Loved By Yandere-Kun

Loved By Yandere-Kun
Kuro Dan Shiro


__ADS_3

."Sudah ku bilang ketuk pintu kalau mau masuk kamar ku, apa-apaan kau ini." Ucap Shiro dengan nada kesal.


"Gomen~ lagipula, aku kan kakakmu, tak masalah kalau aku bebas masuk keluar kamar mu kan?" Kata Kuro dengan nada menantang seraya duduk di sandaran sofa.


"Aku tak mau menganggap orang yang tak waras seperti mu sebagai kakak ku." Enteng Shiro dengan menatap nya dingin.


"Jahat nya~ padahal dulu kau juga menikmati nya bersama ku..~" Kekeh Kuro pelan.


Shiro tak bergeming.


"Aku berbeda dengan mu." Shiro berbalik dan beranjak menuju ke kamar nya lagi.


Kuro masih di sana sambil memandang kepergian Shiro.


Berbeda.. huh?


Sesaat kemudian, ia memasang senyum di wajah nya.***


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


**4 tahun yang lalu...


"Shiro~ Bukankah ini menyenangkan~?" Ucap seorang remaja laki-laki bersurai hitam dengan darah yang bercipratan di wajah nya. Ia mencengkram leher kucing yang kini sudah tak bernyawa, dengan warna merah pekat kehitaman yang membanjiri seluruh tubuh kucing itu sekaligus tanah yang ia pijak.


Seorang anak laki-laki bersurai putih yang di panggil Shiro, menundukan kepala dan mengamati saudara nya dari dekat.


"Apa nya yang menyenangkan? Aku tak mengerti, Kuro." Kata Shiro menatapnya polos.

__ADS_1


"Kau tak akan tau jika tak mencoba nya~ kemarilah, dan lakukan seperti yang kakak lakukan, setelah itu kau akan mengerti bagaimana rasa nya~" Ucap nya dengan wajah yang tersenyum gelap menatap adik nya.


"Tapi, nanti ayah dan ibu marah." Shiro berbicara seolah khawatir akan terjadi sesuatu. Ia kini berjongkok di samping kakak nya, mengamati lebih dekat apa yang telah di perbuat nya pada seekor kucing yang tak berdosa itu.


"Tenang saja, mereka tak akan tau, tak akan pernah tau. Cepat atau lambat.. ini. Pegang pisau ini." Ia menyodorkan sebuah pisau kepada Shiro.


"..Untuk apa ini?" Ucap nya setelah menggenggam sebuah pisau silver yang tampak tajam, salah-salah bisa melukai siapapun yang ada di sekitar nya, bahkan diri nya sendiri.


"Wah~ Kau sudah bisa memegang nya dengan benar rupa nya~ selanjut nya, coba kau lakukan sesuatu pada burung ini dengan benda itu." Kata Kuro tersenyum seraya menangkup seekor burung putih dengan kedua tangan nya.


"Hei! Darimana kau dapat burung itu?" Shiro terheran-heran.


"Dia yang datang sendiri padaku, aneh, kan?" Ucap nya sambil meletakkan telunjuk di bibir bawah nya kemudian tersenyum lagi.


Shiro tampak menimang-nimang. Ia mengambil burung itu dari tangan Kuro.


Seekor burung di tangan kiri nya dan sebilah pisau di tangan kanan nya.


Apa yang akan dilakukan nya?


Setelah beberapa saat, Shiro akhir nya mengangkat pisau nya tinggi-tinggi dan menusuk punggung burung itu dengan sekali tikaman yang menembus hingga ke dalam daging nya.


Merasakan sakit yang luar biasa, burung itupun bergetar-getar berusaha untuk lepas dari genggamannya, namun pegangan Shiro terlalu kuat untuk di lepaskan.


Melihat lemah dan tak berdaya nya burung itu di tangan nya, telah menggugah kepuasan tersendiri bagi nya.


Lagi.


Shiro menikam nya berkali-kali hingga burung itu mencipratkan darah ke wajah, bahkan ke baju nya. Berkali-kali pula burung itu bergetar karena logam besi yang menerobos tubuh nya itu. Kini bulu putih nya sudah banjir bermandikan darah.


