
Lusi pun terbangun dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangannya mencari seseorang. "Kemana dia?"
Lusi pun berniat bangkit dari tempat tidurnya, lalu keluar untuk mencari Rangga. Saat dirinya telah menemukan sang kekasih, ia pun menghampirinya. Rangga pun melihat Lusi telah menghampirinya, Rangga pun tersenyum ke arah gadis itu.
"Kamu sudah bangun?" tanyanya saat gadis itu sudah berdiri di sampingnya.
Lusi mengangguk kecil. "Iya."
"Kemari lah, aku sudah membelikan kamumu sarapan, ayo kita makan," ucap Rangga sembari meletakkan piring yang berisikan nasi lemak kepada Lusi.
Lusi pun duduk dan mengambil sarapan yang telah kekasihnya siapkan di depannya. "Terimakasih."
Mereka berdua pun akhirnya memakan sarapannya, meskipun punya Lusi masih tersisa banyak. Setelah selesai sarapan, Lusi hendak membereskan meja makannya. Namun, Rangga menahannya. "Biar aku saja yang membereskan ini, kamu pergi lah duduk istirahat."
Lusi yang melihat kekasihnya menahan tangannya segera melepaskan genggaman tersebut. "Tidak! Sebaiknya aku saja yang membereskannya." Lusi pun mengambil piring mereka berdua, lalu membawanya ke dapur untuk di cuci-nya.
Setelah selesai mencuci piring, Lusi hendak membereskan meja makan. Tapi lagi-lagi Rangga lebih dulu memanggilnya.
"Sayang," panggilnya.
Lusi menoleh. "Iya ...?"
"Aku mau berangkat dulu ya," ucap Rangga sembari mengambil kunci motornya.
"Aku ikut!"
Rangga terlihat membalikkan badannya melihat ke arah gadis itu. Ia pun menghampirinya dan bertanya kepada sang kekasih. "Kamu yakin ingin ikut? Apa tidak sebaiknya kamu istirahat saja! Masalah ditempat kerjamu, biar aku yang kasih tahu kepada supervisor kamu kalau hari ini kamu ambil libur. Sayang disini saja ya?"
"Aku tidak apa-apa mas, aku ingin masuk kerja," ucap Lusi sembari tersenyum tipis. Ia tau bahwa dirinya tidak akan fokus akan pekerjaannya, namun ia juga tidak bisa hanya berdiam diri di rumah kekasihnya itu.
__ADS_1
"Kamu yakin?" tanya Rangga memastikan.
Lusi pun mengangguk dengan cepat. Akhirnya Rangga pun mengiyakan permintaan kekasihnya, ia tidak ingin kalau gadis itu akan bersedih jika ia tidak membawanya. Laki-laki itu tidak ingin melihat kembali kejadian seperti semalam, di mana kekasihnya itu menangis di dalam pelukannya.
"Ya sudah, sayang cepat ganti baju! Aku tunggu di luar," kata Rangga. Lusi pun mengangguk lalu ia segera masuk ke dalam kamar sang kekasih untuk mengganti bajunya dan sekaligus mengambil tasnya. Setelah selesai mengganti baju, Lusi pun menuju ke arah luar dimana kekasihnya menunggu.
Rangga melihat Lusi telah keluar dan menghampirinya, ia pun berkata. "Sayang yakin ingin masuk kerja? Aku sungguh ingin sayang di rumah saja."
"Aku tidak apa-apa mas," jawab Lusi dengan sungguh. Rangga terlihat mengangguk kecil lalu mereka berdua pun akhirnya menaiki motor tersebut untuk menuju ke Asia Jaya tempat universitas Rangga sekaligus tempat kerja Lusi.
Butuh kurang lebih satu jam perjalanan. Akhirnya keduanya pun telah sampai di tempat tujuan, Lusi segera turun dan melepaskan helm nya, lalu sebelum melesat pergi meninggalkan Rangga Lusi berkata. "Aku masuk ke dalam duluan ya mas."
Rangga mengangguk kecil "Hati-hati ya."
Lusi mau pun Rangga meninggalkan tempat parkir, dan menuju ke tempat masing-masing. Lusi pun saat telah sampai di pantry nya, ia langsung meletakkan tas dan mengganti pakaiannya karena jam telah sampai pada waktu bekerja. Jadi ia tidak sempat untuk bersantai-santai atau sarapan dulu.
Rangga terlihat telah memasuki kelasnya, ia duduk sembari meletakkan tas miliknya. setelah beberapa saat kemudian. Laki-laki itu mengambil tasnya tersebut dan mengambil ponselnya. Ia mencari-cari sesuatu di layar ponsel, beberapa saat ia menekannya. Terdengar suara panggilan tersambung, mencoba menghubungi keluarganya.
"Halo ma."
"Kenapa Rangga?"
"Ma. Ada yang ingin Rangga bicarakan kepada mama dan yang lainnya."
"Apa itu Rangga? Apa ada masalah kah di university mu? Atau kamu sudah membuat ulah di kuliah mu?" berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh sang mama di dalam telpon Rangga.
"Tidak, bukan ma. Tapi ini sangat penting." balas Rangga dengan suara santai.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Rangga ingin melamar seseorang ma. Rangga ingin menikahi gadis yang Rangga sukai."
Di dalam toilet.
Nampak Lusi menghembuskan nafasnya, ia terlalu menyesali perbuatannya yang ingin memaksa untuk masuk kerja. Sehingga ia harus bertemu dengan kue bolu yang sudah terpampang di bawah tempat ia berdiri.
"Hah!! Kenapa harus bertemu taik lagi sih." gerutunya sembari menutup hidungnya dengan kedua tangannya.
Lusi pun segera menyiram kue bolu di depannya itu dengan perasaan bergetar. Ia sungguh bersemangat hingga rasanya ia ingin memasak gumpalan bolu berwarna kuning tersebut di penggorengan.
Saat ia Lusi meratapi nasibnya di depan pintu kloset, terdengar suara pintu terbuka. Lusi pun segera menghampiri orang tersebut dengan memundurkan badannya tanpa melihat sembari mengucapkan. "Maaf kak, tapi toilet nya sedang di bersihkan."
"Sayang."
Lusi menoleh saat suara Rangga menyapanya. "Mas Rangga. Aku kira orang lain yang ingin masuk."
"Kenapa memangnya?" tanya Rangga.
Lusi menggelengkan kepalanya. "Tidak ada! Kenapa mas Rangga masuk? Kan sudah ada pemberitahuan di depan toilet bahwa masih dalam pembersihan."
"Iya aku tahu kok kalau toiletnya masih di bersihkan. Apa tidak boleh kalau aku hanya ingin menemani pacarku di sini," ucap Rangga sembari duduk di atas tempat sampah yang berada di sana.
"Sebaiknya, mas Rangga keluar saja! Nanti bajunya basah loh karena terkena semprotan air." ucap Lusi tanpa melihat ke arah kekasihnya itu.
"Tidak apa-apa, aku mau tunggu sayang di sini." balas Rangga dengan tangannya yang di lipat di dadanya.
"Tapi mas Rangga kan harus masuk kelas!"
"Jam masuk aku masih dua jam lagi sayang. Jadi aku masih ada waktu untuk menemani kamu."
__ADS_1
"Tapi-" belum menyelesaikan kalimatnya, Rangga lebih dulu memotongnya.
"Lusi mau kah kamu menjadi istri ku." ucap Rangga dengan serius. Hal itu tentu saja membuat Lusi yang mendengarnya membulatkan matanya menatap sang kekasih yang memasang wajah seriusnya di depan gadis itu.