
Pyaar!! pyaar! pyaar!!!
Cambukan demi cambukan mendarat ke arah tubuh gadis itu, Lusi mencoba untuk memohon ampun kepada kedua kakaknya. Namun, hal itu telah tak berlaku, kedua kakaknya terlalu marah atas keputusan Lusi. Lusi pun hanya mampu menangis menahan sakit di seluruh tubuhnya, termasuk wajahnya yang terkena cambukan itu membuat luka gores di bagian pipinya.
"Pergi kamu sekarang juga!!" ucap Amber yang tengah berdiri menatap Lusi dengan mata yang berkaca-kaca.
Lusi membulatkan matanya, ia tak percaya akan ucapan sang kakak. Lusi pun langsung mendongakkan kepalanya menatap sang kakak, menggelengkan kepalanya cepat sembari membungkuk memohon ampun.
"Apa yang dikatakan kak Amber benar. Sebaiknya kamu keluar dari rumah ini!!! Kita tidak butuh orang yang mengkhianati kepercayaan kita. Sekarang kamu pergi Lusi. pergi kamu dari sini, pergi!!" ucap Arya dengan amarah yang memuncak. Ia pun menarik tangan sang adik dan menyeretnya keluar dari rumah tersebut.
Lusi mengetuk-ngetuk pintu yang telah tertutup. "Kak Amber, kak Arya buka! Aku gak mau keluar dari rumah ini. Hiks.. Aku gak tau harus kemana lagi kak. Kak Amber, kak Arya buka pintunya aku mohon kak buka." ucap Lusi lirih sambil mengetuk-ngetuk pintu rumahnya.
"Keluar kamu dik, kita sungguh kecewa sama kamu," ujar Amber dari dalam dengan isak tangisnya.
__ADS_1
"Kak Amber, aku minta maaf. Tolong buka pintunya kak," ucap Lusi dalam sesenggukan nya di depan pintu. Gadis itu awalnya berfikir untuk membatalkan niatnya, karena tidak ingin membuat keluarganya kecewa.
Namun, ia kembali berfikir bahwa ia telah berjanji akan niatnya. Hingga pada akhirnya setelah satu jam lebih Lusi berada di depan pintu rumahnya. Ia pun memutuskan untuk pergi dan membawa tas yang berisikan seluruh pakaiannya.
Ia pun menghapus air matanya saat tiba di bawah blok tempat tinggalnya. Dan segera berjalan menuju jalan raya, sampai suara klakson motor mengalihkan pandangannya.
"Sayang, sedang apa kamu disini? Dan, Apa ini? Kenapa kamu membawa tas mu? Hei sayang, kenapa kamu menangis?" berbagai pertanyaan terlontar dari mulut laki-laki yang memanggilnya sayang. Siapa lagi kalau bukan Rangga sang kekasih.
Rangga pun segera mematikan motornya dan segera menghampiri Lusi lalu segera menenggelamkan kekasihnya ke dalam pelukannya. Rangga memeluk tubuh Lusi dengan pelukan hangat nya dan membiarkan sang kekasih menangis dalam dekapannya.
Yang dipanggil hanya menundukkan kepalanya melihat kearah Lusi, dan mengelus rambut gadis itu. "Menangis lah tidak apa-apa, disini tidak ada orang. Aku akan menjaga mu sayang."
Lusi pun mempererat pelukannya dan berusaha untuk tidak bersuara karena ia terlalu takut, jika tangisannya akan di dengar oleh orang lain termasuk kekasihnya itu.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, saat Lusi telah tenang. Rangga pun memutuskan untuk membawa kekasihnya itu ke rumahnya.
Setelah sampai di tempat tinggal Rangga. Laki-laki membuka pintu kamarnya dan menyuruh Lusi untuk masuk. Lusi pun masuk dan duduk di tepian kasurnya. Setelah Rangga menyimpan tas kekasihnya di belakang pintu kamar, ia pun menghampiri Lusi.
"Apakah, kamu sudah baikan sayang?" tanya Rangga saat melihat wajah sembab kekasihnya, ada perasaan khawatir di dalam diri Rangga.
Lusi yang melihat ke arah Rangga, hanya mengangguk kecil. Ia pun terlihat sudah sembab akibat tangisannya yang membuat matanya menyipit. Laki-laki itu terlihat khawatir akan kekasihnya itu. Ia pun memeluk kembali gadis itu, agar gadis itu bisa lebih tenang.
"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja," ucap Rangga. Ia sebenarnya ingin mengetahui apa penyebab kekasihnya itu menangis seperti itu dan membawa tas miliknya. Tapi sepertinya ia juga tidak ingin banyak bertanya kepada Lusi. Ia tau bahwa kekasihnya itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Rangga melirik ke arah gadis itu. Rupanya Lusi telah tertidur di dalam pelukannya. Rangga pun segera membaringkan tubuh Lusi ke posisi yang sebenarnya secara pelan-pelan agar gadis itu tidak terbangun. Ia pun tidak lupa menyelimuti gadis itu. Setelah itu Rangga pun keluar dan menutup pintu kamarnya meninggalkan Lusi yang sudah tidur.
Saat dirinya sudah keluar dari dalam kamarnya, ia segera menuju ke arah dapur untuk mengambil air minum. Dia pun meneguknya dengan cepat.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu Lusi?" ujarnya dalam hati saat sudah menghabiskan air yang ada di tangannya.