Loved By Yandere-Kun

Loved By Yandere-Kun
Hati Yang Terbakar (2)


__ADS_3

.


.


.


.


Shiro mendekatkan wajahnya, menyisakan beberapa centi dengan wajah Yumika yang memerah.


"Ada apa Yumi senpai~? Bukankah kamu ingin melihatku lebih dekat..?" Jantung Yumika berdenyut lebih cepat, seperti sebuah drum yang sedang bermain di dalam sana. Sangat kencang hingga terasa ingin keluar.


"Shi-Shiro.. i-ini terlalu.. dekat.." Suaranya bergetar, ia dapat melihat jelas, bahkan detail diwajahnya.


Ja-jangan sampai detak jantungku.. terdengar olehnya.


"Kenapa Yumi senpai..? Mm~?" Shiro mendekat ke telinga Yumika dan membisikkan sesuatu,


"Ne.. katakan padaku, hanya aku saja yang ingin kamu lihat, kan? Hanya aku saja.. satu-satunya yang kamu cinta, kan?"


DEG.


Ukh..! Sepertinya aku akan gila dalam hitungan detik, aku harus mengalihkan topik..!


"Ya ampun!! Aku lupa wali kelas sedang mencariku di ruangannya, a-aku kesana dulu ya, a-aku akan segera kembali.!" Yumika dengan cepat menjauhkan diri dan pergi secepat yang ia bisa.


.


.


.


.


.


"Kukira aku akan mati tadi.." Yumika menghela napas, situasi yang menakutkan. Jantungnya masih belum berhenti berdebar-debar.


Ah.. mata biru itu.. hampir saja menyihirku.


"Uh.. sepertinya aku harus ke UKS." Membayangkan apa yang terjadi sebelumnya, masih membuat tubuhnya gemetar. Bukan karena takut, namun ia dilanda kegugupan yang luar biasa sebab sikap Shiro yang tak biasa.


"Aduh!" Tiba-tiba seseorang muncul secara mendadak dan menubruk Yumika hingga terjatuh.


"Uwaa..! Maaf! Kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Seorang laki-laki berperawakan tinggi dan berwajah cantik menjauh dari tubuh Yumika dan membantunya berdiri.


Rasanya.. seperti dejà vu?


"Ie, daijoubu.. eh? Kamu.. yang di taman itu?" Ia merasa mengenali wajah ini sebelumnya.


"..Apa? Ah.! Kucing.. neko-chan, ya?" Mendengar itu, Yumika tersenyum geli.


Neko.. ?


"Ternyata benar kamu yang menolongku mengambilkan kucing yang diatas pohon itu.. terimakasih, aku baru sempat mengatakannya sekarang." Ucap Yumika ramah.


"Eh.. i-ie! Ie, aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu saja, oh ya.. aku belum tau namamu?" Laki-laki cantik itu tersenyum lembut, membuat Yumika sedikit terpana.

__ADS_1


Benar-benar.. cantik!


"Yumika.."


Mereka pun berbicara panjang, ternyata laki-laki itu memiliki rasa suka terhadap kucing, sama seperti dirinya.


Namun mereka pun tak sadar, ada seseorang yang agak jauh memperhatikan setiap gerak gerik mereka.


Siapa.. siapa? Siapa dia? Siapa?!


Rasa kesal dan amarah menguasai hati dan pikirannya. Pandangannya tak lepas dari mereka, cahaya seperti meghilang dari matanya.


Sosok itu menggigit kukunya sendiri hingga berdarah, menyaksikan dua orang yang terlihat dekat.


"Ano.. kalau begitu aku permisi dulu, aku harus keruang guru," Ucap Yumika berbohong.


"Ah, iya, sampai nanti." Mereka akhirnya berpisah dari sana, sosok dibelakang tembok itu pun meninggalkan tempatnya dengan perasaan aneh yang berdenyut, terasa sakit.


Aneh..


.


.


.


.


.


.


"Ah, Shiro! Kamu kemana saja? Aku terus mencarimu," Ucap Yumika terkejut, "Mencariku..?" Shiro melirik seseorang disebelah Yumika.


"Aku sudah mencarimu ke kelas dan menanyakan pada teman sekelasmu, tapi mereka juga tidak tau.. kamu membuatku khawatir.!" Yumika mendekat kearah Shiro dan meraih tangannya.


Shiro hanya membuang muka, membuat Yumika sedikit bingung.


"Ah ya, dia ini pacarku, Shiro. Shiro.., dia orang yang menolongku mengambilkan kucing di taman, Haruka." Shiro terus menatap laki-laki yang tak terlalu tinggi darinya itu, mungkin hanya 3 atau 4 cm saja.


