
.
.
.
.
.
"Yumi senpai.. a-arigatou.." Gumamnya pelan, terdengar oleh Yumika yang seketika tersenyum melihat wajahnya yang memerah.
"Kenapa malah jadi malu gini? Haha,"
Mendadak ponsel Yumika berbunyi, menampilkan pesan dengan nomor misterius.
Ia mengambil ponselnya dan membaca email baru disana.
"Siapa?" Tanya Shiro melihat Yumika dengan wajah agak serius.
"Um..." Dengan cekatan Shiro mengambil alih ponsel dari genggaman Yumika lalu menekan-nekan tombol secara acak.
×××××××××
"Mereka sekarang ada dirumahku, aku yang akan merawatnya. Jadi kau tak perlu lagi pergi kesana, sampai ketemu besok di sekolah."
17:47 PM
"Kata-katanya terlihat sedikit familiar.. mungkinkah.. Haruka?" Gumam Yumika, seketika Shiro memberikan ponselnya kembali.
"Jauhi dia." Singkatnya memandang Yumika lekat-lekat.
"Eh? Kenapa? Dia baru saja menjadi temanku.."
"Bagaimana kamu tau kalau dia tidak akan menyukaimu di masa depan?" Ucap Shiro tsrsenyum seraya menangkup wajah Yumika dengan satu tangannya.
"U-um.. a-aku sepertinya harus pulang sekarang, sudah mau malam." Dalihnya seraya mengambil tas miliknya diatas meja. Ia sadar betul, suasananya berubah aneh karena mereka kini hanya berdua saja.
"Hm? Kamu canggung bersamaku?" Yumika sedikit tersentak, "Tidak.. um.." Ia teringat sesuatu.
"Oh. Aku tak pernah lagi melihat kakakmu? Kemana dia?"
"Kenapa.. kamu menanyakan dia?" Shiro mendekat kewajah Yumika, menyisakan jarak tak tak seberapa.
Yumika memejamkan matanya dalam-dalam.
Oh ya ampun, aku sepertinya salah bicara lagi!
...Hm?
Yumika sedikit membuka matanya,
Kenapa hening?
Dilihatnya Shiro seperti sedang menahan tawa, seketika tumpah saat itu juga.
"Yu-Yumi senpai.. seandainya aku bisa memotret dan memperlihatkannya padamu.. sangat..~" Dengan cepat Shiro mendekatkan wajahnya, menciumnya ringan, sedetik, dan secepat itu.
Yumika mematung, membelalakan matanya lebar karena tindakan yang mendadak.
Wajah mereka memerah seketika, namun berbeda dengan Yumika yang tampak semerah tomat yang baru matang.
"K-kamu.. membuatku terkejut!" Shiro hanya terkekeh melihat reaksinya.
"Aku akan mengantarmu pulang." Tawarnya seraya tersenyum.
"Tak perlu, rumahku termasuk dekat, kamu tak perlu mengantarku. Sebaiknya kamu juga cepat istirahat, jangan lupa untuk mengganti perbannya besok pagi. Jangan melakukan hal aneh lagi!" Pekik Yumika berpura-pura galak.
Shiro hanya tersenyum tipis dan mendekapnya kedalam pelukannya. Menyisakan hangat perasaan masing-masing.
__ADS_1
Yumika tak mengatakan apapun lagi, begitupula dengannya.
Ia berharap Yumika dapat merasakannya.
Rasa egois timbul dihatinya saat itu juga.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa saat berlalu, terdengar suara pintu tertutup dengan Shiro yang masih terdiam diambang pintu.
Ia menatap lurus kedepan, menerawang jauh.
Berbagai macam hal muncul dipikiran dan benaknya.
Tak terkecuali kejadian hari ini, termasuk.. siang tadi.
Gelap.
Kosong.
Pisau.
Redup.
Tiada cahaya dapat memasuki sorot matanya kelam dan berkabut.
Sekali lagi ia berbalik dan membuka pintu, menatap langit dan berakhir pada sebuah ranting pohon dengan seekor burung diatasnya. Tidak. 3 ekor.
..Atau mungkin lebih.
Yang paling aneh, makhluk-makhluk kecil itu menyukai dirinya. Bahkan hewan-hewan yang pernah ditemuinya selama ini.
Seekor burung terbang, menghampiri dan hinggap di pundaknya.
Ia meraih dan menangkup burung itu di kedua tangannya.
Sungguh malang..
Shiro menatapnya rendah dan pikirannya berkabut.
Kosong, pikirannya entah kemana. Tak ada dimanapun.
.
.
.
.
.
.
