
Kusapukan pandanganku ke sekitar area. Tapi, tak sekalipun kudapatkan sosok mereka.
Ah sial.
Cepat sekali mereka menghilang.
Kucoba memeriksanya sekali lagi.
Tetap tidak ada.
Sialan. Kemana mereka pergi?
Mungkin saja ada tempat yang belum kudatangi, sepertinya.
Setelah sekian lama mencari dan berkeliling di keramaian siswa siswi, samar-samar tak sengaja kudengar suara yang terdengar familiar.
Kenapa mereka sampai perlu jauh-jauh hanya untuk ke sini?
Tempat nya cukup terbuka, membuatku tak bisa mendekat untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Uh.. apa yang mereka obrolkan?
Kulihat Yumi senpai dan laki-laki asing itu saling berhadapan dengan jarak yang cukup renggang. Mereka sedang membicarakan sesuatu namun aku tak tahu apa yang mereka bicarakan! Aku sungguh penasaran! Sialan.
Kukepalkan tanganku, Yumi senpai tersenyum?
Nyutt..*
Kenapa kau tersenyum padanya..?
Sungguh mengesalkan, ingin ku bunuh saja laki-laki itu.
Mendadak mereka ke arah sini membuatku sedikit terkejut.
Sedetik kemudian kutinggalkan tempat itu dan menjauh dari mereka dengan perasaan yang kacau.
Kejadian tadi terus terbayang di pikiranku, membuatku tak bisa berkonsentrasi sama sekali.
Mengingat bagaimana Yumi senpai tersenyum pada seorang laki-laki yang bahkan tak pernah kulihat, membuat dadaku sesak.
"Kenapa soal nya begini?" Gumam ku mengernyitkan dahi menatap sebuah kertas. Entah mengapa itu membuat kekesalan ku makin bertambah.
Kuhembuskan napas berat.
Akhir nya kuletakkan bolpoinku di atas meja sambil menopang dagu melemparkan pandangan ke luar jendela.
Aku tak begitu jelas melihat wajahnya karena jauh.
Tapi..
Senyum itu.
Pandanganku menjadi gelap dan kehilangan arah.
__ADS_1
"Seharus nya senyum itu hanya tertuju padaku.." Apa Yumi senpai masih mengingat pernyataanku kemarin? Kuharap ia masih mengingat nya. Aku tak ingin membuang waktu lagi sehingga dapat dengan mudah nya orang lain merebutmu dariku.
Yumi senpai tak boleh menyukai orang lain selain aku. Kau hanya boleh menyukaiku.
°°°
Yumika berjalan melewati koridor menuju ruang guru sembari memegang sebuah buku di tangan nya. Karena Toyama, ia jadi lupa untuk mengumpulkan tugasnya. Yumika baru mengenal Toyama beberapa waktu yang lalu, karena secara tiba-tiba seamplop surat terselip di antara loker milik nya pagi tadi.
Itu membuat nya cukup terkejut karena selama ini, tak ada satupun lelaki yang pernah melakukan bahkan mengutarakan perasaan kepada nya.
Di lain sisi, Yumika ingat bahwa Shiro juga mengungkapkan perasaan nya kemarin, di rumah nya.
Bagaimana aku akan mengatasi ini..
Ia tak menyangka, kini ada dua orang lelaki yang mengatakan suka kepada nya.
Sebenar nya, Yumika tak tahu harus bagaimana. Saat ini, ia tak ada niatan untuk terikat dengan lawan jenis. Ini membuatnya cukup frustasi.
Yumika segera meletakkan tugas nya di atas meja guru setelah sampai di sana beberapa saat yang lalu dan kembali ke kelas.
"Yumi senpai.." Ucapan Shiro membuat nya sedikit tersentak.
"Ada apa, Shiro?" Yumika sedikit memalingkan wajah meliriknya, seraya mereka berjalan beriringan.
"Laki-laki yang bersama mu waktu jam istirahat tadi.. siapa?" Yumika kaget. Darimana dia tau? Apa dia melihat nya?
"Yumi senpai..?" Ulang Shiro dengan wajah yang tampak khawatir.
"A-ah, bukan siapa-siapa. Sungguh! Kenapa kau bertanya?" Timpal Yumika seraya menatap jalanan untuk menutupi kegugupannya.
"Oh.. aku melihatmu jalan bersama nya tadi siang. Begitu ya." Ucap Shiro sembari tersenyum tipis.
Seketika suasana menjadi hening.
Situasi... macam apa ini?!
Yumika merasa canggung. Ia melirik Shiro sekilas.
Seketika ia terkejut dan kembali menatap lurus jalanan.
Jujur saja, ini pertama kali nya ia melihat ekspresi Shiro yang terlihat berbeda selama ini.
Mata itu.. terlihat kecewa, marah, dan juga.. sedih. Tampak jelas oleh Yumika meski ia memasang wajah yang datar.
Yumika merasa tak enak. Ia merasa harus membuka pembicaraan.
