Loved By Yandere-Kun

Loved By Yandere-Kun
Malam Yang Dingin


__ADS_3

.


.


.


"K-kenapa?" Tanya Yumika dengan wajah yang kaku karena Kuro menatapnya aneh.


"..Sejak kapan kau kenal dia?" Tanya Kuro balik seraya memalingkan wajahnya. Ia duduk bersandarkan tembok, menatap lurus kedepan.


"Ehm... mungkin sudah 2 mingguan.." Ucapnya memperkirakan dengan menghitung jari.


Jadi begitu.. semenjak si bodoh itu baru pindah. Kuro tenggelam dalam pikirannya sendiri. Apa yang terjadi selama 2 minggu itu? Ia sama sekali tidak tahu karena ia sibuk kuliah sekaligus bekerja part time.


Kenapa harus perempuan ini? Dia terlihat lemah dan bisa hancur kapanpun. Batinnya.


Sedangkan Yumika, ia kembali pada ingatan gila yang tak bisa ia cerna dengan akal sehatnya.


Shiro aneh. Kenapa dia lakukan itu? Kenapa dia jadi begini? Ada apa sebenarnya? Kenapa dia membunuhnya? Ia ingin tahu segera. Ia butuh penjelasan tentang segalanya. Ia menyadari, dirinya tidak pernah mengenal Shiro yang sebenarnya.


Semua itu terjadi di depan mata kepalanya sendiri. Sangat mengerikan hingga membekas di ingatannya hingga sekarang. Masih ada sisa mual dan gemetar di tubuhnya. Bau amis darah seseorang yang tak dikenalnya.


Saat itu, ia tak bisa lupa dengan wajah Shiro yang tampak gembira dan juga menakutkan di tengah sana.


Ia berharap ini semua adalah mimpi buruk.


Hampir saja Yumika melompat dari tempat duduknya sekarang. Ini adalah nyata.


Kuro hanya melihat, memperhatikan Yumika sejak tadi. Entah apa yang dipikirkan tentangnya. Tak sengaja matanya melihat sebuah kalung yang melingkar di lehernya, terasa tak asing.


Melingkar sebuah gelang yang terpasang disana, seperti cincin yang berukuran besar.


"Tidak mungkin.." Kuro bergumam,


Gelang itu..


Mendadak suara langkah kaki yang samar-samar terdengar pelan di luar sana.


Yumika dan Kuro sedikit terkejut.


"Yumi senpai.. kamu dimana?" Ucap Shiro terdengar lantang sembari tetap melangkah. Lorong bangunan sekolah ini sangat gelap di malam hari, menimbulkan gema yang cukup besar.


Yumika menutup mulutnya, takut.


Namun, Kuro tetap tenang di sebelahnya.

__ADS_1


"Apakah disini?" Ucap Shiro dilanjuti dengan suara yang terdengar keras dan kasar. Itu suara pintu. Tentu saja.


Yumika semakin takut. Apa ia akan berakhir begitu saja disini?


"Yumi senpai..~ Ayo keluar saja. Aku tak pernah berniat untuk melukaimu sedikitpun. Aku mencintaimu. Kamu juga tau itu kan." Terdengar suara tawa yang cukup membuat Yumika merinding. Ia berusaha untuk tenang, namun dirinya terlalu takut dan lemah.


Kuro yang melihat itupun langsung memeluknya. "Jangan berisik." Bisiknya di telinga Yumika yang sedikit terkejut.


Suara pintu yang di banting keras kembali terdengar.


Apa Shiro sebegitu ingin membunuhnya sekarang juga? Apakah nyawanya akan melayang begitu cepat? Baru saja ia menyadari akan perasaannya, namun kini keadaan semakin sulit terkendali sebab fakta yang mengerikan.


"Kenapa.. kenapa kamu tidak keluar juga? Apa kamu sekarang takut padaku? Apa kamu benci padaku? Aku lakukan ini.. semua karena mu." Ucapnya bergema di setiap sudut lorong hingga sampai pada Yumika yang kini tertegun.


Aku?


Terdengar langkah yang semakin dekat ke tempat mereka bersembunyi.


Sebuah pintu terbuka, kini tak sekasar dan sekeras tadi.


"Ini ruangan terakhir. Aku tau kamu di dalam." Ucapnya terdengar dingin.


Udara disekitar menjadi hening dan pengap, sulit rasanya bagi Yumika untuk bernapas.


