Loved By Yandere-Kun

Loved By Yandere-Kun
Aku Milik Mu


__ADS_3

.


.


.


Sepanjang perjalanan, Yumika merasa berdebar-debar. Dibawah sinar terang lampu dan bulan sebagai saksi, mereka berjalan melewati orang-orang yang berlalu lalang entah kemana.


Suasana malam yang terasa berbeda, semacam ada suatu hal yang telah berubah.. aneh.


Padahal ada begitu banyak orang.. namun entah mengapa.. rasanya seperti hanya dia saja yang terlihat dimataku.


.....


"Eh? Ini bukan arah jalan pulang.." Ucap Yumika, bingung.


"Diam dulu, ikut saja." Jawab Shiro, tetap menggandeng tangannya menuntun jalan.


Aneh..


Rasanya ganjil menatap punggung Shiro seperti ini.


Seperti ingin menyentuhnya.


Kenapa..


Yumika beralih menatap surai putihnya yang bergerak bebas bak tersapu oleh angin, tampak lembut dan damai.


Kenapa..


"Yumi senpai.. apa kamu sedang menatap ku sekarang..?" Ucapnya dalam suara rendah.


"B-bagaimana-"


"Aku merasakannya." Yumika terdiam, melihat telinga Shiro memerah.


Lucu sekali..


Beberapa detik kemudian mereka sampai di sebuah minimarket terdekat.


"Tunggu di sini sebentar," Ucap Shiro lalu masuk ke dalam sana.


Dia mau beli sesuatu? Yumika bertanya-tanya dalam hati. Sambil menunggu, iapun duduk di sebuah kursi yang sengaja di siapkan di luar pintu minimarket itu.


Sekali lagi Yumika merasa aneh.


Aneh. Benar-benar aneh..


Apa yang sedang ia lakukan di sini? Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Berlalu begitu saja.. dan baru menyadarinya sekarang.


Untuk sejenak, pikirannya dipenuhi oleh segala hal yang terjadi selama beberapa pekan terakhir.


Ia tak menyangka.. bagaimana bisa?

__ADS_1


Rasanya seperti.. ingin menangis saat ini juga.


Terlalu berlebihan, memang.


Disukai oleh cogan? Bukan, bukan itu. Itu hal yang paling kecil menurutnya.


Have someone her like? Tidak, yang lainnya tapi bukan itu.


Lantas apa?


.. Suatu saat, ia pasti akan menemukan jawabannya.


Segera.


Tak lama kemudian Shiro keluar dengan se-tas kresek putih yang menampilkan barang belanjanya.


"Perlihatkan kakimu." Titahnya sembari berjongkok dengan lututnya sebagai tumpuan.


"Eh?.. K-kenapa?" Yumika sedikit terkejut. Apa dia..


"Kamu terluka, kan? Kenapa kamu malah menutupnya seperti ini? Bukan begini caranya." Ucap Shiro melihat lutut Yumika yang terplester dan menyentuhnya pelan.


"Tak terlalu parah..-ackh!" Yumika merasa perih karena Shiro tiba-tiba melepas plester di lututnya.


"Hei!" Yumika ingin protes namun terhenti ketika melihat raut wajah Shiro, anehnya seperti sihir yang menutup rapat mulutnya begitu saja.


Aneh..


"Maaf." Ucap Shiro kemudian. Ia mengambil antiseptik dan kapas di tas belanjaannya.


"Tentang aku mem.." Dengan cepat Yumika menutup mulut Shiro dengan kedua tangannya.


"Kamu, kamu mau bahas itu disini? Kita bicarakan itu nanti saja." Ucapnya panik merasa tahu apa yang akan dikatakan Shiro. Takut ada yang mendengarnya.


Tanpa berlama-lama, Shiro sudah membalut luka Yumika dengan rapi dan tertutup sempurna.


"Sudah selesai," Ucap Shiro kembali berdiri.


"Kamu.. berbakat juga." Puji Yumika dengan melihat tampilan lukanya yang sudah tidak berantakan lagi.


Ia tak menyadari, Shiro sedang memandangnya lekat. Yumi senpai.. Yumi senpai.. Yumi senpai.. Entah kenapa ia ingin terus menyebut nama itu tiada henti.


Tiap kata dari nama yang di ucapkannya itu, membuat pipinya terasa panas.


"Yumi senpai.." Tanpa sadar gumaman Shiro terdengar oleh Yumika.


"Ah, maaf! Ayo~" Ucapnya kemudian bangkit dari duduknya.


Shiro melirik kearah lain tanpa mempedulikannya.


"Eh..? Ada apa, Shiro?" Tanya Yumika, bingung dengan sikap anehnya yang tiba-tiba.


