
Sedetik kemudian Shiro melepaskan lengan Yumika yang di tahannya sejak tadi, kemudian menutup setengah wajahnya dengan satu lengan.
Yumika menahan tawanya. Puas rasanya setelah melihat wajahnya yang merah itu.
Tanpa menahannya lagi, dengan cepat Shiro memalingkan wajahnya dan mencium Yumika yang langsung membuka matanya lebar saat itu juga.
Ini.. mimpi, kan?***
.
.
.
.
Setelah hari itu, Yumika mulai menjauhi Shiro bagaimanapun caranya. Ia tak ingin melihat wajahnya untuk saat ini. Entah apa yang membuatnya melakukan hal yang tak berguna begitu? Masalahnya, sejak kejadian Shiro menciumnya saat itu, Yumika merasakan dentuman yang terasa menyesakkan tersimpan di bagian terdalam dirinya. Apakah ia mulai membuka hatinya?
Yumika POV
Ah.. tidak bisa begini terus.
Sudah beberapa hari ini aku menjauhinya. Setiap kali melihat wajahnya, aku refleks langsung lari dan bersembunyi dimanapun asal tak bertemu dengannya.
Kenapa? Apa yang salah? Entahlah, aku juga tak tahu.
DEG... DEG...
Jantungku tak bisa berhenti berdebar. Apa aku mulai menyukainya?
Tidak! Ini tak masuk akal. Aku tak mau mengakuinya. Bagaimana bisa aku menyukai anak yang setahun lebih muda di bawahku?
"Ha.. aku tak bisa terus-terusan menghindar, ayo seperti biasa! Seperti hari-hari sebelumnya!" Aku mencoba untuk yakin dengan keputusanku. Karenanya, setelah pulang sekolah aku akan mengajaknya pulang bersama seperti biasanya. Ya, seperti biasa.
.
.
.
.
__ADS_1
Yumika menatap papan bertuliskan 1-2. Ia mengatur napasnya berulang-ulang, mencoba untuk mengurangi kegugupannya.
Digesernya pintu yang ada di hadapannya menampilkan ruang kelas yang tersusun rapi dan bersih. Kosong.
Shiro tak ada di sana.
".. Padahal aku sudah mencari tau kelasnya dimana. Aku akan bicara padanya besok saja." Gumamnya lega. Yumika akhirnya memutuskan untuk menundanya sampai besok.
"Ka.. kakaknya Shiro?" Tanpa sengaja Yumika bertemu dengan Kuro di depan gerbang sekolah. Ia sedang bersandar di tembok seperti sedang menunggu seseorang.
"Ada yang harus kubicarakan denganmu." Ucapnya datar menatap manik-manik wajah Yumika.
"Apa?" Ia terlihat bingung dengan maksud ucapan Kuro. Tepat saat itu, Yumika tak sengaja melihat seseorang yang mirip dengan Shiro menuju ke arah taman.
"Ini mengenai Shi-" Ucapannya terpotong setelah tiba-tiba Yumika berlari kedalam meninggalkannya sendirian disana.
"Hei!" Ia ingin memanggilnya namun ia sama sekali tak mengetahui namanya. Yumika sudah benar-benar menjauh tanpa mempedulikannya.
Hari masih terang, masih ada waktu sebelum matahari terbenam. Yumika memutuskan untuk tak mengambil hari esok selagi ia masih bisa mengatakannya sekarang. Ia mengikuti Shiro namun jejaknya hilang begitu saja.
Dia.. cepat sekali. Sebenarnya mau kemana dia sampai sekarang belum pulang juga? Yumika yang penasaran pun tak menyerah. Samar-samar bayangan surai putih yang terlihat seperti Shiro tertangkap oleh pandangan mata Yumika lalu bergegas mengikutinya kembali.
"Gudang?" Gumamnya dengan perasaan yang bingung.
Shiro masuk ke dalam sana. Dibalik pintu besar berwarna merah yang pernah di lihatnya seminggu yang lalu.
Ini aneh..
30 menit berlalu, namun yang di tunggu tak kunjung terlihat.
Yumika menelan salivanya berat sebelum akan mendekati gudang itu.
"Kenapa dia belum juga keluar..? Apa yang dia lakukan didalam sana?" Pertanyaan muncul satu-persatu tanpa jawaban yang pasti. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat yang pernah menjadi tempat perkara beberapa waktu sebelumnya.
Yumika melihat pintu itu sekali lagi.