Laki-laki yang cantik? Sangat di bawah standar..


"Ah.. kamu pacarnya? Ternyata orangnya seperti ini.." Kata Haruka tersenyum lembut.


Ck. Memang kenapa?


"Kami sangat sibuk, harus pergi sekarang. Terimakasih sudah menolong kekasihku." Tersenyum, lebih tepatnya senyum paksa yang terlihat jelas.


Haruka hanya tersenyum menatapnya. Pandangan mereka seperti sedang beradu, Yumika merasakan atmosfer yang tak enak sedang berlangsung.


Duh!


"A-ah.. k-kalau begitu kami pergi dulu ya, Haruka hati-hatilah di jalan." Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun beranjak meninggalkan Haruka yang melambai kecil dengan senyumannya.


"Hm.." Beberapa detik memandang kepergian mereka, ia pun segera menghilang dari sana.***


"Shiro.. tanganmu.. kenapa jarimu bisa jadi seperti ini? Apa yang terjadi?" Tanya Yumika khawatir seraya menangkup dengan hati-hati dan memperhatikan luka dijemarinya yang terlihat sangat buruk. Darahnya belum mengering sepenuhnya, akan terasa sangat ngilu jika di perhatikan lebih lama lagi.

__ADS_1


Shiro tak bersuara, ia juga sama sekali tak menatapnya.


Yumika menatap Shiro, "Lukanya akan terinfeksi jika tak segera di obati, aku akan mengambil kotak P3K, dimana tempatnya?" Tanya Yumika lagi sembari berdiri dari duduknya.


"Kenapa..? Kamu khawatir? Luka ini termasuk kecil bagiku." Ucap Shiro, akhirnya ia mengatakan sesuatu.


"Bagiku tidak." Beranjak pergi meninggalkan Shiro sendirian.


"Mau kemana?"


"Mengambil P3K," Timpal Yumika sudah agak sedikit jauh.


"Hm.." Shiro tersenyum tipis. Ditatapnya jemarinya yang terlihat benar-benar sudah seperti cat merah. Bagaimana mendeskripsikannya? Baginya ini sungguh bukan apa-apa dibanding apa yang dilihatnya tadi siang.


.


.


.


.


.


.


Yumika mengambil sebuah kotak P3K diatas rak di dapur lalu kembali ke ruang tamu, tempat dimana Shiro menunggunya.


Kenapa hanya kotak P3K saja yang harus ditaruh ditempat tinggi seperti itu? Tak tahu betapa pentingnya benda ini jika dibutuhkan! Gerutunya dalam hati.


Ia benar-benar datang kerumahnya, setelah beberapa jam lalu Shiro memintanya berkali-berkali membuatnya mau tak mau mengabulkan permintaannya untuk datang. Alasan? Ia tak mengatakan apapun tentang itu.


Tapi, apa butuh alasan? Ah.. kepalanya tiba-tiba jadi pusing sekali memikirkan hal-hal rumit.


"Shiro, aku-" Betapa terkejutnya Yumika menyaksikan apa yang dilihatnya.


"Shiro! Kalau begitu lukanya akan melebar dan makin parah!!" Dengan cepat Yumika meletakkan P3K diatas meja dan menghentikan Shiro yang sedari tadi melukai jarinya hingga menjadi demikian serius.


"Hentikan itu, apa yang kau lakukan?" Yumika kini super tak mengerti jalan pikirannya.


"Dengan begini, kamu jadi.. lebih memperhatikanku, kan?"


Bodoh!


"Apa?" Sedikit terkejut, apa yang dikatakan Shiro tak pernah terlintas di bayangannya.


"Dengan melukai dirimu sendiri? Oh ya ampun.. kuharap aku tak pernah mendengar itu." Ucap Yumika sedikit terbawa emosi.


Kenapa tidak? Orang mana yang tak peduli pada kekasihnya? Kecuali bila ia memang tak menyukainya, atau mencintainya.


"...Yumi senpai.."


"Bukan, bukan begitu. Maksudku, siapa yang tak khawatir melihat orang yang disukainya terluka? Jangan bicara lagi, aku akan mengobatimu sekarang." Jelas Yumika seraya mengulur dan menangkup tangan Shiro yang terluka tadi.


"Parah sekali! Hal bodoh apa yang barusan kamu lakukan?" Protes Yumika sambil membersihkan lukanya, memberikan antiseptik dengan kapas, dan membaluti lukanya dengan kasa steril.


Kini luka Shiro tertutup rapi dan lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2