
.
.
.
.
.
.
"Mohon tunggu sebentar," Ucap pelayan itu setelah selesai mencatat dan mengkonfirmasi sekali lagi pesanan mereka, lalu beranjak pergi dengan sopan.
"Yumi, tempat ini bagus banget, kan? Aku sudah tak sabar menunggu makanannya datang." Ucap Chino memberikan tanggapan.
"Hm, bisa dibilang aku nyaman dengan nuansanya." Timpal Yumika.
Yumika memang tipe yang sederhana. Ia suka hal-hal yang tenang dan damai.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang pelayan laki-laki datang dengan nampan di atas tangan kirinya, membawa pesanan Yumika dan Chino yang sedang mengobrol kecil dipojok sudut ruang kafe.
Dengan terampil dan cekatan, ia lantas meletakkan pesanan mereka diatas meja.
"Maaf membuat nona sekalian menunggu lama, selamat makan dengan sant..." Ucapan pelayan itu tersendat ketika melihat wajah salah satu dari pengunjung didepannya.
"Kakaknya Shiro?" Lontar Yumika tanpa sadar.
"Eh? Kamu kenal, Yumika??" Tanya Chino melihat reaksi mereka bergantian.
"Iya, dia.. Kuro." Yumika mengingat-ingat, ia mendengar Shiro sekilas pernah meneriakkan namanya waktu insiden mengerikan malam itu.
Ia lupa.. bahwa kedua kakak beradik ini pernah bertengkar saat itu.
Kuro tersenyum, "Yumi-chan~ ne. Sudah lama ya? Bagaimana kabarmu?" Sapa Kuro dengan hangat.
"Jadi.. dia kakaknya? S-sangat.. oh memang ada kemiripan di matanya." Komentar Chino menatap Kuro dari bawah sampai keatas.
Kuro hanya terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
"Kabarku baik. Bagaimana denganmu? Ternyata kau bekerja disini, tak kusangka akan bertemu dengan cara seperti ini." Ucap Yumika terus terang.
"Yah.. kabarku begitu saja. Tak terlalu buruk dan tak terlalu baik." Senyumnya merekah.
"Jadi.. baik atau buruk?" Timpal Yumika lagi meninggikan sebelah alisnya.
Kuro sedikit tertawa,
Seseorang memanggil namanya dari jauh yang ternyata adalah rekan kerjanya.
"Yumi chan tak pernah berubah, ya. Aku permisi dulu, nanti kita ngobrol lagi." Setelah mengatakan hal itu, Kuro mengerlingkan sebelah matanya tersenyum dan berlalu pergi dari meja mereka.
"Ya ampun Yumikaaa, bagaimana kamu bisa kenal cowok tampan begitu? Kemarin Shiro, sekarang Kuro? Kakaknya?" Jerit Chino gemas dengan Yumika setelah Kuro agak menjauh.
"Apa yang kamu katakan? Sudahlah ayo makan saja~ keburu gelap sampai rumah," Balas Yumika.
Chino mengkomat kamitkan bibirnya sebal karena Yumika selalu saja begitu.
.
.
.
.
.
.
.
"Hmmm~,"
Pukul 17:32 PM
Di tengah kota yang ramai nan penuh dengan pejalan kaki yang berlalu lalang, mereka terkejut melihat pemandangan dengan jarak yang cukup jauh didepan sana.
"Yumi.. Yumi.. i-itu.." Suara Chino bergetar, kakinya lemas melihat apa yang ada didepan kedua matanya.
Sungguh tak bisa dipercaya.
"Itu.." Yumika tak kalah terkejut. Kedua lawan jenis yang terlihat mesra dan seperti pasangan itu.. oh. Mereka sedang berangkulan.
"Kuharap apa yang kulihat ini bukan dia. Mungkin salah orang.." Ucap Chino optimis.
Kedua sejoli itu mendekat kearah mereka, pun sangat kaget ketika melihat Chino.
"C-Chino," Gumam laki-laki yang berada dihadapan mereka kaku seakan tertangkap basah seperti sedang melakukan pencurian.
"Oh."
"A-ah kenalin ini sepupuku, namanya Hera." Gagapnya tersenyum kikuk melirik gadis yang dipanggil Hera itu.
"Hera?" Ucap Chino tersenyum pahit berganti menatap Hera.
Yumika tak tega. Ia pun merasakan sakit Chino dan emosinya mulai meluap.
