Loved By Yandere-Kun

Loved By Yandere-Kun
-Yumi Senpai!!


__ADS_3

.


.


.


.


.


Yumika POV


Gawat..


Ini pertama kali nya aku sedekat ini dengan seorang laki-laki.


Dan lagi, wajah nya sangat dekat sampai-sampai aku tak bisa bergerak.


Kalau sudah seperti ini, sudah pasti kami di kira sedang berpacaran.


Tapi untunglah. Karena kabut tebal yang di sebabkan hujan, tak ada yang bisa melihat kami. Untuk saat ini.


Dingin.


Hawa nya memang dingin. Namun, sentuhan hangat dari Shiro sedikit menutupi nya.


"-Mi.. Yumi senpai?" Suara Shiro yang hampir tak terdengar karena riuh nya hujan itu membuyarkan lamunan ku.


"K-kenapa?" Tanya ku tanpa melihat wajah nya.


"Yumi senpai, kita harus bergegas sebelum hujan nya semakin lebat." Aku sama sekali tak bisa menatap nya sekarang. Hanya suara nya yang samar-samar tersampaikan padaku.


Apa ini..


tiba-tiba saja ada yang menghantam keras dada ku, seperti memberontak ingin keluar dari sana.


Hening.


Kini hanya terdengar suara rintik-rintik air hujan yang jatuh.


Suara air yang menetes di balik payung kini semakin deras, sekaligus menjadi jawaban atas apa yang terjadi saat ini.


Kami menelusuri jalan yang masih terbilang jauh di depan mata, meski tak terlihat dengan jelas.


Mendadak seluruh tubuh ku merasakan dingin hingga ke tulang belakang, padahal aku sedang memakai syal miliknya.

__ADS_1


Perlahan-lahan pandangan ku seperti kehilangan konsentrasi.


..Kenapa ini?


"Yumi senpai? Ada apa?" Shiro seperti nya menyadari sesuatu yang aneh pada ku, ia menatap ku khawatir.


"I-ie," badan ku rasa nya seperti tak kuat lagi untuk berdiri.


Kenyataan bahwa kini sulit bagiku untuk bernapas, membuat ku kehilangan keseimbangan. Spontan saja ku genggam lengan Shiro kuat-kuat.


"Yumi senpai! Kau kenapa?! Yumi senp-" Sayup-sayup terdengar suara Shiro yang memanggil ku, namun tak sempat melihat diri nya, pandangan ku perlahan menghitam dan suara nya sudah tak terdengar lagi bak menghilang di telan hujan.


.


.


.


.


.


.


.


Dengan menggendong Yumika yang tak sadarkan diri, ia bergegas membawa ke kamar nya yang ada di lantai atas.


Yumi senpai.. bertahanlah.


Sesampai nya di kamar, Shiro merebahkan tubuh Yumika hati-hati di tempat tidur nya yang berukuran king size.


Melihat pakaian Yumika yang basah semua, pasti itu tidak nyaman dan akan membuat nya tambah sakit.


Bagaimana aku mengganti nya?


Yang paling di takutkan Shiro, ketika Yumika sudah sadar ia akan di cap sebagai laki-laki mesum dan akan di marahi habis-habisan.


Namun, itu bukan lah hal yang patut di khawatirkan saat ini, mengingat sejak tadi ia merasakan suhu tubuh Yumika yang lumayan panas. Ia sampai pada kesimpulan bahwa senpai nya kini terserang demam.


"Gomen... Yumi senpai. Ini demi kebaikan mu. Kau tidak boleh tidur dengan pakaian mu seperti ini." Dengan sangat terpaksa, Shiro harus melakukan nya, ia berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian di sana.


-Skip


Yumika terbangun, ia mengerjap-ngerjapkan mata nya berulang kali. Dilihat nya langit-langit atap yang tampak asing bagi nya, ia beralih memandang ke sekitar.

__ADS_1


"Di-dimana aku.." Yumika sadar kini ia berada di sebuah kamar yang bukan milik nya. Yumika masih terbaring di tempat tidur.


