
"Hati-hati di jalan ya Lusi."
"Hati-hati Lusi."
"Hati-hati di jalan ya nak."
Para teman-teman Lusi melambaikan tangannya saat lusi meninggalkan mereka, saat ia telah melakukan pas card. Lusi menuju ke arah halte untuk menunggu bus-nya. Saat sedang menunggu di halte bus, terdengar suara klakson motor dari arah kanan jalan mencoba memanggil gadis yang terduduk itu.
Lusi pun menolehkan kepalanya ke kanan dan melihat Rangga sedang menghampirinya. "Hai kamu."
Lusi melihatnya lalu kembali memfokuskan dirinya pada layar ponsel yang ada di genggaman nya. "Lusi, kamu tidak memakai pemberian ku?"
Mendengar hal itu. Lusi menghentikan acara main ponsel nya, gadis itu menatap wajah laki-laki di depannya. Lalu mengeluarkan sebuah kotak di dalam tasnya yang kemarin laki-laki itu berikan kepadanya. Rangga melihat kotak tersebut yang telah Lusi sodorkan padanya. "Ini kan?"
__ADS_1
"Iya, ambillah! Aku tidak membutuhkannya," ucap Lusi, lalu gadis itu meraih tangan laki-laki itu dan memberikan kotak tersebut.
"Tapi.. ini kan buat k-.." belum laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya, gadis itu lebih dulu memotongnya. "Aku tidak ingin menerima apapun darimu. Jadi ... sebaiknya kamu simpan saja."
Setelah mengatakan itu, Lusi segera memasuki bus tujuannya. Karena saat ia selesai mengatakan kalimatnya pada Rangga yang ada di depannya. bus jurusannya telah sampai di hadapannya, sehingga memudahkan Lusi untuk cepat meninggalkan tempat itu.
Seperti biasa Lusi mengambil tempat duduk paling belakang, saat ia melihat di dalam bus tidak begitu banyak orang sehingga membuatnya dapat memilih tempat duduk sesuka hati. Ia menduduki tempat yang ia duduki yaitu di samping jendela. Di sana, ia dapat melihat laki-laki itu masih di posisinya sembari memegang kotak yang tadi ia kembalikan pada sang pemilik.
Gadis itu sebenarnya tidak enak, mengembalikan barang yang sudah ia terima sebelumnya. Tapi bagaimana pun ia harus mengembalikannya karena tidak ingin dianggap hanya memanfaatkan barang milik orang, sedangkan ia tidak menginginkan orang tersebut. Apalagi mengingat bahwa laki-laki itu adalah orang kota.
Di perjalanan, Lusi hanya menatap ke arah luar, dengan telinganya yang mendengarkan musik. Mungkin karena jalan sedang macet membuatnya menutup matanya sembari menyandarkan kepalanya di jendela bus.
....
__ADS_1
"Lusi, bangun. Kita dah sampai." Lusi yang tertidur itu membuka matanya, saat sebuah tangan menepuk pelan pipinya. Gadis itu menoleh ke arah orang yang membangunkannya dan segera menjauhkan diri.
"Kamu! Kenapa ada di sini?" ucap Lusi saat membuka matanya.
Lusi terkejut saat melihat orang tersebut yang tak lain adalah Rangga. Laki-laki itu tersenyum ke arahnya. "Aku melihatmu sedang tertidur, jadi aku naik untuk membantumu tidur lebih pulas."
Lusi terdiam sejenak. Memang benar bahwa ia saat terbangun dari tidurnya ia melihat dirinya sedang menyandarkan kepalanya pada bahu laki-laki di depannya. Tak ingin terus menatapnya, Lusi pun keluar karena ia telah sampai di pemberhentian tempatnya tinggal.
"Tunggu! Lusi!" panggil Rangga, namun gadis itu mengabaikan panggilan nya.
"Lusi, tunggu!" ucap Rangga lagi, sembari menghentikan langkah gadis itu.
Lusi menatapnya dengan tatapan penuh kesal ke arah laki-laki itu. "Boleh tidak, kamu jangan mengikuti ku terus!"
__ADS_1
"Aku tidak akan mengikuti mu, hanya saj-" ucapan laki-laki itu terpotong saat ia melihat seseorang yang di kenalnya.
"Lusi... bukannya itu kakak mu?"