Loved By Yandere-Kun

Loved By Yandere-Kun
Perasaan Yang Tak Terbendung


__ADS_3

.


.


.


"Kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya, ada apa?" Heran Chino, melihat sikap Yumika yang berubah aneh. Sejak tadi, ia tak ingin keluar dari kelasnya hingga jam istirahat meski Chino mengajaknya.


"Apa? Aku lagi suka aja." Singkat Yumika seraya memainkan ponselnya. Ia menekan-nekan tombolnya seraya memasang headset yang baru saja dikeluarkan.


"Benarkah? Yasudah, aku mau ke kantin dulu." Chino pun berlalu dari sana karena sepertinya Yumika tetap tak mau berdiri dari bangkunya.


Setelah ia pergi, Yumika tak bisa lagi menahan kekhawatirannya. Suasana sekolah yang tenang dan damai seperti biasa, namun lain ceritanya kalau ia mengingat kejadian kemarin.


Aku sungguh berharap itu bukan apa-apa.


Ia takut tak bisa pergi bebas sekarang. Ia lebih memilih untuk berada di kerumunan banyak orang daripada sendirian.


Ah.. apa yang harus kulakukan? Batinnya.


Sepertinya Yumika sekilas melihat sosok Shiro yang lewat di depan kelasnya sontak saja ia menjatuhkan dirinya di lantai dan bersembunyi diantara meja dan kursi.


"Wah..", apa Shiro mencarinya?


"Eh? Tadi aku melihatnya di pojok sana.. sepertinya dia sudah pergi." Ucap seseorang dari kejauhan, terdengar oleh Yumika setelah mengecilkan volume lagu yang di putarnya saat itu juga.


Benarkan?


"Dia betul-betul mencariku." Gumamnya.


Merasa sudah tak ada suara percakapan lagi, iapun membesarkan volume untuk mendengarkan musik.


Aneh sekali, Yumika mendengarkan lagu di situasi seperti ini?


Asalkan ada Chino, ia tak sendirian.


.


.


.


.


"Chino lama sekali, dia tak lupa denganku, kan?" Yumika sudah bilang akan pulang bersamanya hari ini. Tapi, kenapa sampai jam segini dia belum kelihatan?


"Yumi.. senpai!" Panggil seseorang membuat Yumika kaget sampai jantungnya ingin keluar.

__ADS_1


Suara ini..


"Yumi senpai," Suara itu sekali lagi memanggil namanya. Langkahnya bergeming, dadanya berdebar-debar karena takut.


Shiro mendekati Yumika yang tak bergerak bahkan berbalik menghadapnya.


Dia.. pulang duluan?! Tak kusangka Chino mengkhianatiku. Batin Yumika, merasa resah dan gelisah.


Yumika merasakan tangannya diraih oleh sesuatu yang hangat.


"Yumi senpai.. pulang yuk?" Ajaknya dengan suara hangat dan lembut.


"Aku... aku ada janji. Kau pulang saja duluan." Ucap Yumika, berbohong. Suara nya memang terdengar lembut, tapi itu lebih menakutkan baginya sekarang.


Seketika raut wajah Shiro terlihat sedih.


"Souka~ apa aku.. harus membunuhnya juga?" Ucapnya dengan suara yang pelan.


"Apa?" Seketika Yumika terkejut dan membalikkan badannya, menatap Shiro tak percaya.


"Aku tak suka. Kamu hanya boleh pulang denganku." Ucap Shiro dengan senyum di wajahnya.


Tak bisa di percaya, dengan tenangnya Shiro mengatakan semua itu dengan senyum secerah itu.


"Aku tak bisa pulang bersamamu lagi." Kini ia memberanikan diri untuk angkat bicara, ia hanya tak bisa membohongi hatinya.


"Apa?" Kini giliran Shiro yang tak percaya menatap dirinya. Yumika hanya mengucapkan kata 'maaf' dan membalikkan badannya lagi, berjalan menjauh.


"A-apa yang kau lakukan? Lepaskan.." Ucap Yumika dengan suara gemetar.


"Aku mencintaimu.. jadilah pacarku." Pupil mata Yumika bergetar.


Apa?!


Ia hampir saja tercengang oleh perkataan Shiro barusan.


Kalau kalian mengira Yumika akan menolaknya karena takut, kalian salah. Ia masih memiliki perasaan pada adik kelasnya yang 'berdarah dingin' ini.


Psikopat? Dia baru saja melihatnya membunuh seseorang kemarin, bahkan tempatnya di sekolah. Bukankah itu gila?


Sebenarnya ingin sekali ia menerimanya, tapi! Perasaan miliknya seperti tertahan.


