
Lusi pun telah sampai di tempatnya, ia masuki rumahnya dan menyerahkan bingkisan yang telah di pesan oleh sang kakak. "Ini kak rotinya."
"Rasa vanilla, kan?" Arya mengambil bingkisan tersebut dan segera mengeceknya.
Lusi hanya mengangguk kecil sembari berkata. "Itu rencana kak Arya semua, 'kan?"
Arya menoleh ke arah sang adik. "Maksudmu apa Lusi?"
"Kak Arya menyuruh ku untuk turun supaya aku bertemu dengannya, iya, 'kan?" tanya Lusi penasaran.
Arya terlihat mengernyitkan dahinya. "Tidak kok, lagian siapa yang kamu maksud?"
"Rangga."
"Rangga? Laki-laki yang menolong kakak tadi itu? Emang dia belum pulang?" ucap Arya membalikkan pertanyaan kepada Lusi.
"Jangan mengeles kak. Aku tau kok kalau kak Arya kan yang merencanakannya agar aku dapat bertemu dengannya?"
"Tidak kok, sungguh! Kak Arya tidak tau Lusi. Lagipula, kakak mana ada pergi ke bawah rumah," ucap Arya menjelaskan tentang dirinya yang memang tidak tau akan laki-laki itu masih di bawah bloknya.
__ADS_1
"Yasudah, abaikan!" Lusi pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya, dan dirinya menidurkan kembali tubuhnya pada kasur kecil miliknya. Ia pun menutup kembali matanya karena saat itu ia memang sangat mengantuk. Namun, bunyi pesan dari ponsel miliknya berbunyi menandakan bahwa ada yang sedang mengirim pesan kepadanya.
Mata yang tadi sempat terpejam harus terbuka kembali lantaran suara ponselnya. Lusi pun mengambil ponselnya tersebut dan melihat siapa yang mengirimnya pesan itu. "Nomor tidak dikenal, siapa ya?" gumam Lusi saat melihat layar ponselnya.
Lusi pun membukanya dan melihat isi pesan tersebut, rupanya yang mengirimkan pesan kepadanya adalah laki-laki yang baru saja di temui nya, lebih tepatnya beberapa menit yang lalu telah menjadi kekasihnya.
Rangga: "Besok, aku akan menjemputmu ya, aku akan tunggu dibawah. Sampai jumpa besok pagi sayang. Dan selamat beristirahat."
Lusi yang melihat isi pesan tersebut langsung bergidik ngeri. "Kenapa harus semengerikan itu dia," gumam Lusi sembari mengelus tangannya karena geli.
****
"Tidak, aku baru saja sampai." ucapnya.
"Mau berangkat sekarang?" ucapnya kembali sembari tersenyum.
Lusi mengangguk. Lalu ia pun menaiki sepeda motor yang di bawa oleh Rangga kekasihnya itu. Di perjalanan, dengan kecepatan sedang mereka hanya berdiam tanpa ada yang mengucapkan sepatah katapun. Entah apa yang sedang mereka pikirkan sehingga tidak yang membuka suara kala itu, mungkin karena rasa canggung di antara keduanya. Sehingga tiba di university.
Rangga pun menghentikan sepeda motornya di area parking di belakang gedung university itu. Lusi segera turun dan melepaskan helm yang dipakainya, lalu membagikannya kepada laki-laki itu. Rangga pun mengambilnya dan meletakkannya di spion motor.
__ADS_1
"Buat kerjanya, hati-hati ya ... jangan terlalu ambil pekerjaan yang terlalu berat oke sayang!" ucap Rangga sembari menatap ke arahnya.
Lusi mengangguk sebagai responnya. Dan saat gadis itu hendak pergi, tangan gadis itu malah di tahan oleh laki-laki di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Lusi saat membalikkan badannya melihat tangan Rangga menahan tangannya.
"Tidak ada," ucap laki-laki itu dan segera meraih tangan Lusi.
Lusi yang melihat tangannya di pegang segera melepaskan genggaman tangan tersebut sehingga membuat laki-laki itu membalikkan badannya dan menatap Lusi penuh tanya. "Kenapa?"
"Tidak ada, hanya saja kamu tidak malu jika nanti dilihat teman-teman mu?"
Rangga tersenyum sembari menggenggam kembali tangan gadis itu. "Justru aku mau teman-teman ku tau, kalau kamu adalah kekasihku." Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Rangga mengantarkan Lusi ke tempat gadis itu melakukan Pas card.
"Em ... pagi-pagi dah buat orang pegang-pegang tangan tuh."
Cie ... cie ... Rangga, kau tidak bilang kalau sudah punya kekasih."
"Aduh, mataku ternodai oleh kemesraan Rangga dengan sang pacar."
__ADS_1
Dan berbagai seruan godaan yang dilontarkan oleh para teman-temannya. Lusi yang mendengar godaan tersebut hanya menunduk, sejujurnya gadis itu terlihat begitu risih akan hal itu. Namun ia tidak ingin membuat laki-laki di depannya atau lebih tepatnya kekasihnya itu, bersedih jika ia menolak ajakannya.