.
"Hm? Mama tak bisa pulang sekarang? Kenapa?"
"Iya sayang.. tiba-tiba pekerjaan kantor bertambah dan harus segera di selesaikan minggu ini, kamu tidak apa-apa, kan sendiri dirumah?" Ucap suara di telepon. Terdengar sangat serius di telinganya.
__ADS_1
"Um.. tidak,"
"Ya sudah, mama tutup teleponnya sekarang ya, jaga rumah baik-baik, dan istirahat yang benar." Setelah kalimat terakhir itu, suara sambungan terputus dan Yumika meletakkan kembali teleponnya.
Ia menuju ke dapur dan melihat sepotong kue coklat berbalur selai stroberi diatas piring. Segera ia melahap dan menghabiskannya hingga tandas tak bersisa kemudian meminum segelas air mineral.
Yumika beranjak ke kamar dan berbaring diatas kasurnya yang lembut dan empuk.
Lelah sekali..
Penat menguasai tubuh dan pikirannya.
Semilir angin yang tenang dan sejuk seakan menampar wajahnya, seketika itu rasa beban yang di pikulnya sejak tadi bagai terbang dan menghilang diudara. Ia jatuh ke alam mimpi dalam sekejap.***
"Chino, tidakkah kamu terlalu banyak membeli dress?" Heran Yumika melihat beberapa dress beragam jenis yang di bawanya.
"Tenang saja! Diantara dress ini punya ku dan sisanya kamu bisa memilih sendiri. Gimana? Aku temanmu yang paling baik dan tidak sombong, kan?" Ujarnya bangga.
"Bukannya aku tidak mau, tapi.. harganya terlalu mahal." Komentar Yumika seraya melihat label harga yang terpasang pada pakaian disampingnya.
"Kamu tak perlu merisaukan hal itu, ok? Nah sekarang, kamu coba pakai yang aku pilihin ini, jangan lama-lama! Aku mau lihat, aku yakin kamu bakal jadi cantik setelahnya!!" Semangat Chino seraya tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Baiklah akan kucoba kalau kamu memaksa," Ucap Yumika mengambil tumpukan dress yang dibawa Chino untuknya.
"Yeeeyyy!" Sorak Chino dengan wajah yang berseri.
Yumika pun melenggang pergi menuju ruang ganti terdekat dengan Chino yang mengekorinya.
10 menit kemudian..
"Cantik sekali! Warnanya cocok sekali untukmu!! Sudah kuduga pilihanku tidak pernah salah," Pekik Chino terkagum-kagum melihat Yumika dengan Dress Vintage yang sepanjang lututnya. Dress dengan motif bunga yang terkesan berpadu menyatu dan nuansa kalem yang melekat.

"Uh.. benarkah??" Ragunya.
"Sangat cantik, kulitmu putih jadinya sangat cocok~ oke sudah diputuskan!" Chino senang sekali melihatnya, setelah beberapa saat ia pun menuju kekasir untuk menggesek kartu membayar beberapa baju yang diantaranya dikenakan oleh Yumika tadi.
.
.
.
.
.
.
.
"Yumi~ ayo kita ke kafe itu!"
"Diseberang sana??" Yumika melihat sebuah kafe yang tak terlalu besar terletak di seberang Road Cross tempatnya berdiri sekarang.
"Katanya disana kuenya enak sekali!" Pekiknya lagi tak sabar.
"Oke.. kemanapun asal kamu senang, deh." Kekeh Yumika yang disambut ria oleh Chino.
Merekapun pergi melangkahkan kakinya menuju kafe itu.
Nuansa tenang dan romansa yang terkuak langsung dirasakannya.
Tak terlalu ramai, beberapa pelanggan terduduk di tempatnya menikmati secangkir coklat panas, kue, jus, dan jenis makanan lain dimejanya.
Mereka berdua mencari meja kosong, tepat sekali itu berada di pojok sudut sehingga bisa melihat pemandangan luar dari dalam. Jangan heran, bermacam jenis flora cantik nan indah tertata rapi dibawahnya dengan pot yang tak terlalu besar.
Oh jangan hiraukan potnya, bunga nya sangat mencolok! Memikat siapa saja yang melewatinya, sangat menyegarkan mata!
"Selamat datang. Apa yang ingin anda pesan?" Tanya seorang pelayan laki-laki tampan dengan sopan.
"Mm.... pesan yang ini satu, Kamu apa Yumi?"
__ADS_1
"Umm yang ini saja." Jawab Yumika dengan menunjuk sebuah foto dessert dengan tulisan "Belgian Waffle" di bawahnya.