"Maaf.." Ucap Yumika kemudian setelah menelan salivanya dan menggerakan badannya untuk lepas dari pelukan Shiro.


Bukannya malah melepaskan, Shiro malah membawa dirinya ke hadapan Yumika dan menciumnya.


Lagi-lagi Shiro membuatnya terkejut seolah-olah ini seperti mimpi yang tak kunjung usai.

__ADS_1


"Shi- lepas!" Shiro tak ingin melepaskannya, ia semakin dalam menciumnya.


"Shiro!!" Yumika berhasil melepaskan setelah menghabiskan sekuat tenaganya untuk menjauh.


"Aku mencintaimu Yumi senpai, aku mencintaimu." Seperti tak menghiraukan ucapan Yumika, ia kembali mendekatkan wajahnya dan menggapai lembut rambut Yumika. menciumnya dengan mata yang redup seperti kehilangan cahaya.


Melihat itu, bukannya marah, hati Yumika seperti tertusuk duri. Rasa sakit yang halus. Perasaan seperti tak rela yang terselipkan sebuah harapan.


Ia mengangkat tangannya ragu, perlahan dan menyentuh wajah laki-laki yang terlihat menyedihkan ini. Menakutkan, tapi juga terdapat kesedihan. Apa ia tak salah lihat?


Sepertinya perasaannya semakin memberontak seiring waktu. Dia pembunuh! Seharusnya ia membencinya. Seharusnya ia menghindari, menjauhinya, dan pergi secepatnya.


Shiro seakan-akan mengikatnya dengan kuat sekarang.


"Yumi senpai.. jangan pergi.. jangan menjauhiku.. aku tak bisa seperti itu. Rasanya seperti ada yang hilang." Yumika dapat melihat jelas kedalam matanya. Hampa.


"Kau.. akan membunuhku?" Tanpa sadar Yumika melontarkan pertanyaan itu. Ia menutup sebagian wajah dengan telapak tangannya, tak berani menatap Shiro sekarang.


"Aku takkan pernah melakukan itu! Sungguh!" Yumika masih menutup wajahnya, masih ada ketakutan di sela wajahnya yang memerah.


Bagaimana ini.. apa tak apa aku menerimanya saja? Ia memberanikan diri untuk menatap wajah Shiro.


Tampak sedih. Sorot mata itu terlihat sedih.


"Aku mau.." tak sempat Yumika melanjutkan ucapannya, suara seseorang memanggilnya dari kejauhan.


Itu Kuro.


"Yumi Chan? Kenapa belum pulang jam segini? Orangtuamu akan marah sekali." Ucapnya sembari menghampiri mereka dengan menyunggingkan senyum.


Tatapan Shiro seketika menjadi tak suka dan benci.


"Kenapa kau kesini? Jangan datang mengganggu. Yumi senpai, ayo kita pergi dari sini." Ucapnya seraya menarik tangan Yumika, menjauhi Kuro.


"T-tunggu, orangtuaku?" Yumika menahan Shiro yang menariknya, seketika membuatnya makin tak suka. Kuro sialan, kau mengganggu sekali.


"Sepertinya waktunya belum tepat. Kalau begitu aku duluan, ada hal penting yang harus kulakukan." Ucapnya melemparkan senyum manis dan melirik Shiro yang tampak mengeluarkan aura gelap di sebelahnya.


Yumika ikut melirik Shiro, dia terlihat seram!


"Jaa ne~ sampai ketemu lain waktu, Yumi Chan." Setelah mengerlingkan sebelah matanya, Kuro pun pergi dari sana.


Yumika hanya melongo, mengerjapkan matanya sekali lagi untuk memastikan. Itu.. benar kakaknya Shiro, kan? Laki-laki di sebelahnya menggenggam jemari Yumika erat.


"Ayo! Kita pulang sekarang." Yumika tersadarkan, sepertinya dia benar-benar marah..


Darimana kepercayaan diri itu?!

__ADS_1


Yumika hanya mengatakan 'ya' lalu membiarkannya menggenggam tangannya. Hangat! Ia tersenyum dengan semburat merah di pipi, menatap punggung lebar Shiro dari belakang.


Apakah cinta membutakan matanya? Ia sungguh tak ingin seperti ini. Tapi.. ia hanya perlu Shiro menuruti permintaannya, dengan begitu semuanya pasti akan berjalan baik-baik saja tanpa ada lagi korban yang jatuh. Ia hanya bisa berharap yang terbaik kedepannya. Ia sudah tak takut lagi karena ia tahu, Shiro mencintainya. Ia sudah berjanji.***


__ADS_2