
Arya yang berdiri bersandar di dinding tepat di depan pintu. Terus mengintrogasi sang adik yang pulang terlambat. "Ya sudah, kamu masuk dan segeralah mandi. Lepas itu kita makan."
Lusi menuruti perintah sang kakak, ia hanya tidak ingin berdebat terlalu lama dengan saudaranya itu. Karena ia tau jika ia memang pulang terlambat sebagaimana telah melewati batas waktu yang telah di berikan oleh sang kakak.
****
Setelah selesai mandi dan makan. Lusi memilih masuk kamar. Gadis itu merenungkan ucapan Rangga siang tadi.
'Sayang, kapan ya kita bisa menikah?'
"Haaaah." terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari mulut gadis itu.
"Apakah, aku harus mengakhiri hubungan ini? Aku yakin semua ini tidak akan berjalan dengan baik," lirihnya. Lusi mencoba selalu berfikir positif akan hubungannya dengan Rangga. Meskipun ia tahu kedua orang tua kekasihnya tidak merestui hubungannya lantaran perbedaan toleransi.
Gadis itu memejamkan matanya sembari menutupi wajahnya dengan tangan. Ia terlalu lelah akan pemikirannya. "Sebaiknya aku tidur, besok aku harus kerja."
Keesokan harinya. Lusi telah tiba di tempat kerjanya dan telah berdiri di depan Pas card. Setelah selesai dengan Pas card tersebut. Lusi segera menuju stor untuk bersiap-siap.
____________
Jam pun akhirnya telah menunjukkan pukul delapan. Semua teman-teman Lusi beserta Mak Bi keluar dari stor untuk melakukan aktivitasnya.
__ADS_1
Hampir tiga jam bergelut dengan pekerjaan masing-masing. Akhirnya, Lusi dan para teman lainnya selesai. Mereka segera memasuki area stor di mana mereka ingin mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah akan pekerjaan yang mereka lakukan. Begitu juga dengan Lusi gadis itu juga ingin mengistirahatkan tubuhnya sebelum sebuah suara menghentikan aktivitas peristirahatan gadis itu.
"Lusi."
Lusi yang tau siapa pemilik suara tersebut hanya melirik singkat lalu kembali menutup matanya.
"Lusi, bangun dong! Yuk ikut aku sebentar!!" ucap Sofia mencoba menarik-narik lengan gadis itu.
"Apa sih? Ada apa Sofia?" tanya Lusi sembari bangun dari tidurnya.
"Ikut aku."
"Iya kemana Sofi ...?"
"Ngapain kesana? Ini juga lagi panas-panas nya sof?" Ucap Lusi, ia terlalu malas jika harus keluar dari tempat itu. Apalagi harus ketempat umum.
"Aku mau beli sesuatu di sana, lagipula di Giant ada diskon-diskonan."
"Aku malas Sofia, sebaiknya kamu sendiri saja ya yang kesana."
"Ayolah Lusi. Masak kamu tega sama aku," ucap Sofi sembari mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Lusi menarik nafasnya pelan. "Ya sudah ayok."
"Nah, gitu dong."
Akhirnya keduanya pun keluar dari stor, saat tiba di luar Lusi bertemu dengan Rangga yang sedang berbicara dengan sahabatnya. Lusi berjalan melewati kekasihnya itu. Namun, Rangga malah menahan tangannya.
"Sayang, kamu mau kemana?" ucap Rangga sembari melihat ke arah Sofia.
"Aku mau pergi ke Giant mas, menemani Sofia ingin berbelanja di sana katanya." ucap Lusi saat Rangga menahan tangannya.
"Oh, mau berbelanja ya. Mau aku hantar sampai Giant?" tawar Rangga pada kekasihnya dan Sofia.
Namun, Lusi menolaknya, ia bilang bahwa dirinya ingin berjalan kaki saja tanpa merepotkan kekasihnya. Rangga pun menuruti keinginan Lusi jadi lelaki itu membiarkannya. Saat mereka sedang berjalan di jalan raya, Lusi melihat seorang nenek tengah berdiri di samping jalan yang keduanya lewati.
"Sofi, nenek itu sedang apa?" tanya Lusi kepada temannya.
Sofia melihat ke arah yang di tunjukkan oleh Lusi kepadanya. "Oh, itu ... nenek itu sedang sholat Lusi."
"Kok sholatnya di jalan raya, Kenapa gak di tempatnya?" tanya Lusi penasaran akan nenek tersebut.
"Sholat itu tidak memilih tempat Lusi, asalkan tempat itu bersih dan yang paling utama itu adalah niat kita," terang Sofia.
__ADS_1
Saat mendengar penuturan temannya itu. Entah kenapa Lusi meneteskan air matanya. Air matanya mengalir dengan sendirinya dengan deras. Lusi segera mengelap air mata tersebut.
'Ada apa denganku? Kenapa aku malah menangis saat melihat nenek itu sedang melaksanakan kewajibannya?' gumam Lusi dalam hati sembari mengusap air matanya.