Lusi

Lusi
Bab 6 - Orang Baru


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Di mana aku berpindah tempat dan memilih untuk duduk di teras penampungan itu. Suasana di sekitar lokasi itu lumayan sedikit lebih ramai ketimbang di desa ku yang terlihat sunyi saat malam hari. Aku sebenarnya yang sedikit risih dengan keramaian mencoba untuk tetap menikmati suasana itu. Karena pada dasarnya aku hanya ingin menghindari kedua orang yang tadi duduk bersama ku. Entah kenapa aku tidak menyukai keberadaan mereka yang terlalu dekat.


Tepat jam sepuluh malam kedua orang itu datang menghampiri ku yang sedang menatap langit-langit malam.


"Dek...," panggilnya.


Aku menoleh ke arah mereka berdua dengan tatapan tanya.


Mereka berdua yang peka akan tatapan ku langsung berkata. "Ayo masuk, kita solat isya bareng."


Aku yang faham hanya menatap mereka dengan senyuman kecil. "Aku tidak seperti kalian."


Mereka berdua saling pandang, lalu beberapa saat mereka berdua pergi meninggalkan ku yang masih menatap kepergian mereka. Lalu kembali menatap bintang-bintang menikmati suasana malam.


"SEMUANYA ... AYO MASUK DULU!!" teriak seseorang yang bisa ku tebak itu adalah suara pengurus tadi. Tanpa menunggu lama aku pun masuk ke dalam dan duduk di kursi yang tadi sempat ku duduki.

__ADS_1


Aku dapat melihat kedua orang tadi masih tetap memilih duduk bersama dengan ku. Aku melirik ke arah mereka dan mereka pun hanya menunjukkan senyuman mereka.


"Baik, karena sebentar lagi kita akan menuju bandara. Mari kita baca doain agar kalian bisa lolos dari bandara dan lolos dari imigrasi nanti," ucapnya seraya mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa.


Aku yang melihat itu langsung menundukkan kepala dengan kedua tangan yang ku genggam erat dan mulai berdoa mengikuti mereka.


...


Kami pun berangkat dan tak butuh waktu lama akhirnya kami sampai di bandara Surabaya karena jarak bandara dan penampungan tadi tidaklah jauh. Beberapa orang yang juga ingin berangkat ke Malaysia itu bukan hanya aku dan kedua orang tadi, melainkan masih ada tiga belas orang lagi yang aku tidak tau dari mana asal mereka.


"Selamat kau lolos mbak," ucapnya.


Aku pun langsung bertanya kepada orang di hadapanku. "Mas ... umurku kan tujuh belas tahun, kenapa di paspor ku tertera dua puluh dua tahun?"


Pengurus ku malah menertawakan pertanyaan ku. "Jika aku tidak mengelabui umurmu di paspor itu, bagaimana mungkin kamu bisa lolos dari imigrasi sini mbak. mbak usianya masih terlalu muda untuk bisa masuk ke negara orang, jadi saya mengubah sedikit di identitas mbak Lusi."

__ADS_1


Aku hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata lagi karena aku merasa aku sedikit malu akan perkataan ku sendiri.


Aku pun duduk di kursi tunggu. Beberapa lama kemudian kedua orang tadi datang menghampiri. "Kamu sudah lama menunggu kami?"


Aku menggeleng kecil. "Tidak, aku juga baru saja masuk."


"Hei dek, apakah tadi ada pertanyaan yang orang imigrasi tanyakan kepadamu?" tanyanya penasaran.


"Tidak. Dia hanya menanyakan aku ke negeri Jiran untuk apa," ucapku.


"Lalu ... kau menjawab apa?"


"Liburan."


Terdengar suara tepukan tangan dari kedua orang itu. "Huaaaa ... aku kira kamu tidak akan mengatakan itu dek, aku takut sekali kau akan kena tolak."

__ADS_1


Aku mengabaikan kedua orang tersebut, dan mengambil sebuah novel yang sengaja ku bawa dari rumah sambil menunggu jam keberangkatan ku. Menikmati waktu dengan membaca novel yang ku bawa sembari menunggu panggilan berikutnya.


__ADS_2