Beberapa saat kemudian, ia merasa ada yang aneh. Di singkapnya selimut yang membenam sebagian tubuh nya, sontak Yumika bergidik ngeri.


Cklek*


"Yumi senpai sudah bangun?" Shiro menutup pintu, menghampiri Yumika dengan membawa nampan yang berisikan makanan dan minuman diatas nya. Ia meletakkan nampan itu di atas meja minimalis yang bersebelahan dengan tempat tidur.


"Yumi sen-" Sebelum ia sempat menyelesaikan kata-kata nya, Yumika cepat-cepat memotong nya.


"J-jangan mendekat! Hentaii!!!" Teriak Yumika seraya mundur ke pojokkan dengan menutupi setengah wajah nya dengan selimut.


Shiro terkejut, "T-tidak, bukan begitu! Ini bukan seperti yang Yumi senpai bayangkan! Pakaian mu basah, jadi aku menggant-" Belum sempat ia berkata lagi, Yumika sudah melemparkan bantal ke arah nya.


"Ukh-! Yumi senpai, tolong tenang dulu, ku mohon.." Dengan suara nya yang lemah dan masih terdengar indah itu, entah mengapa Yumika sedikit mengurangi kecurigaan nya dan berusaha tenang seperti yang dia minta.


"Sekarang jelaskan, kenapa aku di sini? Kenapa pakaian ku begini?" Ucap Yumika dengan sedikit ragu, masih memegang erat selimut nya.


"Yumi senpai.. tadi pingsan sewaktu di jalan, di tengah hujan. Karena aku tak tau rumah senpai, jadi nya aku membawa mu kemari." Jelas Shiro.


"Dan soal pakaian mu, aku yang mengganti nya. Gomen Yumi senpai, kalau kau membawa tidur seragam itu, aku takut nanti Yumi senpai bakal tambah sakit. Pasti nya Yumi senpai juga tidak nyaman kan, kalau tidur dengan pakaian yang basah. Jadi.." Shiro menjelaskan nya panjang lebar membuat Yumika sedikit tak tega dengan perbuatan nya tadi, namun ia masih tak terima. Terlebih dia seorang laki-laki.


"S-souka, aku mengerti. Maaf tadi sudah membentak dan melempari mu dengan bantal." Ucap Yumika kemudian, ia tak punya pilihan, ia memilih untuk memaklumi nya.


"Tapi.. kau tak meraba-raba ku kan?" Yumika mengerutkan kening nya kembali curiga seraya melemparkan tudingan pada Shiro.


"Tidak sama sekali." Mantap nya membuat Yumika semakin mengerutkan dahi nya.


"Hmp." Yumika tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Baguslah, Yumi senpai sudah tidak marah lagi padaku. Etto.. permisi sebentar," Senyum Shiro sembari mendekat kearah nya, menempelkan punggung tangan nya ke dahi Yumika.


"Masih agak panas. Yumi senpai, kenapa kau sampai demam begini? Apa kau salah makan?" Ucap Shiro kemudian setelah memeriksa suhu tubuh nya.


"Em.. seperti nya.." Yumika mengingat-ingat. "A-aku lupa. Aku lupa makan.." Merasakan badan nya tak enak sejak sepulang sekolah, setelah di rasa nya, ternyata perut nya belum di isi sejak pagi tadi.


"Kenapa? Kenapa Yumi senpai sampai lupa hal penting seperti itu? Kalau begitu kau harus makan dulu. Aku sudah membawakan nya." Shiro sedikit emosi. Namun, Yumika tak menyadari nya.


"Um.. arigatou," Shiro mengambil nampan yang ada di atas meja dan duduk di kursi sembari memangku nya.


"Eh?" Satu sendok bubur melayang di udara menunggu Yumika membuka mulut nya.


"A-aku bisa sendiri-" Yumika merasa malu jika harus di suapi oleh Shiro.


"Ie, buka mulut nya, Yumi senpai." Ucapan shiro yang terdengar tegas namun lembut itu mau tak mau membuat Yumika harus mengikuti nya.

__ADS_1


"Enak?" Shiro tersenyum hangat menatap nya.


Yumika lagi-lagi terpana.***


__ADS_2