Tenang. Aku tak boleh takut. Tangannya meraih gagang pintu, perlahan ia membukanya, apa yang ada di balik pintu itu?
Brak..*
Seperti akan kehilangan akalnya, ia sama sekali tak bisa bernapas. Pemandangan mengerikan di depannya membuatnya tak bisa bernapas dengan normal. Mata Yumika bergetar menyaksikan sesuatu yang tak enak untuk dilihat, perutnya mual seketika membuatnya lemas.
Seorang laki-laki dengan wajah yang terkoyak serta badan yang berlumuran darah terduduk di kursi dalam keadaan terikat tali.
__ADS_1
"Yumi senpai? Kenapa kau ada disini? Kau mencariku?!" Shiro tak kalah terkejut. Dengan kemeja putih dan wajahnya yang bercipratan darah, ia tersenyum seraya menggenggam pisau di tangannya.
"Aku sangat senang sekali~! Ini pertama kalinya Yumi senpai.. mencari ku~!" Dengan wajah bersemu merah layaknya musim semi, ia mendekat ke arah Yumika yang bergetar ketakutan di ambang pintu.
"Ja-jangan mendekat!!!" Teriak Yumika menahan rasa takut terhadap sosok Shiro yang ada di hadapannya.
Tidak.. dia bukan Shiro!! Kemana Shiro yang dulu aku kenal, yang berlaku baik dan pemalu seperti anak kecil itu?! Pikirannya seketika kosong. Matanya gelap karena ketakutan. Badannya bergetar dan kaki nya semakin lemas. Ia jatuh menduduki lantai begitu saja saat itu juga.
"Yu-Yumi senpai..? Apa kau sakit? Jangan takut. Aku takkan pernah melakukan hal buruk padamu, percaya padaku.." Shiro terduduk dengan satu kaki sebagai tumpuan, ia meraih bahu Yumika dan memeluknya begitu rindu.
"Kenapa kau menjauhiku akhir-akhir ini? Kau tau.. aku sangat merindukanmu.. setiap harinya. Kumohon.. jangan melakukan hal itu lagi." Ucap Shiro dengan nada sedih sembari mempererat dekapannya.
Hangat.. aroma Yumi senpai.. Batinnya sembari perlahan mengelus surai rambut gadisnya.
Yumika hanya diam saja, ketakutannya tak kunjung reda.
Bagaimana ini.. aku harus pergi dari sini.
"Yumi senpai.." Kini Shiro melonggarkan pelukannya dan menatap wajah orang yang sangat dicintainya itu. Ia mengusap pipi gadis itu, menghapus air mata yang mendadak keluar dari sudut matanya.
"Kenapa kamu menangis? Jangan menangis.. lihat aku.." Ucapnya kemudian dengan sorot mata kekhawatiran.
Yumika tak mampu untuk mengeluarkan sepatah kata. Mata sembabnya memaksa untuk menatap wajah Shiro dengan cipratan darah yang sudah mengering.
Seketika terdengar dobrakan pintu menampilkan sosok Kuro yang terengah-engah, dengan cepat ia menarik lengan Yumika dan membawanya keluar dari sana.
"Ka-kamu!" Yumika tak percaya, kini Kuro dengan mendadak muncul dibalik pintu dan membawanya lari entah kemana.
"Ikut saja kalau kau tak mau tubuhmu yang mungil itu kenapa-napa!" Teriaknya di tengah mereka berlari menyusuri jalan, mereka memasuki ruang kelas di lantai 2 secara acak dan bersembunyi disana.
Meski akan jadi gelap, Kuro menutup pintu kelas agar Shiro tak menemukan mereka.
Yumika hanya duduk mengatur napasnya yang terputus-putus karena lari begitu jauh.
"Ke.. kenapa kamu.. menyelamatkanku?" Tanya Yumika kemudian melirik Kuro yang sedang bersandar di sebelahnya.
"..Kau sudah lihat, kan? Tadi?" Ucapnya setelah hening sebentar.
Yumika hanya menatapnya di sisa cahaya yang masuk melewati jendela besar di seberang sisi kelas.
Ia hanya diam membayangkan betapa mengerikannya kejadian tadi. Ia mati membisu.
"Untuk sekarang.. kita tunggu sampai dia benar-benar pergi, baru kita bicarakan." Ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu kan kakaknya? Jadi.. mengapa kamu juga.." Yumika tak melanjutkan ucapannya karena Kuro kini sedang menatapnya datar, membuatnya membeku tanpa sadar.***