
Lusi mengerutkan dahi dan membalikkan badannya melihat yang laki-laki itu arahkan. Dan seketika Lusi membulatkan matanya saat melihat saudaranya sudah di tangkap oleh polisi. Lusi mencoba menghampirinya. Namun, Rangga segera menahannya.
"Lepas! Itu kak Arya di tangkap polisi. Kenapa kamu malah menahan ku?"
"Kamu tidak boleh kesana, jika kamu kesana itu sama saja kamu akan tertangkap!" ucap Rangga sembari menahan tangan Lusi yang ingin menghampiri sang kakak yang telah di bawa oleh polisi.
"Tapi kak Arya," ucap Lusi yang sudah menangis melihat saudaranya telah meninggalkan tempat itu bersama polisi tersebut. Entah kakaknya akan di bawa kemana oleh polisi itu.
"Kamu tenang ya, biar aku akan membantu mencari kakakmu. Sebaiknya kamu aku antar pulang dulu," ucap Rangga mencoba menenangkan gadis itu.
"Tap-tapi."
"Kamu percaya sama aku oke! Kakak kamu akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan membantumu." Rangga pun akhirnya menarik gadis itu ke dalam genggamannya untuk di antar ke rumah kontrakan gadis itu.
"Lusi... kamu tidak apa-apa dik? Arya dik ... Arya," ucap Amber khawatir sambil menangis di pelukan Lusi. Lusi yang terlihat begitu khawatir akan saudaranya itu hanya berdoa dalam hati.
Rangga yang berdiri di samping Lusi, melihat kakak perempuannya lusi yang menangis, Rangga pun menghampirinya. "Kak ... kakak jangan khawatir ya, saya akan bantu carikan kak Arya."
__ADS_1
Amber yang masih memeluk adiknya, akhirnya melepaskan pelukannya dan meraih tangan laki-laki di depannya. "Dik ... tolong! Tolong temukan adik saya dik."
Laki-laki itu mengangguk. "Iya kak, saya akan mencari adiknya kakak, saya berjanji akan membawanya kembali," ucapnya sembari tersenyum melihat ke arah Lusi. Namun, gadis itu hanya bisa terdiam menanggapi tatapan laki-laki itu.
Rangga menggelengkan kepalanya pada gadis itu. Ia memberitahu bahwa ia menyuruh gadis itu untuk tidak menangis lagi. Lusi yang tahu akan itu tindakan itu segera mengusap air matanya dan mengangguk sebagai tanda bahwa ia tidak akan menangis lagi.
Laki-laki itu tersenyum lalu berucap. "Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu ya kak, Lusi."
Lusi dan Amber mengangguk. "Hati-hati dik, kakak mohon temukan saudara kakak ya."
Saat laki-laki itu telah tidak terlihat, Amber masuk ke dalam rumah. Sedangkan gadis itu masih bergeming di tempatnya. Lalu beberapa saat Lusi berlari menghampiri laki-laki yang telah menjauh itu. Saat Lusi melihat laki-laki itu.
"TUNGGU!!" panggilnya dan menghentikan langkah laki-laki itu.
Rangga pun menoleh ke arah belakang saat mendengar suara Lusi memanggilnya. Rangga pun menghampiri gadis itu dan bertanya. "Kenapa kembali lagi? Kamu tidak lihat polisi masih berkeliaran di sini. Sebaiknya kamu masuk! Di sini berbahaya kamu tahu!"
"Terimakasih."
__ADS_1
Rangga membulatkan matanya. "Hah?! U-untuk apa?"
"Terimakasih, kerana mau membantu," ucap Lusi tanpa menatap wajah laki-laki di depannya.
Rangga meraih kedua bahu gadis di hadapannya itu. "Apapun, akan aku lakukan. Apalagi untuk orang yang aku sayang."
Lusi yang awalnya hanya melihat ke arah kakinya, mendongakkan wajahnya menatap wajah laki-laki itu. Ia tahu bahwa laki-laki di depannya menyukainya, tapi ia berpura-pura tidak tahu akan hal itu, lebih tepatnya ia tak perduli.
"Sudah, sebaiknya kamu kembali ke rumah sekarang! Aku takut kamu pula yang akan di tangkap," ucap Rangga sembari menunggu Lusi meninggalkannya.
Lusi mengangguk sembari tersenyum kecil ke arah laki-laki itu. Rangga yang melihat akan hal itu langsung tersenyum lebar.
"Kamu tersenyum? Kamu tersenyum kepadaku?"
Gadis di hadapannya hanya terdiam dan pergi meninggalkan laki-laki itu. "Terimakasih Lusi, terimakasih."
Lusi yang sudah berada di balik tembok pembatas tempat laki-laki itu berdiri, kembali tersenyum. Entah kenapa gadis itu tiba-tiba menampilkan senyumannya saat sekian lama tak menunjukkannya kepada orang lain selain keluarganya.
__ADS_1