Lusi

Lusi
Bab 38 - Libur Kerja


__ADS_3

Keesokan paginya Lusi terbangun dari tidurnya, ia menggeliatkan tubuhnya serta tangannya ke berbagai arah sehingga gadis itu menyentuh benda kenyal, ia pun menekan benda tersebut pelan-pelan.


'Apa ini? kenapa bentuknya seperti pisang?' batin Lusi di sela-sela penasarannya.


Karena penasaran akan benda apa itu. Ia pun membuka matanya, ia mengangkat kepalanya mencoba melihat ke arah benda apa yang di pegangnya itu. Namun saat ia telah melihatnya, matanya langsung membelalak. Bagaimana tidak! Ternyata yang di pegangnya sedari tadi itu rupanya adalah anak tunggal sang suami. Karin pun melepaskannya dengan cepat.


"Sial! Kenapa aku memegangnya," gumam Lusi sembari memegangi tangannya. Ia pun berdiri dan segera menuju ke dapur untuk mencuci tangannya.


Di saat dirinya sedang termenung meratapi nasib tangannya yang ternodai secara tidak sengaja. Gadis itu malah kembali terperanjat saat mendengar suara sapaan dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Rangga sang suami.


"Sayang ...," sapa laki-laki itu sembari memeluk istrinya dari belakang. Lusi pun hanya bisa tersenyum kikuk karena ia merasa malu atas kejadian tadi.


'Apakah, dia tahu tentang kejadian tadi,' batin Lusi dengan perasaan malunya. Ia takut kalau anak tunggal suaminya terbangun, bisa bahaya!


"Sayang, kenapa sudah bangun?" ucap Rangga sembari melihat jam di tangannya, "Ini masih jam enam sayang, masih pagi tapi kenapa kamu sudah bangun? Apakah semalam tidurmu nyenyak?" sambungnya lagi.


Lusi mengangguk sambil menunduk. "Iya."

__ADS_1


Laki-laki itu melirik ke arah istrinya. "Sayang? Kenapa kamu mencuci tangan?"


Lusi kembali membulatkan matanya, ia tidak tahu bagaimana akan menjawab pertanyaan suaminya. Ia tidak akan mungkin kan, berkata bahwa dirinya tadi telah memegang anak tunggal suaminya. Astaga.


"Em ... tadi aku ...," Lusi merasa gugup sebelum akhirnya ia berkata kembali.


"Tadi aku ileran jadi aku mengelapnya dengan tanganku lalu aku segera mencucinya," ucapnya bohong.


Rangga percaya, ia hanya manggut-manggut. "Baiklah, kalau begitu sayang cepatlah mandi! Karena selepas itu kita pergi mencari sarapan."


Setelah beberapa saat kemudian Lusi pun selesai dengan pakaiannya. Sebelum keluar mencari sarapan di luar, gadis itu mengambil tas kerja miliknya lalu keluar untuk menemui suaminya yang sudah menunggunya di depan.


"Sudah siap?" ucap Rangga sembari menutup ponselnya.


Lusi mengangguk. "Iya."


Rangga melihat tas milik istrinya itu, lalu menghampirinya dan bertanya. "Sayang kenapa kamu memakai tas kerjamu?"

__ADS_1


"Kan setelah sarapan bukannya langsung berangkat kerja?" balas Lusi sembari menatap wajah sang suami.


Terlihat sang suami terkekeh kecil sembari melihat ke arah Lusi. Lalu menyentuh kedua bahu istrinya. "Sayang, kita ini sedang cuti, mana boleh bekerja."


"Kenapa?" tanya Lusi tak mengerti.


"Sayang, kitakan semalam baru kahwin. Jadi bos sayang memberikan sayang cuti tiga hari." ucap Rangga menjelaskan.


"Kenapa aku tidak tahu mas, bahwa aku cuti?" tanya Lusi mengernyitkan dahinya.


"Karena aku yang mengajukan permohonan cuti kamu sayang, maafkan aku juga ya lupa bagi tahu sayang semalam," ucap Rangga sembari mengusap rambut Lusi lembut.


Lusi pun mengerti lalu menatap suaminya sembari tersenyum. "Baiklah."


Saat Lusi ingin hendak keluar lebih dulu, tapi tangan sang suami yang masih menempel di bahunya. Ia melihat ke arah suaminya itu tapi tatapan suaminya malah terlihat aneh. "Kenapa Mas?"


Wajah itu seakan terus maju sehingga membuat Lusi faham akan jalan pikiran suaminya itu, Lusi pun langsung mendorong tubuh suaminya untuk me jauh. "Aku tunggu di luar!"

__ADS_1


__ADS_2