"Ah.. tidak.. itu.." Yumika mendekat dan memandangnya, "Wajahmu terlihat pucat!" Ekspresi Yumika terlihat khawatir, ia menangkupkan satu tangannya di pipi Shiro, "Dingin sekali," sontak saja Shiro membulatkan matanya terkejut.

__ADS_1


"Ayo kita pulang sekarang, kamu butuh istirahat-" Dengan cepat Shiro memotong ucapannya dan menahan tangannya yang digandeng oleh Yumika.


"Aku butuh kamu.. aku hanya butuh Yumi senpai.." Kalimat yang terdengar aneh bagi Yumika, namun membuat hatinya bergetar cukup hebat.


"K-kamu bilang apa, ayo-" Ucapan Shiro membuatnya gugup dan memalingkan wajahnya. Jemarinya yang terasa dingin sempat tersalurkan pada Shiro.


"Tanganmu dingin.." Ucap Shiro pelan.


"Ma-malam hari memang selalu dingin! Maka..nya ayo cepat pulang sebelum aku jadi membeku!" Pekik Yumika, tak bisa mengatur intonasi suara yang berubah-ubah. Ia kembali menarik tangan Shiro dan memandu jalan.


Shiro hanya tersenyum hangat, seperti biasa, Yumika satu-satunya yang dapat membuat hatinya tenang. Bagaimana jadinya bila ia tidak ada? Shiro sama sekali tak bisa membayangkannya. Biarlah itu hanya menjadi mimpi buruk sesaat, asalkan Yumika selalu berada disisinya.


Kebahagiaannya hanya Yumika seorang.


°°°


Disuatu gang dengan jalan yang sempit dan gelap, hanya ada secercah cahaya redup yang menerangi tempat itu. Seorang laki-laki dengan pakaian yang bercipratan darah yang berantakan, juga bau amis pekat yang menyeruak keluar menyatu dengan udara.


Cairan merah yang berceceran dan mengalir seperti air, membasahi sepatunya sekaligus.


"Berani sekali kau mengambil foto diam-diam!!! Bagaimana kalau kedua matamu itu juga ku 'abadikan', huh?" Ucap Kuro dingin dengan gunting ditangannya. Darah mengalir dari ujungnya dan menetes tanpa henti.


Ia memotong kulit seorang pria yang sudah tak bernyawa. Tak berhenti sampai disitu, ujung gunting ia tancapkan keperut si mayat hingga menerobos masuk setengahnya.


Wajahnya sudah tak bisa di apa-apakan lagi, sangat membosankan. Batinnya.


Dengan tak berperasaan dan tanpa iba, ia merobek perut itu hingga terlihat isinya.


Ia menatap laki-laki itu sembari tersenyum.


"Ah.. ya ampun.. kau menjijikan sekali~" Bisiknya tersenyum dengan mata birunya yang gelap.


Kuro mengambil pisau kecil di sakunya dan mulai mengiris dada laki-laki itu melingkar.


Dengan sangat dalam, darah menciprati wajahnya. Kuro tetap menusukkannya lebih dalam lagi hingga batasnya tenggelam, membuat sebuah lingkaran yang tidak rapi.


Ia menarik pisaunya kembali dan membuka gumpalan daging itu, memperlihatkan sesuatu di dalam sana.


"Apa ini.. jantungmu masih berdetak!" Dengan kasar ia menerobos dada pria itu dan mengambil jantungnya dengan bengis.


"Ha~ kau sudah tidak membutuhkannya lagi, aku akan membawa ini. Pasti peliharaanku akan suka sekali," Ucapnya tersenyum psikotik seraya menggenggam benda sebesar kepalan tangannya itu.


"Ah, Yumi Chan~ aku merindukanmu..~ akhirnya.. kita bertemu kembali setelah sekian lama..~" Kuro tersenyum bak iblis.


"Tunggu perlahan sampai kau jatuh ketanganku.." Memikirkannya membuat Kuro tak sabar dan bergetar, ia kembali tersenyum dan menyibakkan poninya ke atas.


"Ah.. aku harus membersihkan diriku." Tak lama, ia meninggalkan mayat itu sendirian. Kuro pergi dengan pakaiannya yang sudah setengah basah karena bercak merah pekat dan berbau amis.


Ia tak akan membiarkan seorangpun yang ingin mengganggu miliknya, atau ia akan merasakan akibat yang lebih fatal karena sudah berani menyentuh.


Kuro tak bisa melupakan satu haripun kenangan bersama Yumika, semuanya terputar kembali dalam pikiran dan benaknya. Semakin hari semakin terbayang, dengan matanya yang gelap dan kosong. Ia memikirkannya. Senyumnya, matanya, surai rambutnya, bibirnya, hidungnya, semua bagian dari Yumika adalah miliknya.


Mine.

__ADS_1


Tampak sebuah senyum tercetak dibibirnya kembali.***


__ADS_2