
Suasana kelas yang hening ditengah-tengah pelajaran yang sedang berlangsung lama. Waktu terus berputar seakan-akan waktu bergerak lambat.
Murid-murid yang tak sepenuhnya memperhatikan penjelasan guru, berbisik-bisik dengan teman sebangku nya. Ada yang sekedar melihat sekilas, melempar gumpalan kertas, bahkan ada yang tertidur.
Di lain sisi, terdapat seorang gadis yang duduk tenang mendengarkan penjelasan.
Bulu mata lentik, mata indah bak biru laut dalam. Ia menopang dagu sambil sesekali melihat kearah jam yang berada tak jauh di depan.
5 menit lagi..
Ia memegangi perutnya yang mulai berbunyi, menutupi suara yang keluar seperti kokokan ayam, apakah cacing-cacing ini tidak bisa bersabar sebentar lagi?!
Ia menyesal tidak mengambil sarapannya tadi pagi, kalau saja dirinya tidak terlambat.
Namun, perlahan bunyi perut yang mengganggu dan perasaan laparnya mulai turun sedikit demi sedikit. Entahlah, mungkin makhluk kecil yang bersemayam di dalamnya sudah mulai tenang di dalam sana.
*KRRIINNNGGG!!!*
Seketika bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah berakhir.
"Baik, sekian untuk pelajaran hari ini, sampai jumpa minggu depan. Terimakasih." Seketika kelas menjadi gaduh dan bising pertanda penderitaan mereka telah berakhir.
Yumika menghela napas lega sembari merapikan buku-buku dan alat tulis nya lalu memasukkan nya kembali ke dalam tas. Ketika ia mulai beranjak dari kursi, seseorang yang tampak tak jauh memanggil nama nya.
"Yumiiii~!" Lambai seorang perempuan yang berada di depan pintu kelas. Yumi segera bergegas menghampiri asal suara yang terdengar familiar. "Chino." Yap, dia adalah teman baik yang mengisi hari-hari Yumika di sekolah. Mengapa? Semenjak kelas satu, Chino sudah menempel pada Yumi entah bagimana mereka bertemu.
"Ke kantin yuk!" Ajak Chino. Yumika mengangguk menyetujui ajakan teman nya.
Skip-
Yumika dan Chino mengobrol sambil berjalan ke kantin, "Hei, katanya ada menu baru lagi?" Tanya Yumika melirik Chino.
"Katanya sih begitu..~"
Tiba-tiba Yumika tak sengaja menabrak tubuh seseorang ketika mereka berbelok di tikungan.
"Aduh!" Sontak Yumi terdorong jatuh di lantai ubin sekolah dan mengaduh kesakitan. Chino yang khawatir mengulurkan tangan nya membantu Yumi untuk berdiri.
"Ma-maaf, Senpai. Saya tidak bermaksud. . . g-gomen." Ucap nya seraya menundukkan kepala nya.
"Eh, tak apa-apa. Aku tau kau tak sengaja." Ujar nya setelah membersihkan rok nya akibat jatuh tadi. "Uwaaa.... a-arigatou Senpai." Entah kenapa, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh.
Apa ini?
__ADS_1
Yumika mengangguk dan berlalu melewati adik kelas nya yang masih terdiam. Chino hanya mengekori Yumika.
Sesampai nya di kantin, mereka memesan makanan kesukaan mereka masing-masing dan duduk di pojokkan yang disana terdapat jendela yang cukup besar.
"Yumi~ tadi kau lihatkan? Adik kelas kita lumayan ya? Kakkooii~ kelas berapa ya? Kok aku gak pernah lihat? Apa pindahan ya?"Ucap Chino berapi-api dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan nya.
"Tidak tau. Memang aku ibu nya?" Jawab Yumika. Chino hanya mendengus kesal sambil memakan makanan kesukaan nya. Yumi hanya mengangkat bahu dan melanjutkan makan nya.
Tapi.. ucapan Chino tak sepenuhnya salah sih.
"Hei Chino, kapan kau memesan makanan lagi? Apa perutmu sanggup memakan semuanya?" Sedikit kaget ketika Chino mengambil piring makanan yang lainnya.
"Makanan ini enak banget! Yumi, kamu coba, deh!" Pekik Chino mengacungkan garpu.
