
"Sudah siap sayang?" tanya Rangga pada sang kekasih.
"Sudah." balas Lusi setelah naik di atas motor Rangga.
"Pegangan yang erat ya, aku akan sedikit ngebut biar kita cepat sampai." ujar Rangga sembari menarik tangan Lusi yang ada di belakang bajunya untuk memeluk pinggangnya.
Lusi pun hanya mengangguk dan mengikuti saran laki-laki itu untuk memeluknya erat.
__________________
"Aku pulang," ucap Lusi saat dirinya sudah sampai di depan pintu rumah. Ia pun memasuki area dapur lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya karena merasa tenggorokannya terasa sangat kering.
"Sudah pulang dik?" ucap Amber saat memasuki dapur. Lusi menoleh ke arah sang kakak saat dirinya sedang minum. Lalu mengangguk kecil sebagai respon.
"Kak Arya belum pulang ya kak?" tanya Lusi saat selesai menghabiskan segelas air putihnya.
"Belum, mungkin sebentar lagi juga dia bakal sampai," sahut Amber. Setelah itu terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan sosok laki-laki bertubuh tinggi, gemuk sedang memasuki kamarnya. Lusi yang melihat itu pun memanggil sang kakak.
__ADS_1
"Kak Arya," panggil Lusi dari arah dapur. Arya pun menoleh ke arah sang adik, "Iya kenapa dik?"
"Apakah kalian tidak sibuk? Aku ada sesuatu yang ingin ku beritahu kalian." kata Lusi pada kedua kakaknya.
"Apa itu?" tanya Amber penasaran, serta Arya yang telah menyipitkan mata karena penasaran juga.
****
"APA?! Kamu sedang tidak bercanda kan Lusi?"
Lusi tersentak ketika melihat reaksi kakak-kakaknya yang terlihat menahan amarahnya. Lusi sendiri jadi merasa takut akan ucapannya akan membuat kedua sang kakak marah kepadanya. Dan ternyata? Arya selaku kakak ke tiga dari kelima bersaudara itu, berdiri dan menatap sang adik dengan tatapan tajam.
"Aku tidak bercanda kak Arya. Aku mengatakannya dengan serius. Aku juga sedang tidak bermain-main dengan kalian," sahut Lusi dengan gemetar.
"Cukup Lusi jangan kamu teruskan lagi!" bentak kedua saudaranya bersamaan.
"Kamu tau apa yang akan kami lakukan kalau kamu berkata seperti itu lagi? Kamu jangan menakut-nakuti dan membuat lelucon yang tidak berguna seperti itu!" Ucap Amber saat posisinya kini telah berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"AKU SEDANG TIDAK MEMBUAT LELUCON KAK Amber, KAK ARYA! Aku serius." ucap Lusi dengan suara yang tinggi.
Plak!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Lusi. Sehingga gadis itu dapat merasakan rasa panas yang menjalar di seluruh area pipi sebelah kirinya. Gadis itu pun tidak mengatakan apa-apa lagi, karena Lusi tau bahwa keputusannya itu telah membuat kedua kakaknya marah besar.
Beberapa saat setelah tamparan itu. Arya kembali menatap tajam ke arah Lusi, dan memegang kedua bahu sang adik dengan kuat. "Kakak tanya sekali lagi, kamu tidak benar-benar akan hal itu, bukan? Katakan Lusi, KATAKAN!"
Lusi hanya menundukkan kepalanya sembari menangis di balik rambut yang menutupi wajahnya. "Kak Arya, aku mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Aku ingin menjadi mualaf bang."
BRAK!!!
Arya mendorong tubuh Lusi ke arah dinding, sehingga gadis itu terhempas dan merasakan nyeri pada bagian lengannya yang terbentur dinding rumahnya. "Kak Amber, tolong ambilkan tali pinggang ku di belakang pintu. Aku ingin memberikan pelajaran kepadanya."
Lusi yang mendengar itu, langsung berlari ke arah sang kakak dan memohon sembari memegang lutut sang kakak yang berdiri di depan nya. Namun, Arya mengabaikannya, setelah kembalinya sang kakak tertua dengan tali pinggang di tangannya.
Perasaan khawatir Lusi meningkat saat sebuah tali pinggang yang di pegang sang kakak akan mengarah kepadanya.
__ADS_1
"Lusi, kak Arya tidak main-main akan ucapan kakak yang akan memukulmu. Katakan sekali lagi. Apakah kau yakin dengan pendirian mu itu?" ucap Arya kembali dengan mata yang memerah.
"Maafkan aku kak Amber, kak Arya. Maafkan aku." ujar Lusi dalam isak tangisnya.