
.
.
.
.
Sebuah pintu terbuka dengan kasar nya menampakkan Yumika yang keluar terlihat panik. Seragam lengkap menempel di tubuh nya dengan sebuah tas yang tergantung di pundaknya.
Ibunya yang meliriknya dari dapur merasa aneh dan bingung,"Yumi, kenapa kamu buru-buru begitu??" Tanya nya heran dengan mengangkat sebelah alisnya sambil berkacak pinggang memegang sendok besar.
"Apalagi? Aku mau sekolah! Ibu kenapa tak membangunkanku? aku kan jadi telat!" Ucap nya dengan menaikkan nada satu oktaf seraya mengikat sepatu dengan lebih cepat.
"Begitukah? Memangnya sejak kapan kamu sekolah hari minggu, Yumi?" Mendengar ucapan ibu nya membuat Yumika seketika menghentikan aktifitas nya.
"Minggu? Bukan nya ini hari sabtu?" Kini ia yang terlihat kebingungan.
"Ya ampun, Yumi~ Kok tumben kamu keliru seperti ini? Cepat ganti bajumu dan kita sarapan." Ucapnya seraya kembali berbalik dan masuk kedapur lagi.
Yumika hanya diam saja dan meletakkan sepatunya kembali. Ia lalu menuju ke kamar nya dengan wajah yang terlihat lelah.
Ia merebahkan dirinya di kasur setelah sesaat yang lalu mengganti seragamnya dengan baju dress pendek biru cerah dan celana hotpants dengan warna yang senada.
Yumika tidak bisa tidur semalaman karena banyak hal yang mengganggu pikirannya.
Termasuk.. kejadian kemarin sore.
Membayangkannya saja, itu hal yang mustahil terjadi antara senior perempuan dan junior laki-laki. Ia masih tak mengira adik kelasnya menyukai dirinya.
Sudahlah lupakan.
Ia jadi kurang tidur dan merasa kantuk mulai menghampirinya.
Ia memejamkan mata sejenak, lalu melirik jam yang ada di meja.
"Sudah jam 10." Gumamnya. Matanya berkedut dengan alis yang terangkat sebelah. Ah iya, dia lupa hari ini ada janji dengan Chino. Mereka akan mengunjungi toko buku dan makan siang bersama.
Tapi waktunya masih lama, terasa bergerak sangat lambat.
Merasa perutnya sudah tak tahan karena belum terisi apapun, ia pun kebawah untuk sarapan apapun yang ada di meja.
.
.
.
.
.
.
"Uh.. aku terlalu banyak makan.." keluhnya sembari mengelus perutnya. Tiba-tiba sebuah BGM musik klasik terdengar jelas memunculkan cahaya di atas layar ponsel miliknya. Yumika mengambilnya dan melihat siapa yang menelponnya, namun tak ada nama yang terpampang disana.
__ADS_1
Ia kini terlihat bingung. Apakah ia harus mengangkat atau membiarkannya saja? Sungguh jarang ada nomor asing yang menelponnya, sangat mencurigakan. Satu kali ponselnya berhenti berdering, membuatnya menghembuskan napas lega.
Namun, itu berakhir sesaat setelah yang kedua kalinya ponsel itu berbunyi kembali menampilkan nomor yang sama.
Benar-benar. Daripada ketenangannya diganggu seperti ini, lebih baik ia mengangkatnya.
Ia pun meraihnya dan menggeser tombol hijau.
"Halo?" Sahut suara diseberang.
"Halo, dengan siapa dan ada keperluan apa?" Tanyanya dengan menahan sedikit kesalnya. Ia harus nya sedang tidur-tiduran sekarang, menonton TV sembari memakan camilan di kamarnya.
Yumika memang orang yang suka rebahan dan senang berada dirumah.
Namun, sekarang ia sedang menghadapi si pengganggu yang kini sedang menelponnya.
"Ah.. gomen, apa aku mengganggu waktumu?" Ucapnya dengan suara yang lembut. Yumika tahu bahwa suara itu adalah suara laki-laki.
Ya!! Kamu sangat mengganggu sekali, cepatlah katakan maumu dan enyahlah.
"Tidak. Siapa ini?" Ucapnya kemudian, mengurungkan niat untuk mengatakan kalimat yang sangat ingin ia katakan.
"Ini aku.. Shiro. Apa kau punya waktu siang ini?" Tanyanya masih dengan suara yang lembut nan khas miliknya.
Hah?! Shiro? Bagaimana dia tau nomorku?!
"Bagaimana.. kau tau nomor ini? Aku lupa pernah memberitahumu sebelumnya." Tanyanya dengan mengangkat alisnya, aneh.
