
Lusi pun hanya tertawa kecil dan melepaskan tangan yang menyentuh bahunya itu agar menjauh. "Iya, aku sungguhan. Mana mungkin aku berbohong padamu."
"Oke, ayo kita ke atas!" ucap Sofia penuh semangat dan segera menarik Lusi keluar dari setor untuk menuju lantai satu. Karena letak kantin berada di lantai satu. Mereka memilih menaiki tangga daripada menggunakan lift.
****
"Lusi sayang, terimakasih banyak ya, kamu sudah mentraktir aku makan siang hari ini," ucap Sofia di sela-sela mengunyah makanannya.
Lusi hanya mengangguk sambil meminum minuman yang ia pesan. "Em sama Sofia."
"Eh Lusi. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar kedua saudaramu, apakah mereka masih dengan pendiriannya? Mereka belum menghubungi kamu."
Lusi menundukkan kepalanya sembari tersenyum kecil. "Aku juga tidak tau Sofia, apakah mereka masih menganggap aku keluarganya."
"Hei. Kamu ini ngomong apa sih Lusi! Mana mungkin mereka melakukan hal itu kepadamu hanya karena kamu masuk keyakinan yang berbeda dengan mereka, apa salahnya dengan itu, Toh kamu melakukannya dengan niat hati, bukan dari paksaan orang lain." balas Sofia dengan suara sedikit pelan.
__ADS_1
"Mungkin mereka hanya terlalu shock, karena kamu tiba-tiba membuat pernyataan yang membuat mereka terkejut. Tapi percayalah Lusi! Cepat atau lambat nanti keluargamu pasti akan menerima kamu kembali," sambungnya sembari menepuk pelan tangan Lusi.
Lusi tersenyum di sela kepalanya yang menunduk, ada rasa bersalah di dalam hatinya saat gadis itu mengingat akan kejadian kemarin. Dimana ia telah membuat kedua kakaknya marah besar dan kecewa terhadapnya.
"Lusi." panggil Sofia saat ia melihat temannya hanya menunduk tanpa bersuara. Ia pun menyentuh bahu temannya itu dan mencoba memanggilnya kembali.
"Lusi?" panggilnya lagi sembari mengibaskan tangannya ke arah wajah sang teman.
"Hah! Iya kenapa Sofia? Apakah kamu mau nambah lagi?" ucap Lusi saat dirinya sudah tersadar dari lamunannya.
Lusi hanya mengangguk, lalu ia berniat mengajak Sofia untuk turun setelah membayar makanan yang di pesan temannya itu. Tapi sebelum menginjakkan kakinya, lengannya di tahan oleh Sofia. Lusi pun melihat ke arahnya, "Kenapa So?"
"Apa kamu baik-baik saja Lusi, kenapa kamu hanya dia saja?" tanya Sofia yang terlihat khawatir kepada temannya itu.
Lusi yang mengerti akan pertanyaan temannya. Lalu, gadis itu pun mengangguk kecil sembari tersenyum. "Aku tidak apa-apa, ya sudah sebaiknya kita cepat turun! Ini sudah waktunya kita bekerja kembali."
__ADS_1
Sofia pun hanya tersenyum lalu mengangguk. "Yaudah, yuk kita turun. Tapi beneran kamu gak apa-apa?"
"Iya, aku gak apa-apa kok, aku baik-baik saja." balas Lusi.
Mereka berdua pun turun, tapi saat menuruni anak tangga. Seseorang telah berdiri di depannya. "Lusi, ada Rangga tuh."
Melihat itu, Lusi hanya menghela nafasnya pelan. Lalu melirik ke arah temannya. Sofia yang paham akan situasi itu langsung mengusap punggung Lusi sembari tersenyum. "Tidak apa-apa, kalian bicarakan saja oke. Aku akan mengatakan kepada Mak By bahwa kamu masih di kamar mandi."
Lusi pun hanya mengangguk. "Makasih, ya Sofia."
"Santai saja Lusi. Yaudah aku turun duluan ya," setelah mengatakan itu. Sofia pun turun untuk menuju setor. Sembari tersenyum manis ke arah laki-laki di depannya itu yang juga membalas senyuman gadis itu.
Tinggallah, Lusi dan Rangga yang berada di sana.
"Sayang." panggil Rangga kepada Lusi yang berdiri di depannya.
__ADS_1