
.
.
.
.
.
Yumika berjalan sambil merangkul tas nya melewati lorong yang mulai gelap. Meskipun masih ada secercah cahaya matahari yang masuk, tak cukup untuk menerangi jalan ubin yang mulai tak terlihat ini. Namun, langkah lain yang mengikuti nya dari belakang membuat nya gusar dan gelisah.
..Rasanya seperti ada yang mengikuti ku diam-diam.
Dare?!
Kalau saja hari ini bukanlah jadwal piketnya, kalau saja rumor aneh itu tak bertepatan dengan hari ini, mana mungkin ia mau pulang dikala sudah mulai gelap begini! Tumben sekali.. aneh sekali.. kenapa yang lain mendadak izin?!
Suara itu semakin dekat.
"Kita harus berhati-hati...! Kalau tidak, kita akan bernasib sama dengan nya..!"
Tiba-tiba Yumika teringat akan ucapan Chino tadi pagi.
Yumika mulai was-was. Ia mempercepat langkah nya.
Tak sampai di situ, langkah kaki yang berada di belakang nya pun gencar mengikuti Yumika.
Yumika tak tahan, ia mulai bimbang. Namun, ia memberanikan diri nya. Hingga...
.
.
.
.
"Uaakhh!!!!" Yumika berbalik seraya menutup mata nya dan melempar tas yang ia pegang ke arah seseorang yang mengikuti nya.
"Akh! S-senpai- ini aku!" Yumika membuka mata nya pelan. Ia terkejut.
"..Apa yang kau lakukan, Shiro?" Yumika mengerutkan dahi nya tanda tak suka.
"Gomen, senpai. Aku hanya ingin mengembalikan ini. Maaf sudah mengagetkan mu." Ucap Shiro. Ia memegang hidung nya yang terkena pukulan tas Yumika seraya menyerahkan sebuah bolpoin bermotif Rilakkuma.
Yumika menerima nya. "Seharus nya kau memanggil ku. Bukan nya mengendap-endap seperti itu." Ucap Yumika sambil memasukkan bolpoin nya ke dalam tas.
"Gomenne, Yumi senpai. Tadi nya aku mau memanggil setelah menghampiri mu, tapi tiba-tiba kau melayangkan tas mu ke arah ku." Kata Shiro tertawa kecil.
"...Ya sudah. Arigatou. Kenapa kau masih ada di sini? Padahal sudah mau gelap." Yumika menatap wajah Shiro.
"Etto..." Shiro menyadari Yumika yang kini sedang menatap nya.
"Kita ngobrol sambil jalan saja." Ucap Yumika kemudian.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Shiro berjalan di belakang Yumika. Mereka melewati kelas-kelas yang kini sudah kosong dan tak ada siapa pun disini selain mereka berdua.
"Kenapa kau jalan di belakang? Jalan beriringan dengan ku." Ucap Yumika.
"Ah, g-gomen." Shiro tersadar lalu berjalan di sebelah Yumika.
"Ano.. Y-Yumi senpai.." Ucap Shiro pelan.
"Kenapa? Tadi kau belum menjawab pertanyaan ku." Kata Yumika sambil menatap lurus ke depan.
Kini mereka menuruni sebuah tangga utama menuju pintu keluar.
"..Tadi aku ingin menemui mu di kelas. Tapi, senpai sudah pergi duluan. Pas di tikungan, aku nemuin bolpoin di lantai dan tak sengaja melihat mu." Kata Shiro tersenyum.
"A-ah.. begitu ya." Yumika tak tahu harus menjawab apa lagi. Ia memilih untuk diam.
Shiro sesekali melirik Yumika, senang karena ia kini berada tepat di samping nya.
Dekat sekali..
Rasa nya Shiro ingin menggenggam jemari nya saat ini juga.
.
.
.
Yumika yang meremang merasakan ada hembusan angin di tengkuk nya, seketika memegang lengan Shiro yang ada di sebelah nya. "Y-Yumi.. senpai?" Shiro melihat wajah Yumika yang terpejam ketakutan.
Ia melepaskan gandengan Yumika dan beralih ke jemari nya. Kini Shiro bergandengan tangan dengan Yumika.
Yumika sadar. Ia melirik Shiro. Namun, yang dilirik malah berpaling memandang ke sisi lain.
