Lusi

Lusi
Bab 24 - Di Warung Bawah


__ADS_3

Malamnya, saat selesai makan malam Arya menghampiri sang adik.


"Dek?" panggilnya.


Lusi sendiri menoleh ke arah sang kakak. "Iya, kenapa kak Arya?"


"Belikan kak Arya roti di warung bawah, boleh?"


"Bukannya, sepuluh menit yang lalu baru selesai makan malam kak? Untuk apa beli roti?" tanya Lusi bingung. Soalnya baru beberapa menit yang lalu sang kakak sudah makan malam bersama dengan Amber dan juga dirinya.


"Kakak cuma pengen aja makan roti, udah deh dik! Jangan banyak bertanya belikan kak Arya roti ya, ya." ucap Arya sembari dengan rengekannya memelas di depan Lusi.


Lusi yang selesai dengan cuci piringnya hanya menarik nafas pelan dan mengulurkan tangannya pada sang kakak. Sang kakak pun menyipitkan matanya dengan tatapan bertanya. "Kakak Arya menyuruhku untuk beli roti kan? Mana uangnya!"


Arya terkekeh saat menyadari bahwa ia belum memberikan uang sepeser pun pada sang adik.


"Hehehe ... kakak lupa neng, sorry." ucap Arya sembari memberikan uangnya pada Lusi. "Nah, jangan lupa belikan kak Arya yang rasa vanilla."


"Iya, sudah tau kok."


****


"Hai ... kita ketemu lagi," sapaan seseorang membuat Lusi yang sedang memilih roti menolehkan kepalanya ke belakang, "Kamu!"

__ADS_1


"Ku rasa kita memang berjodoh, buktinya kita berjumpa lagi," ucap orang tersebut yang telah berdiri di samping Lusi.


"Kamu, belum pulang?" tanya Lusi, saat melihat orang di depannya masih berada di daerahnya.


Laki-laki itu yang tak lain adalah Rangga yang berdiri tepat di samping Lusi dengan baju tadi pagi.


"Belum, aku masih mau makan di situ. Kamu sendiri untuk apa turun ke bawah?" jawab Rangga atas pertanyaan Lusi.


"Aku di suruh kak Arya buat beli roti," sahut Lusi dengan tetap menatap laki-laki itu.


Rangga hanya manggut-manggut. "Ah, begitu."


Lusi mengangguk sebagai respon. Sebelum ia mengerti maksud dari sang kakak yang menyuruhnya untuk turun beli roti.


"HAH?!"


"Jika kamu tidak mau, ya sudah!" Lusi berniat untuk pergi dari warung itu saat dirinya sudah selesai membayar roti tersebut. Namun, tangan laki-laki itu menahan tangan Lusi.


"Tunggu-tunggu! Aku belum mengucapkan sesuatu kok malah langsung pergi," ucap laki-laki itu.


"Aku tadi hanya terkejut saja saat kamu menawarkan diri menemani ku makan malam," lanjutnya.


Lusi hanya diam menatap wajah laki-laki itu. Lalu ia pun berucap. "Di mana kamu memesan makanan?"

__ADS_1


"Di situ ...," sahut Rangga seraya menunjuk ke arah warung rujak di samping toko nasi goreng.


Lusi pun pergi ke tempat yang di tunjuk oleh Rangga, dan mendahului laki-laki yang menahan tangannya tadi.


"Bik ... aku mau pesan rujaknya satu ya," ucap Lusi pada penjual rujaknya.


"Baik, nak. Di tunggu ya," sahut penjual rujak itu sambil tersenyum.


Lusi dan Rangga pun duduk di meja yang telah disediakan di sana, dengan posisi mereka yang berhadapan. Di sana tidak ada yang saling membuka pembicaraan, sehingga beberapa saat Rangga yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Lusi...."


Lusi melihat ke arah laki-laki itu. "Ada apa?"


"Tidak, aku hanya memanggil," ucapnya. sungguh konyol.


"Terimakasih, sudah membantu kak Arya," ucap Lusi saat keheningan melanda mereka berdua.


"Tidak usah berterimakasih, aku ikhlas membantu."


Lusi melirik ke arah wajah tampan itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah bawah. "Tapi jika bukan karena mu, mungkin kak Arya masih di tahan di kantor polisi. Terimakasih banyak atas bantuannya Rangga."


Laki-laki itu nampak tersenyum kecil melihat Lusi yang mengucapkannya tanpa melihat ke arahnya. "Jadi ... apakah kamu mau menjadi kekasih ku?"

__ADS_1


__ADS_2