
Hari demi hari, dan bulan demi bulan telah berlalu. Dimana hubungan Lusi dan Rangga semakin dalam. Keduanya pun juga mengetahui tentang perbedaan agama yang mereka jalani. Meskipun demikian, hubungan antara mereka berdua semakin dalam. Lusi pun telah mengubah panggilannya kepada Rangga.
"Sayang, kapan ya kita bisa menikah?" ucap Rangga saat mereka berdua berada di taman dekat rumah Lusi.
Lusi menoleh ke arah kekasihnya. "Mengapa Mas bertanya seperti itu?"
"Tidak, aku hanya bertanya kepada diri sendiri, kapan ya aku bisa halalkan kamu sayang. Aku mau kamu menjadi milik aku seutuhnya," kata Rangga sembari tersenyum kepada sang kekasih. Lusi pun membalasnya dengan senyuman manis.
"Eh, sayang kita pergi jalan-jalan yuk!" ajak Rangga pada sang kekasih.
"Mau kemana memangnya mas?" tanya Lusi saat Rangga yang mengajaknya pergi.
"Em, gak tahu, gimana kalau kita putar-putar taman Medan ini saja? Lalu kita cari makan, gimana mau gak?."
Mereka berdua pun akhirnya pergi menggunakan motor yang Rangga bawa, awalnya Lusi menolak untuk naik motor karena gadis itu takut akan bertemu dengan polisi yang selalu mengintai di daerah tempat tinggalnya itu.
__ADS_1
Namun, Rangga mencoba membujuknya, karena lelaki itu juga tidak mau naik bus. Entahlah author juga tidak tau mengapa ia tidak mau menaiki bus setiap gadis itu ingin naik.
Saat sedang asik berkeliling di daerah tempat Lusi, terdengar suara adzan. Rangga pun berhenti di musholla dekat dengan jalan raya tersebut. Keduanya pun turun dari motor. "Sayang aku mau sholat dulu ya? Kamu tunggu di sini atau sayang mau masuk?"
Lusi menolak dengan cepat dengan menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tunggu di sini saja."
"Baiklah, sayang tunggu sebentar ya."
Lusi mengangguk sambil tersenyum tipis kepada Rangga, gadis itu pun akhirnya menunggu kekasihnya di kursi yang ada di sana. Lusi melihat-lihat keadaan takut-takut gadis itu malah kena sapa orang berbaju biru kehitaman pula (polis).
Sambil menunggu kekasihnya selesai sholat. Lusi menghampiri seorang penjual minuman ia merasa sangat haus lantaran hari itu sangatlah panas. Ia membeli minuman rasa jeruk nipis dan rasa oren. Setelah membelinya gadis itu kembali ke tempat semula, dimana ia duduk tadi.
"Air," ucap Lusi singkat, "Ini untukmu mas."
"Terimakasih sayang."
__ADS_1
Mereka pun menikmati minuman yang di beli oleh Lusi. Setelah menghabiskan minuman itu, keduanya kembali berlanjut berkeliling. Setelah beberapa saat Rangga dan Lusi telah kembali. "Sayang, aku balik dulu ya?"
"Mas tidak mau masuk dulu?" ucap Lusi menawarkan kekasihnya itu untuk sekedar masuk.
Tetapi sang kekasih menggelengkan kepalanya sembari melihat ke arah jam miliknya. "Sepertinya aku balik saja sayang, aku juga ada pertemuan dengan kawan ku hari ini. Sayang tidak apa-apa kan kalau aku bertemu sama teman-teman aku?"
Lusi menyipitkan matanya heran. "Kenapa pula aku tidak memperbolehkan mas bertemu dengan teman-teman mas? Aku tidak ada hak akan hal itu."
Lelaki itu terdengar menghela nafasnya, lalu memegang Kedua puncak Lusi. "Sayang, aku tak suka kalau sayang berkata seperti itu. Sayang adalah segalanya bagi aku, jika sayang tidak mengizinkan aku untuk bertemu dengan teman-teman ku. Aku akan bilang boleh ke mereka. Ingat! Sayang itu pacar aku sekarang bukan orang lain!"
Lusi meraih tangan laki-laki itu. "Mas sepertinya salah faham, maksud aku, aku mana boleh melarang mas untuk bertemu dengan teman-teman mas. Mas juga berhak meluangkan waktu bersama keluarga dan juga kawannya mas, tidak hanya kepada saya saja. Jadi aku hanya tidak ingin mengekang mas terlalu jauh." terang Lusi.
"Sekarang mas faham kan sama apa yang aku maksud?" tanyanya pada sang kekasih.
Rangga tersenyum lalu mengangguk sambil mengusap lembut rambut sang kekasih. "Iya aku faham. terimakasih ya sudah mau mengerti aku."
__ADS_1
Setelah selesai nge-drama di depan blok tempat Lusi. Akhirnya Rangga pulang dan Lusi pun naik ke lantai dua. "Sudah pulang ...? Darimana saja, adik tau kakak khawatir tau."
"Maaf kak Arya, tadi aku hanya jalan-jalan di daerah sini aja kok. Lagipula aku sudah izin pada kak Amber tadi," ucap Lusi pada sang kakak.