiarkan Arya melakukan pekerjaannya.


"Gak usah mikirin Robert, Robert aman sama si Kembar. Yang nyulik Robert si Kembar." Penjelasan Nando, membuat Putra lega.


"Sekarang dimana?" Tanya Putra.


"Tidak perlu mengetahui, Raka dan Riki membawa ke tempat yang gak mungkin jadi perhatian orang." Tutur Nando.


Jika sudah begini Putra tidak lagi kepikiran, Putra mempercayakan kepada mereka. Akan tetapi satu lagi pertanyaan Putra.


"Ada yang tau Tania kemana?" Terdengar suara Putra emosinya mereda.


Arya mendengar ucapan Putra, tetapi tidak ada hak untuk Arya bercerita. Sudah seperti pekerjaan mana yang harus disampaikan dan mana yang harus disimpan.


"Tidak mendengar kabar. Dia juga tidak kesini." Jawab Nando yang menjadi lebih sering ke markas untuk membahas pencarian identitas Sniper.


"Arya …." Panggil Putra,


"Iya." Arya yang fokus dengan beberapa layar monitor di depannya menjawab tanpa menatap Putra.


"Lacak Tania sekarang ada dimana." Putra memerintahkan.


"Siap Brother." Hanya itu yang terjawab dari Arya.


Tidak butuh lama, Tania yang cukup bodoh tetapi pemberani lupa mematikan ponsel satunya yang nomornya diketahui oleh Arya.


Arya.


"Dia lagi aman juga, mungkin dia sedang ingin sendiri." Kata Arya, sangat mengetahui jika itu rumah Tania kedua yang tidak diketahui siapapun.


"Dimana dia?" Putra ingin mengetahui bagaimana kabar Tania.


"Kamu lagi emosi, biarin Tania mungkin dia lagi butuh sendiri." Nando juga menyetujui perkataan Arya.


"Tolong awasi Tania, jika ada kabar lagi segera kasih tahu aku." Putra berpesan.


"Aku sama Arya lagi menyelidiki Sniper." Nando memberitahu Putra tentang keberadaan Sniper.


"Sniper?" Tanya Putra.


Nando hendak menjawab, seketika dikagetkan dengan suara baliho Arya.


"Brother harus tahu tentang ini." Arya menyuruh Putra dan Nando mendekati.


Putra dan Nando berdiri di sisi kanan kiri Arya yang sedang duduk.


Tampak berita viral dimana-mana membicarakan Arika. Membuka identitas Arika si pembully.


"Kamu tidak bisa membantu dia, jika kamu membantu Jamie pasti akan tahu semuanya." Pesan Nando menepuk bahu Putra.


Putra menoleh,


"Biarkan dia mencari pengacara untuk menyelesaikan masalahnya. Tugasmu hanya tentang misi kita untuk mendekati dia." Nando mengingatkan.

__ADS_1


"Cari tahu keberadaan Arika dimana." Putra memerintah Arya untuk mencari keberadaan Arika.


Seperti sebelumnya hanya hitungan detik Arya sudah mengetahui keberadaan Arika. Terlalu pusing, harusnya Putra bisa memantau Arika dari ponselnya.


"Lihat dari ponselmu bukannya bisa?" Nando mengingatkan.


Putra frustasi menjambak rambutnya kasar.


"Jangan bilang kalau kamu mulai menyukai dia?" Nando bertanya, mengamati tingkah Putra.


Tidak ada jawaban.


Putra membiarkan Arika pulang, bukan kabar ini yang dirinya ingin dengarkan. Putra ingin Arika mengetahui semua kejadian yang ada di dalam rumah Jamie.


Tidak ingin gegabah, Putra menghela panas.


"Ingat kan tujuan kamu ngumpulin kita semua? Ingat kan kau sampai di titik ini untuk apa dan untuk siapa?" Nando kembali mengingatkan.


Arya hanya memperhatikan mereka berdua.


"Tenangin diri dulu, kita semua menuju jalan demi sahabat kita dan demi orang tua kamu." Mata Putra memerah, perasaannya campur aduk. Bagaimana bisa perasaan itu muncul disaat mendengar Arika sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Putra tidak bisa menyelamatkan Arika, Putra tidak bisa membantu Arika, apalagi menyembunyikan Arika lagi seperti saat itu.


Nando kembali menenangkan, disisi lain Nando sangat paham jika ini akan jadi resiko. Sama seperti yang sedang dialami Tania saat ini.


"Tenangin diri!" Ucap Nando lagi.


Wajah Bagas, Kinara dan wajah kedua orang tuanya tiba-tiba saja terbayang.


Putra menutup matanya, kehilangan mereka semuanya usai memaksa kembali berdiri demi misi.


---


"Dari mana?" Jamie bertanya pada Arika, mendengar berita membuat Jamie ikut geram.


"Minimarket." Arika berjalan melewati Jamie, pura-pura tidak mengetahui yang sedang terjadi.


"Sudah buka ponsel?" Tanya Jamie pada Arika.


"Ponsel? Uncle telepon Arika?" Tanya Arika menyembunyikan perasaannya.


"Masuk! Apapun yang terjadi jangan pernah keluar rumah, biar Uncle yang menyelesaikan." Pesan Jamie.


"Ada masalah apa Uncle?" Tanya Arika.


"Tidak perlu tahu, kamu masuk ke kamar. Jangan pernah keluar rumah!" Ucap Jamie, tidak ingin Arika mengetahui apa yang akan dirinya lakukan.


Jamie tidak akan tinggal diam, memusnahkan mereka yang menyentuh Arika adalah tujuan yang tidak boleh Arika ketahui.


Arika menuruti, Arika masuk kedalam kamarnya.


Jamie mungkin tidak mengetahui jika Arika masih mengikuti dan tidak pernah melupakan masa lalu. Arika memantau perkembangan berita tentang dirinya via ponsel.


Bersambung ….

__ADS_1


__ADS_2