Lusi

Lusi
Bab 30 - Pikiran Kotor Lusi


__ADS_3

"Lusi, kamu sudah selesai?"


"Em, sudah." balas Lusi saat Sofia sudah berada di sampingnya.


"Kamu belanja apa?" tanya Sofia saat ia telah selesai dengan belanjaan yang memenuhi keranjang belanjanya. Lusi pun menunjukkan barang yang diambilnya.


"Hah? Roti? Roti saja, gak ada yang lain?" tanya Sofia yang heran akan belanjaan yang Lusi ambil yaitu hanya dua buah roti tawar.


Lusi mengangguk kecil. "Tidak, kok. Sebenarnya aku masih kurang satu barang lagi."


Lusi pun segera mengambil satu kaleng susu kental manis dan satu selai rasa kacang. Setelah selesai mengambilnya. Lusi segera menuju ke arah Sofia yang sudah berbaris di antrian kasir. Lusi pun segera memberikan dua barang yang diambilnya ke Sofia untuk di titipkan. Karena ia tidak ingin menunggu di barisan belakang.


"Dasar! Maunya enak mulu kau ya," ucap Sofia sembari melirik ke arah Lusi yang hanya cengengesan di sampingnya. Lusi pun hanya mengelus punggung Sofia dengan pelan.


"Suruh siapa juga kamu mengajak ku kemari, lagipula belanjaan ku hanya itu saja dan itu tidak akan memberatkan bawaan kamu juga 'kan?," ucap Lusi sembari keluar meninggalkan tempat kasir itu dan mendapat teriakan dari Sofia.


"Eh, kamu mau kemana?" ucap Sofia dengan suara sedikit nyaring, sehingga petugas di sana memberi sebuah kedipan mata yang memberi kode untuk tidak berisik pada Sofia.


Lusi hanya memberi isyarat kepada temannya itu, bahwa ia akan menunggunya di luar sembari menunggu barang miliknya. Lusi pun keluar berharap diluar tidak seramai di dalam. Namun, nyatanya ia salah, di luar justru lebih ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang menuju ke tempat tujuannya masing-masing.


Karena sudah di luar. Lusi pun memutuskan untuk duduk di salah satu anak tangga di sana sembari menunggu Sofia selesai. Di saat ia sedang terduduk, ia mengingat kembali tentang nenek yang di lihatnya tadi saat menuju ke supermarket.


"Apakah, nenek itu tidak memiliki rumah di sini?" gumam Lusi pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah beberapa menit Lusi menunggu di luar. Sofia pun datang dan langsung menghampiri Lusi yang masih dengan posisi duduknya. "Hei, kenapa bengong di sini? Nanti di hampiri India loh! Yuk ah, kita balik! Panas nih."


Lusi pun mengangguk menyetujui perkataan temannya, karena memang pada dasarnya hari ini begitu terasa panas, mungkin karena sudah siang sehingga membuat hati ini begitu panas.


Mereka berdua segera kembali menuju ke tempat kerjanya. Di perjalanan saat hendak melewati tempat nenek yang di temui Lusi tadi, gadis itu menyapa sang nenek dan memberikan barang belanjaannya tadi kepada nenek itu. Setelah menyerahkan bingkisan tersebut Lusi pun pamit.


"Lusi, kenapa kamu memberikan belanjaan mu kepada si nenek?" tanya Sofia saat Lusi menuju ke arahnya.


"Aku hanya ingin memberikannya saja." jawab Lusi sembari menatap lurus ke depan.


"Tapi kan setidaknya kamu beri saja satu jangan semua, gaji masih lama loh." protes Sofia.


"Aku tau gaji masih lama, tapi aku memang ingin membelikan nenek itu makanan saja tidak lebih kok. Lagipula barang tadi tidak semahal harga mobil, kan? Aku hanya berfikir bahwa nenek tadi belum makan siang Sof," ucap Lusi sembari mengembalikan uang untuk belanjaan yang tadi di belinya. Karena tadi barang yang dia beli Sofia yang membayarkan. Sofia pun mengambil uang yang di berikan oleh Lusi.


Lusi dan Sofia melihat ke arah laki-laki yang menghampiri kedua. Lagi-lagi laki-laki itu menghampiri gadis itu saat gadis itu telah sampai di pintu gerbang universitas.


"Apakah sudah selesai belanjanya?" tanya Rangga saat dia sudah berada tepat di dekat Lusi.


Lusi mengangguk. "Sudah. Em, sebaiknya aku masuk karena sebentar lagi sudah mulai kerja."


"Baiklah, sayang hati-hati kalau buat kerja ya?" ucap Rangga sembari mengusap pelan lengan sang kekasih. Lusi melirik ke arah temannya lalu melepaskan tangan Rangga yang masih mengelusnya.


"Em, kalau begitu aku masuk dulu," ucap Lusi sambil tersenyum. Lalu ia dan temannya meninggalkan laki-laki itu.

__ADS_1


Di perjalanan menuju pantry, Sofia bersuara. "Lusi?"


"Em."


"Sejak kapan kalian berpacaran? Bukannya kemarin-kemarin kamu bilang kalau kamu tidak suka ya sama si Rangga? Tapi kok sekarang kalian bisa bersama?" tanya Sofia penasaran akan hubungan temannya itu dengan sang kekasih.


Lusi pun mencoba berfikir untuk memberikan jawaban apa yang akan ia berikan kepada Sofia. "Aku tidak tau Sof, yang jelas dia baik. Dan banyak membantu ku."


"Astaga, Lusi!. Bukannya emang dari hari itu kita sudah mengatakannya kepadamu bahwa Rangga itu memang orang baik. Tapi kamunya saja yang tidak pernah mau percaya, bahkan langsung mengatakan bahwa kamu tidak mau mengenalnya."


Lusi pun tersenyum. "Em, maaf karena aku tidak mempercayai kalian pada hari itu. Aku khilaf maaf ya."


"Hah, ya sudahlah! Jangan dipikirkan. Aku juga senang kalau kamu jadian sama Rangga. Semoga hubungan kalian terus adem ayem ya dan semoga juga sampai ke jenjang pernikahan."


Langkah Lusi terhenti, ia menatap temannya yang juga menghentikan langkah kakinya. "Apa maksudmu ke jenjang pernikahan?" ucap Lusi dengan segala pemikirannya.


"Iya, ke jenjang pernikahan lah, semacam menyatukan rasa cinta kalian satu sama lain. Apalagi memang," sahut Sofia, sembari menyipitkan matanya, menatap ke arah Lusi.


"Hei!! Jangan bilang bahwa maksud perkataan ku di salah fahami oleh kamu Lusi?" tebak Sofia dengan tatapan curiga.


Lusi yang awalnya memang berfikir ke arah situ. Ingin meng-geplak kepala sang teman. Namun rupanya, Lusi salah. Dan seketika itu pula Lusi tertawa lepas sembari memegang perutnya.


"Maaf. Sofia aku tidak bermaksud begitu." ucap Lusi sembari masih tertawa di samping Sofia.

__ADS_1


"Astaga, kenapa kamu malah berpikiran sejauh itu Lusi. Kamu ternyata memiliki otak mesum juga ya, di saat usia kamu sudah mulai bertambah tahun." ucap Sofia sembari geleng-geleng kepala melihat kelakuan Lusi yang berpikiran aneh-aneh tentang perkataannya.


__ADS_2