
Lusi dan Rangga sedang berada di tempat tinggal kedua saudara Lusi. Mereka berdua ingin memberitahukan kepada saudara sang kekasih perihal lamaran tersebut. Mereka berada di situ karena Lusi meminta kekasihnya untuk meminta izin restu dari mereka berdua, meskipun mereka telah mengusir gadis itu dari rumah. Namun sepertinya kedatangan mereka tidak membuat kedua kakaknya memaafkan Lusi justru sang kakak marah besar.
"Dengar Lusi! Setelah apa yang kamu lakukan kepada kami, kamu masih datang kemari dan mengatakan bahwa kamu akan Menikah dengannya?" bentak Amber kakaknya dengan raut wajah marah besar.
Lusi menarik nafasnya pelan, mencoba menahan diri agar air matanya tidak menetes. Lalu ia berdiri di hadapan saudara perempuannya itu sembari meraih tangan saudaranya. Namun, sang kakak malah menepis tangan tersebut. "Kak Amber, aku datang kesini untuk meminta restu kalian untuk merestui kami berdua."
"Ck, dengar! Sejak kamu keluar dari rumah ini. Kami sudah tidak menganggap mu saudara kami!" ucap Amber dengan tatapan tajamnya.
Lusi menggelengkan kepalanya tidak percaya, ia meraih bahu sang kakak. "Kakak! Apa yang kak Amber katakan, hah? Kenapa kak Amber berkata begitu?"
"Karena kami sekeluarga sudah tidak menganggap mu sebagai saudara kami lagi," ucap Amber dengan dingin dan tatapan datar.
__ADS_1
"Dan kamu juga yang membuat hubungan antara kita menjadi seperti ini. Ini kemauan mu sendiri Lusi! Ini kemauan mu. Sekarang jika kamu hanya datang untuk meminta restu dari kami, kamu hanya akan membuang-buang waktu karena kami sudah tidak peduli lagi."
"Maaf mencela kak, tapi apakah anda patut berbicara seperti itu terhadap adik anda sendiri? Jangan karena adik anda telah memilih jalan lain, membuat kalian berdua tidak mengakuinya sebagai keluarga? Apakah anda tahu, bahwa perlakuan anda ini sungguh keterlaluan!?" ucap Rangga, di saat dirinya sejak tadi hanya diam menahan diri mendengar kekasihnya di perlakukan tidak baik oleh kedua saudaranya.
"Tau apa kamu tentang kami, hah? Ini semua gara-gara kamu! Gara-gara kamu, adik saya seperti ini," sahut Arya dengan mata yang membulat marah, menahan emosi.
"Maaf kak. Jika perkataan saya membuat kalian berdua marah. Tapi saya mengucapkan hal ini karena saya tidak suka melihat kekasihnya saya malah tidak diperlakukan baik oleh saudaranya sendiri, apakah kalian tahu? Meskipun kalian membenci Lusi, tapi kekasih saya ini masih meminta saya untuk datang ke sini karena dia ingin mendapatkan restu dari kalian semua. Tapi rupanya kedatangannya malah tidak dihargai oleh saudaranya sendiri. Maka daripada itu, saya mohon maaf jika ucapan saya telah lancang. Sekarang kami mohon pamit," setelah mengucapkan kata-kata tersebut. Rangga segera menarik tangan kekasihnya keluar dan mereka pun meninggalkan tempat tersebut.
Lusi menangis di belakang punggung kekasihnya, ia merapatkan wajahnya pada punggung laki-laki itu sembari memeluknya erat. Rangga hanya menoleh ke arah samping, ia tahu bahwa kekasihnya saat ini sedang kacau ia pun hanya membiarkan gadis itu menangis di belakang punggungnya.
Setelah beberapa saat kemudian. Mereka berdua sampai di tempat orang tua Rangga, mereka berdua pun akhirnya masuk dengan Rangga sudah mengelap air mata Lusi.
__ADS_1
"Mama." panggil Rangga.
"Eh, Rangga ... ayo masuk nak."
Setelah satu jam berbincang-bincang tentang masalah pernikahan. Akhirnya mereka berdua pamit untuk pulang, yah! Rangga dan keluarganya tidak tinggal di tempat yang sama, karena laki-laki itu memilih untuk tinggal seperti yang lebih dekat dengan university nya.
****
Setelah sampai di tempat tinggalnya, Keduanya masuk dan duduk di meja ruang tamu. "Sayang ...? Kamu baik-baik saja?"
Lusi mengangguk kecil dengan tatapan matanya menatap wajah laki-laki di sampingnya itu. Ia merasa sangat beruntung karena kekasihnya masih berada di sampingnya, meskipun permasalahan yang terjadi kepadanya.
__ADS_1