"Oh.. aku memintanya pada temanmu. Jadi, apa siang ini Yumi senpai ada waktu luang? Aku punya 2 tiket nonton. Kalau kau tak keberatan.. aku ingin sekali mengajakmu." Ucap Shiro, sedikit antusias.
"Ah.. gomen, aku sudah ada janji sama Chino siang ini." Kata Yumika sedikit canggung meski mereka tidak bertatap muka sekalipun.
"Souka? Kalau begitu, apa kau bisa malamnya?" Tanya suara di seberang dengan suara yang sedikit kecewa.
"Kalau itu bisa." Ucap Yumika seraya memegang ponselnya sedikit erat.
"Yokatta~~! kalau gitu, di depan stasiun XZ jam 7. Kutunggu! Sampai nanti~!" Ucapnya tak sabar kemudian terdengar sambungan terputus dari seberang telepon.
Ini pertama kalinya Yumika mengobrol dengan Shiro via telepon.
Suaranya terdengar berbeda dengan yang aslinya. Meski begitu, Yumika sedikit lega karena ia jadi lebih leluasa untuk menanggapi. Tidak seperti waktu mereka sedang berdua saja.
Yumika berharap, ia bisa mengobrol biasa padanya seperti layaknya seorang teman, berhubung mereka sekarang lebih sering bertemu dan lumayan sedikit mengenal satu sama lain. Tapi, apakah begitu?
Yumika sedikit ragu.
Ia meletakkan ponselnya ketempat semula.
Daripada memusingkan hal-hal yang rumit dan membuatnya sakit kepala, akhirnya ia membaringkan tubuhnya sejenak sembari perlahan menutup mata.
~
"Yumi-chan, Yumi-chan!" Teriak suara serak seseorang, mengguncang-guncang bahu Yumika dengan menopang tubuhnya yang terbaring lemah di pinggir pantai.
"Kumohon, bukalah matamu!! Yumi-chan!!" Suara itu tak lelah mengusik pendengaran Yumika yang kini mengernyitkan dahinya. Seketika ia terbatuk-batuk memuntahkan air dari sudut bibirnya.
__ADS_1
"Yappariii~ Syukurlah!! Yumi-chan baik-baik saja!" Sedetik kemudian laki-laki bersurai hitam itu memeluk Yumika seolah takut ia akan pergi jauh.
"Aku.. dimana?" Dengan lemah Yumika mengerjapkan matanya memandang kesekitar.
'..Laut? Dingin..'
Laki-laki itu melepaskan pelukannya dan menyentuh pipi Yumika dengan sorot mata yang khawatir.
Kini ia beralih menatap laki-laki yang sejak tadi memanggil namanya. Namun, sosoknya tertutup bayangan.
"Yumi-chan! Kukira aku akan kehilangan mu.. gomen, aku tak tau akan jadi begini. Kenapa kamu tidak bilang? Harusnya kamu bilang kalau tidak bisa. Kamu membuatku sangat khawatir.." Yumika tak bisa melihat wajah laki-laki itu. Namun, suaranya terdengar sedih. Ia mencemaskan Yumika, sangat.
"Yumi-chan.. kenapa kamu sama sekali tak menjawabku? Gomen.. lalu, pakailah ini." Ucapnya dengan merogoh saku celananya yang basah.
Di sodorkannya sebuah gelang, seperti hasil kerajinan tangan.
"Sepasang denganku! Baguskan! Tapi, sedikit basah karena air. Tak masalah." Ucapnya gembira, memperlihatkan gelang yang terlilit dengan tiga warna yang berbeda.
Yumika hanya melihatnya dengan wajah yang panas seraya menerimanya.
"Nah, ayo kita pulang dan menghangatkan tubuhmu! Kalau tidak, kamu akan sakit!" Senyumnya sembari berdiri dan mengulurkan tangannya pada Yumika.
'Bodoh.. padahal dia juga jadi basah semua gara-gara aku..'
.
.
.
.
.
.
.
"Em.. eum..." Yumika merenggangkan tubuhnya dengan malas.
Sudah jam berapa sekarang..
Ia melihat jam diatas meja.
Jam 1 lewat 10 menit.
Ia tak mengira dirinya akan tidur selama itu.
Untung saja janjiannya jam 2, iapun bergegas bersiap-siap untuk menemui Chino di depan toko.
Sekilas sebuah bayangan seorang anak laki-laki terlintas di pikirannya.
Iapun terdiam sejenak dan menautkan kedua alisnya.
Apa aku memimpikan dia tadi?
__ADS_1
Yumika berpikir keras, namun sosok itu tak terlihat juga. Hanya surai hitam legam yang menjadi ingatannya saat itu. Siapa dia? Apa Yumika mengenalnya? Kenapa sulit sekali untuk mengingat wajahnya?***