...Shiro?
Shiro menutupi setengah wajah nya dengan punggung tangan nya. Tampak nya, Shiro tak ingin Yumika melihat wajah nya yang kini berubah merah. Ia begitu senang berada sedekat ini dengan nya. Apalagi mereka kini hanya berdua saja.
.
.
.
.
"...Shiro." Ucap Yumika akhir nya di tengah-tengah perjalanan mereka.
"Ya?" Tanya Shiro. "Sekarang sudah tak apa." Kata Yumika.
"Eh?" Yumika melihat tangan Shiro yang menggenggam tangan nya erat.
"E-etto... kalau begitu, syukurlah." Shiro tersadar lalu melepaskan gandengan nya.
"Arigatou.. Shiro-kun."
DEG.
"..Dan maaf soal tadi." Kata Yumika tersenyum dengan wajah yang terlihat sedih.
__ADS_1
"..A-ah, jangan pikirkan soal itu. Dan lagi, Yumi senpai tak perlu sungkan dengan ku. Kalau ada apa-apa, panggil saja aku." Kata Shiro dengan pipi nya yang memerah. Ia tak sanggup melihat wajah Yumika, ia terlalu malu untuk sekarang.
Yumika sudah sering membuat nya tersipu, namun itulah yang menjadikan nya sesuatu di mata Shiro.
Entahlah, hal yang hanya dapat di lakukan oleh Yumika seorang.
Hanya Yumika satu-satu nya gadis yang bisa membuat Shiro malu di hadapan nya.
Di lain sisi, diam-diam Yumika menatap wajah Shiro.
Lagi-lagi wajah itu..
"Kalau begitu.. mohon bantuan nya, Shiro-kun." Ucap Yumika seraya menampilkan senyuman manis nya.
DEG . .
"...."
"...Yumi senpai.." Gumam Shiro pelan.
DEG . .
"Kenapa? Shiro?" Tanya Yumika.
DEG . .
"..Bagaimana rasa nya.. berada di dekatku?" Shiro bertanya tanpa melihat wajah Yumika. Ia sibuk menerawang jalan yang kini mereka lewati.
Yumika terkejut dengan pertanyaan Shiro. "Ah... itu.." Yumika tak tahu harus berkata apa padanya.
"..Senja sore memang indah ya? Membiaskan warna nya di langit dan di antara awan-awan. Namun, itu tak berlangsung lama hingga ia terbenam dan menghilang di antara belahan laut."
Shiro menengadahkan kepala nya melihat langit yang berwarna biru, kini menyatu dengan warna jingga memberikan sebuah kesan yang tak terlupakan. Yumika melirik Shiro,
"Yumi senpai!" Yumika sedikit terkejut. Shiro membalikkan badan nya dan memegang pundak Yumika dengan ke dua tangan nya.
"E-eh??!" Kini keterkejutan nya semakin menjadi-jadi. Wajah Shiro dan wajah nya sekarang hanya beberapa centimeter saja.
T-terlalu dekat!!
Yumika merasakan ada sesuatu yang menyentuh rambut nya.
"Ada daun.. eh?" Shiro melihat wajah Yumika yang terpejam, seketika membuat Shiro sontak mundur dengan wajah nya yang memerah bak kepiting rebus.
"G-gomen Yumi senpai! Aku tak bermaksud.." Tampak wajah Yumika yang juga kini memerah bak tomat, terpapar sangat jelas di wajah nya.
"T-tidak. Sebaik nya kita cepat sebelum matahari terbenam." Ucap Yumika seraya mendahului Shiro yang kini berada di belakang nya. Shiro hanya diam, lalu berganti dengan senyum yang tercetak di wajah nya.
"Iya!" Shiro tak pernah merasa tak senang bila berada di sisi Yumika. Ia malah menginginkan tempat itu.
Shiro merasakan doki-doki di bagian dada nya.
Rasa suka nya kepada Yumika semakin besar seiring waktu. Ia semakin tak ingin kehilangan Yumika. Lebih-lebih, ia ingin bersama dengan Yumika selama nya.
.
.
.
Di samping itu, rupa nya ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh.
Tampak nya Shiro pun menyadari itu dan tidak peduli.
Kira-kira, siapa sosok itu?
__ADS_1
Apakah Shiro mengenal nya?***