"Etto, seperti nya kita sudah sampai. J-ja..~ Sampai ketemu di sekolah, Shiro." Ucap Yumika setelah mereka sampai di persimpangan tiga seraya tersenyum kikuk.
Untung saja sudah sampai sini.
Fyuh*
Belum saja Yumika berbalik setelah melambai kecil, Shiro yang diam sedari tadi kini memegang bahu nya dan menyudutkannya di tembok.
__ADS_1
"Shi-Shiro?" Yumika terperanjat. Ia kaget tiba-tiba Shiro mendorong nya sampai ke tembok.
"Yumi senpai.." Ucap Shiro pelan membuat Yumika tak bergeming kebingungan.
"Apa aku saja tak cukup..?" Kalimat itu berhasil membuat Yumika membuka mata nya lebar-lebar.
"A-apa maksud mu?" Ia paham benar arah pembicaraan ini. Namun, Yumika masih tak mengerti apa yang ia bicarakan.
"Sakit sekali rasa nya melihat mu bersama laki-laki lain selain aku." Shiro tak menatap wajah Yumika. Bahkan Yumika sendiri, tak dapat menangkap bagaimana ekspresi nya saat ini. Ia hanya diam tak tahu harus menjawab apa.
"Yumi senpai.. kau tau kan..? Kalau aku menyukai mu?" Kini Shiro mengangkat wajah nya menatap Yumika.
Tergambar jelas, raut wajah yang tampak sedih bercampur pahit. Shiro tersenyum, namun itu justru membuat nya lebih buruk.
"Shi-Shiro.. " Yumika menundukkan wajah menatap sepatu Shiro dan juga diri nya. Ia meneguk saliva nya sebelum berbicara lagi.
"Itu.. " Sungguh, ia benar-benar seperti ingin mati saja. Ia tak menduga akan begini jadi nya. Keringat dingin mengucur di pelipis nya, berusaha mencari kalimat yang tepat.
Shiro melepas bahu Yumika dan menangkup telapak tangan kanan nya, menuntun ke dada nya yang kini berdetak kencang.
Yumika sedikit tersentak.
"Kau tau Yumi senpai.. setiap kali melihat mu, jantung ku tak bisa berhenti untuk berdebar-debar. Aku tak terbiasa setiap kali kau menampilkan senyum seperti itu, tapi melihat nya juga membuatku senang." Senyum Shiro terlihat menyayat di mata Yumika. Ia pun turut seperti merasakan apa yang ia rasakan.
"Kumohon, tersenyum hanya padaku saja, ya?" Yumika menatap manik-manik mata Shiro yang menatap nya intens dan dalam.
"B-baiklah." Hanya itu kata yang terlintas di pikiran nya.
"Benarkah?! Syukurlah~ Arigatou~! Aku menyukaimu Yumi senpai~" Seketika Shiro memeluk diri nya, mendekap nya erat kepelukkan nya. Shiro tampak senang dan bahagia, hanya karena jawaban singkat itu.
Yumika yang kaget Shiro memeluknya, sedikit tersipu.
"A-ano.. Shiro.." Ucap Yumika pelan.
"Ne, Yumi senpai?" Meski kini ia sedang tersenyum bahagia, namun Yumika tak dapat melihat nya.
"Se-sesak..." Kata Yumika pelan dengan wajah yang sedikit memerah.
"Ma-maaf! Kau tak apa? Aku tak mengira kau akan mengatakan itu, jadi.. aku senang sekali." Ucap Shiro tersenyum setelah mengakhiri pelukan nya dan menatap wajah Yumika yang sedang mengatur napas.
"Um.. seperti nya sudah mau gelap. Ka-kalau begitu, sampai ketemu besok di sekolah." Ucap Yumika sambil tersenyum kecil.
"Ah, benar. Seperti nya sudah mau larut. Maafkan aku.. gara-gara aku.." Shiro mendekat ke arah Yumika yang kikuk.
Ia membelai pelan wajah nya yang terasa hangat, membuat Yumika menjadi kaku. "Nja~..Sampai besok~ Yumi sen-" Sebelum ia menyelesaikan kalimat nya, wajah Yumika menjadi merah merona. Tampak jelas dan itu bahkan lebih merah dari tomat.
"Eh? Yumi senpai, kau sakitkah? Kenapa wajah mu merah sekali?" Ucap Shiro khawatir dengan menangkup wajah Yumika dengan kedua tangan nya.
"Ti-tidak! Aku baik-baik saja!! J-jaa ne!" Setelah mengatakan itu, secepat kilat ia menjauh dari Shiro dan pergi begitu saja dengan wajah merah padam.
Shiro hanya membatu melihat kepergian Yumika.
Ia kemudian tertawa kecil.
__ADS_1
"Lucu sekali.. kawaii ne..~" Shiro menghapus air mata nya yang keluar karena tertawa. Sudah lama ia tak merasakan hal seperti ini.
Aku takkan pernah melepaskan mu, Yumi senpai..***