__ADS_1
"Oh~? Lalu kenapa waktu melihat kami, kau tampak kaget sekali? Sepupu? Bukankah cuma sepupu? Santai saja~ jangan jadi grogi begitulah," Pekik Yumika dengan suara yang tenang sembari mengangkat sebelah alisnya tersenyum.
Kedua orang itu tersentak.
"Hai sepupu, kau cantik sekali ya sampai bisa mengambil pacar orang? Mungkin kau tak perlu khawatir bisa menggaet lebih banyak laki-laki lain yang sudah punya pacar. Tingkatkan bakatmu, nak!" Soraknya gembira dengan nada polos namun tajam menusuk.
"K-kamu!!" Bentak gadis itu emosi. Laki-laki disebelahnya menahan gadis itu dengan susah payah agar tak mengundang sorotan banyak orang.
Ah.. dia memakan pancinganku. Bagus sekali. Bantinnya tersenyum puas.
Yumika melirik Chino yang terdiam sejak tadi, mungkin ia sangat terpukul. Siapa yang tahu hal ini akan terjadi?
"Heh, kau tak bisa membalas perkataanku, kan? Gadis seperti kamu itu banyak, terlebih laki-laki tak tau terima kasih macam dia. Yah intinya selamat bersenang-senang~ kalian sangat cocok satu sama lain~ sampah harusnya dengan sampah juga, kan?" Pekik Yumika lagi sembari tersenyum setenang dan sekalem mungkin agar panahnya lebih tajam lagi ketika di tembakkan.
"Apa?!! KURANG AJAR!!" Sebelum gadis itu mulai menampar Yumika, dengan cepat Chino melakukannya lebih dulu hingga ia terjatuh menduduki tanah dan menjerit kesakitan.
"Rane... dia mendorongku sampai jatuh.. sakit sekali.." Rengeknya pada laki-laki yang disebut Rane di sebelahnya, sambil memegangi pipinya yang merah terkena tampar tadi.
Rane membantu gadis itu berdiri, Chino melihat itu hatinya bertambah perih.
"Kita pergi saja." Singkatnya.
"Apa?! Mereka tadi menghina dan memukulku!!" Rane tak menjawab, ia berbalik dan menyeret gadis itu sedikit kasar.
"Jadi.. karena dia kau jadi jarang menghubungiku akhir-akhir ini? Bahkan 1 pesanku pun, perlu waktu berjam-jam kau balas." Ucap Chino setenang mungkin meski kakinya lemas tak bertenaga.
Kau masih tak sadar ju-!?" Rane mencengkram sedikit erat tangan Hera, menghentikannya.
"Iya." Singkat, padat, dan jelas.
Mereka pun pergi dari sana meninggalkan Yumika dan Chino yang masih ditempatnya.
Saat itu juga Chino langsung menumpahkan air mata yang ditahannya sejak tadi.
Perasaannya yang retak dan hancur kini telah jatuh menghantam batu yang keras.
"Chino.. sudah jangan menangis, dia laki-laki yang tak pantas kau tangisi. Dia terlalu bodoh, benar-benar tak bisa melihat siapa yang benar-benar mencintainya. Ingat, dia itu bodoh!" Umpat Yumika, mengeluarkan kekesalan sekaligus menghibur temannya ini.
"Hehe..- hiks.. i-iya.. ma- hiks makasih Yumi.. kamu memang temanku satu-satunya yang paling baik didunia!" Pekik Chino di tengah tangisannya, ia berusaha tersenyum.
Berusaha melupakan seseorang yang sangat di cintai memang tak mudah, namun perkataan Yumika membangun niatnya perlahan.
Sudah tak bisa di apa-apakan, lagi, kan?
Nasi sudah menjadi bubur, takkan pernah kembali seperti semula.
Sungguh tak percaya, Rane, akan melakukan hal ini dibelakangnya.
Penyesalannya hanya satu, kenapa ia tak menamparnya sekali tadi? Ingin sekali ia menamparnya sekuat tenaga, menyalurkan rasa sakit yang tak seberapa dibanding hatinya yang terluka.
Dari jauh, Kuro melihat semuanya dari awal. Tentu saja mereka tak sadar dan tak melihat dirinya disana.
Awalnya ia ingin menghampiri Yumika, namun kejadian itu menahannya.
Melihat sedikit lebih lama kemudian menolong mereka adalah niat awalnya.
Kuro menyentuh bibirnya seperti telah menemukan sesuatu yang bagus.
__ADS_1
Ia tersenyum.***