Seandainya ia hanya sendirian saja, jauh lebih menakutkan, bukan? Yumika sedikit melirik seseorang yang kini tepat di depannya.


Kuro terlihat tenang, seperti hal ini bukanlah apa-apa. Ia masih memeluk tubuh Yumika yang menggigil ketakutan. Dapat dirasakannya sensasi dingin dari kulit mereka yang bersentuhan.


Dia sangat ketakutan. Batinnya.


Bayangan itu semakin dekat di depan mata. Langkah kaki yang semakin dekat nyaris membuat jantung Yumika melompat keluar.


"Yumi senpai.." Yumika mati kutu. Wajahnya pucat pasi melihat Shiro yang memandangnya dengan pisau di tangannya.


"Shi-Shiro!" Di situasi antara hidup dan mati seperti pun, suaranya tak mampu keluar.


"Berani-beraninya!!!!" Teriakan Shiro menggelegar di ruangan itu. Diayunkannya pisau itu kearah Kuro dengan cepat dan berhasil ia tahan.


"KURO!!!" Yang di teriaki menunjukkan seringai di wajahnya, membuat Shiro semakin marah.


"Bukankah sudah kubilang? Yumi senpai itu milikku!! Jangan kau rebut dia!! Aku tak akan memaafkanmu!!!" Teriakkan yang cukup keras itu memekakkan telinga.


Yumika menyaksikan keduanya. Ia sudah tak tahan lagi, ia harus segera keluar dari sini, atau dia akan mati. Tidak bisa, jika begitu, sama saja ia akan mencium tanah lebih cepat sebelum sempat untuk keluar.


"'Yumi chan'!!! Cepat pergi, aku akan berusaha menahannya disini!!!" Teriak Kuro memerintahkan Yumika untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


"T-tapi!!"


"Cepat!!!!" Teriaknya membuat Yumika sedikit kaget. Ia buru-buru pergi meninggalkan tempat itu mengikuti ucapannya.


"Yumi senpai!!" Shiro yang melihatnya keluar langsung mendorong Kuro kebelakang, berniat akan menyusul senpainya yang pergi.


"Kau tak diizinkan untuk keluar." Kuro menahan lengannya dan melancarkan tendangan kepadanya.


Dengan cepat Shiro menangkisnya. Ia kembali menghunuskan pisau kewajah Kuro.


"Apa mau mu?" Shiro tak kalah dingin. Ia menatap Kuro dengan matanya yang gelap dan redup.


"Hei hei~ ada apa dengan nada bicaramu? Bukannya kita ini 'sama'?" Ucap Kuro tersenyum.


Mendengar itu, amarah Shiro semakin meluap,"DIAM!!" Teriaknya seraya melayangkan pisaunya, menggoreskan luka di wajah Kuro.


"Jika membandingkan ucapanmu waktu itu dan hari ini, hanyalah omong kosong. Kau terlalu naif mengatakan dirimu berbeda." Seringainya sembari menghapus darah yang mengalir di pipinya kemudian menjilatnya.


"Tch! Aku tak ada urusan denganmu!!" Setelah mengatakan kalimat terakhir itu, Shiro membalikkan badan dan keluar melewati jendela.


"Apa yang kau pikirkan? Ini lantai 2." Ucap Kuro tersenyum sarkas.


"Memangnya kenapa?" Dengan lihai Shiro naik ke atas jendela dengan satu kakinya dan menjatuhkan dirinya kebawah sana. Meski tanpa pengaman, ia mendarat dengan selamat.


"Dasar bocah itu." Umpat Kuro setelah melihatnya pergi dengan cepat melalui jendela.


°°°


Yumika berlari menuju gerbang namun kakinya tersandung. Ia pun jatuh menduduki tanah.


"Aku.. harus cepat pergi." Gumamnya di sela ringisan karena lututnya kini terluka akibat tanah yang kasar.


Mendadak suara langkah kaki terdengar sedang berlari mendekat dari posisinya sekarang.


Dengan cepat Yumika berdiri dan berlari meninggalkan sekolah melewati gerbang.


Kupikir... aku akan mati.


Ini benar-benar hari yang aneh. Benar-benar mimpi buruk yang mengerikan.


Seketika dadanya terasa sesak.


Bagaimana ia akan pergi sekolah besok? Ia telah menemukan rahasia besar yang seharusnya tak ia ketahui.


Di satu sisi, ia lega.***

__ADS_1


__ADS_2