
Setelah perkataan Rangga yang mengatakan hal itu, membuat Lusi termenung di dalam pantry. Ia tidak tau harus menjawab apa, di saat dirinya juga sedang renggang dengan kedua saudaranya. Hal ini membuatnya pusing dan ingin segera masuk ke dalam setor untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sedikit lelah akan pekerjaan yang dilakukannya hari ini. Apalagi tadi ia melihat segumpal bolu rasa pandan di dalam toilet.
"Haaaah! Aku harus bagaimana," gumam Lusi pada dirinya sendiri.
"Lusi, sedang apa kamu disini?" terdengar suara Sofia dari balik pintu, gadis itu pun menghampiri Lusi.
"Sedang mengisi air minum rupanya. Hei! Kau kenapa hanya terdiam? Ada apa?" tanya Sofia saat melihat Lusi hanya terdiam dengan botol yang di pegangnya.
"Tidak ada, aku masuk duluan ke dalam setor ya," ucap Lusi, lalu gadis itu langsung meninggalkan Sofia yang terlihat memandanginya dengan tatapan bingung.
"Dia kenapa? Aneh sekali." ucap Sofia sembari garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Di dalam setor. Lusi langsung merebahkan tubuhnya di salah satu kursi panjang yang terdapat di sana. Ia mencoba menutup kedua matanya, mencoba agar rasa pusing di kepalanya mereda. Tidak berselang lama Sofia pun kembali dengan membawa sebotol air minum yang di isinya di dalam pantry, sama seperti yang dilakukan oleh Lusi.
"Lusi ...."
__ADS_1
"Em. kenapa Sof?" tanya Lusi dengan mata yang tertutup.
"Kamu ini kenapa sih? Sejak selesai dari toilet, kamu jadi aneh, ada apa? Apa kamu melihat permata emas yang banyak di dalam toilet itu?" celetuk Sofia. Meskipun tebakan Sofia memang benar, karena Lusi merasa kesal akan hal itu. Tapi hal itu juga bukan hal yang membuatnya tidak merasa bersemangat.
Lusi pun bangun dari tidurnya dan langsung berkata. "Apa tanggapan mu jika seseorang yang baru mengajakmu berpacaran, malah tiba-tiba mengajakmu untuk menikah?"
"HAH?! Kok ...? Hei Lusi... jangan bilang kalau Rangga akan mengajak mu menikah," tebak Sofia sembari mendekatkan wajahnya ke arah Lusi. Sontak membuat Lusi memundurkan kepala temannya itu kebelakang dengan keras.
"Hentikan, omong kosong itu! Mana mungkin dia.. dia." ujar Lusi sedikit gugup, ia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain agar dapat menyembunyikan akan hal kebenaran itu.
"Tapi-" ucapan Lusi terhenti.
"Tapi kenapa Lus? Ada sesuatu yang mengganjal kah di pikiran mu?"
Lusi mengangguk sambil melihat ke arah temannya itu. "Sofi ... apakah jalan yang aku pilih ini benar? Ak-aku-"
__ADS_1
"Sudah! Sudah! Kamu percayakan saja semuanya sama yang di atas! Aku yakin semuanya akan baik-baik saja Lusi, percayalah!" ucap Sofia memberikan sedikit kelegaan pada Lusi dengan mengelus punggung Lusi.
Lusi pun tersenyum tipis ke arah teman di sampingnya itu. Ia beruntung bisa bertemu teman seperti Sofia, meskipun gadis itu cerewet namun jika tentang masalah ini, ia adalah orang pertama yang mendukung dan membantu Lusi. Lusi pun yang awalnya menutup dirinya kepada siapapun, ia justru menyesalinya karena telah menyia-nyiakan orang di sampingnya ini.
Lusi memegangi tangan temannya, lalu sembari berkata. "Terimakasih banyak ya Sofia, kamu benar-benar telah banyak membantu ku."
"Aish!! Kau juga banyak membantu ku Lusi, sesama teman kita tidak boleh hanya memerlukan bantuannya disaat kita kesulitan saja, dan menjauhinya di saat dia membutuhkan bantuan kita. Tapi ...?" ucapan Sofia terhenti membuat Lusi yang menatapnya mengernyitkan keningnya.
"Tapi kenapa?" tanya Lusi penasaran.
"Tapi kalau kamu mentraktir ku makan siang, tentunya aku akan sangat berbahagia," balas Sofia sembari menaik turunkan alis matanya.
Lusi yang melihat hal itu, otomatis tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. "Baiklah, jika memang itu mau mu. Hari ini aku akan mentraktir mu makan dan minum sepuasnya."
"Benarkah? Kamu tidak berbohong kan?" Sofia menggoyang-goyangkan bahu Lusi. Bertanya apakah ucapan Lusi sungguhan.
__ADS_1