"Subarashii~!! Lumayan juga untuk kali pertama mu~. Bagaimana perasaan mu? Apa kau menikmati nya?" Tanya Kuro kemudian setelah takjub menyaksikan tindakan berani Shiro.


"Rasa nya.. menyenangkan sekali! Kenapa ya?.. Aku ingin lebih." Ucap Shiro dengan mata yang berbinar-binar seraya beralih ke mata burung yang sudah tak bernyawa itu. Ia meletakkan pisau nya asal dan kini mulai mencongkel mata dengan tangan nya sendiri sembari tersenyum. Dengan tak merasa jijik sedikitpun, ia menekan mata burung itu dengan telunjuk dan ibu jari nya serta mengeluarkan nya dari sana, satu bola mata sudah di copot nya, mengangkat syaraf optik yang menjadi penghubung nya sekaligus.


Tak sampai situ, dengan cekatan ia mencongkel bola mata yang satu nya lagi dengan bengis nya.


"Sudah ku bilang, kau pasti akan suka~."Kuro hanya diam tersenyum memandangi adik nya yang tampak senang bukan main.


"Bukankah mata ini terlihat bagus? Tapi sayang, aku tak begitu menyukai nya." Shiro menghancurkan mata burung itu dengan tak berperasaan dan tanpa rasa iba.


Ia tersenyum, menatap puas hasil karya seni nya dengan mata yang berkilau.


"Shiro, seperti nya sudah mau malam, sebaik nya kita pulang sekarang. Tenang saja, kau bisa melakukan nya lagi bersama ku~" Ujar nya kepada Shiro yang seketika tampak kecewa sembari mengambil pisau yang diberikan nya tadi.


"Tapi.. aku belum selesai!" Shiro masih bersemangat, namun Kuro sudah menggandeng tangan nya yang berlumuran darah.


"Ie~ sudah cukup untuk hari ini, seperti nya adikku kecewa sekali ya~?" Goda Kuro membuat Shiro memanyunkan bibir nya. Ia memilih untuk menurut saja*.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Benar. Hari itu, hari dimana kali pertama Shiro memulai nya, berkat kakaknya, Kuro.


Tidak. Bahkan sebutan 'kakak', sudah hancur saat itu, kebenciannya sampai sekarang tak pernah berkurang sedikitpun.


Hari sebelum semua itu terjadi, ia memandang Kuro dengan tatapan geram karena benci yang membara menembus hingga ke ubun-ubun nya.


Ia begitu benci pada nya sampai tak sempat untuk berkedip.


Selepas tragedi yang mengoyak hancur hati dan pikiran nya, dengan cepat ia mengubah pandangan nya terhadap Kuro mentah-mentah. Sebenarnya, apa yang telah terjadi di masa lalu antara mereka?


.


.


.


.


.


.


.


"Ah.. jadi teringat kenangan dulu.. saat-saat kebersamaan yang tak berlangsung lama, ya..." Gumam Kuro di bawah lampu taman yang  berkedap-kedip seperti akan mati, dengan sebuah pisau yang berlumuran darah di tangan nya.


Ia menatap seorang pria yang wajah nya sudah hancur mengerikan, tak dapat di kenali lagi. Bahkan orang normal pun, akan muntah dalam sekali lihat.


malam ini, taman itu sepenuh nya telah menjadi milik nya. Dimana tak ada makhluk hidup bahkan manusia yang berlalu lalang lagi, mereka semua terlelap di tengah kegelapan malam, kecuali diri nya.


"Padahal aku sudah berusaha agar darah nya tak mengenai pakaian ku, tapi ternyata tak bisa, ya?" Ia menghembuskan napas berat.


Meski begitu, ia tampak sangat puas. Nafsu membunuh nya telah terpenuhi dengan ini. Ia pun membalikkan badan nya dan beranjak dari sana, meninggalkan mayat pria itu begitu saja.


°°°


Drrttt*drrttt*!


+81241*****


"Datang ke UKS besok setelah jam istirahat."


02:01 AM


"Atau Yumika Yoshino akan menanggung akibat nya."

__ADS_1


02:01 AM


***


__ADS_2