"Kau ini dari dulu suka makan, ya.. tidak takut beratmu naik?" Goda Yumika.
"No...~ laki-laki zaman sekarang.. tuh, ya, sukanya yang berisi~!" Ucapnya seraya mengunyah makanan.
"Uh.. sudahlah, habiskan saja dulu."
Tanpa mereka sadari, ada sesosok yang tak jauh dari tempat mereka duduk yang sedari tadi memperhatikan mereka.
Sosok itu tersenyum.***
Sekolah sudah benar-benar sepi sekarang. Kenapa Chino tidak mencarinya di kelas? Tak mungkin ia tega pulang duluan tanpa dirinya. Apa dia sengaja? Yumika menggeleng-gelengkan kepala tak ingin berpikir negatif tentang teman nya. Tak mungkin juga Chino seperti itu.
Tapi kenapa Chino tidak menelpon atau mengirimi nya email? Mungkin saja ada alasan lain yang darurat hingga ia lupa mengabarinya.
Yumika mulai berjalan meninggalkan kelas nya.
Ia berpikir, seharus nya ia tidak menunggu Chino tadi. Tapi itu tak penting sekarang karena ia harus segera pulang. Yumika mulai menuruni tangga. Hingga sampai pada anak tangga yang terakhir, sekelebat bayangan menabrak tubuh Yumika namun untung nya ia tak jatuh menduduki ubin seperti kejadian siang tadi.
Sejak saat itu ia mulai berhati-hati jika melewati tikungan.
"G-gomen saya buru-buru jadi tidak liha... eh?" Sekelebat bayangan yang menabrak Yumika barusan ternyata adalah adik kelas yang tadi siang tak sengaja menabrak nya.
"Senpai?... g-gomen. Apa.. senpai terluka?" Tanya nya dengan sorot mata yang tampak khawatir.
Yumika hanya tersenyum tipis seraya berkata," Ah.. ie. Kalau begitu aku permisi." Yumika menundukkan sedikit kepalanya dan mengakhiri pembicaraan singkat itu.
Namun, tiba-tiba adik kelas itu berkata lagi. "A-ano! Senpai!" Suara itu terdengar lembut dan juga indah, Yumika seperti tersihir oleh suara nya.
"Ya? Ada apa?" Jawab Yumika setelah membalikan badan dan menatap nya kebingungan. "Ano... nama senpai.. siapa?" Tanya nya kikuk.
__ADS_1
"Yumika Yoshino." Jawabnya. "Ah, a-aku.. Shiro. Mohon bantuannya.. senpai." Senyum nya seraya menahan diri nya yang tenggelam dalam pesona yang dimiliki Yumika.
" Kaku sekali! santai saja. Selain itu.. anak kelas satu kenapa jam segini masih belum pulang?" Ucap Yumika di lanjuti dengan pertanyaan.
"Eh itu... tadi habis dari ruang guru." Shiro terlihat bingung. "Kenapa? Kau anak pindahan ya?" Lanjut Yumika. "Iya, itu.. surat-surat pindahan.. dokumen-dokumen..." Shiro semakin bingung ingin mengatakan apa. Sangat jelas tergambar di raut wajahnya. Yumika hanya diam menatap lawan bicara nya hingga membuat Shiro tersadar lalu menundukkan wajah nya gugup.
Melihat itu, Yumika bertanya tanya. Ada apa dengan anak ini?
"Astaga! Sudah jam setengah 6. Aku duluan ya, hati-hati Shiro~!" Pekik Yumika setelah melihat jam dinding yang berada tak jauh di dekat nya lalu melambaikan tangan nya sekilas dan pergi meninggalkan Shiro sendirian.
.
.
.
.
.
Hening.
....
Shiro masih terdiam. Ia terpaku. Diletakkannya telapak tangan di dada kirinya.
... Apa ini?
Ia merasakan ada sesuatu yang meledak-ledak. Apa ia terkena serangan jantung? Penyakit jantung koroner? Gagal jantung sementara? ...Ataukah? Yang jelas ini tak mau berhenti. Ia merasa dada nya sesak... dan juga panas.
Seketika Shiro merasakan wajah nya memerah.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
"Yumi senpai..." Gumam nya. Ntah apa yang dipikirkan nya saat ini.***