
Lusi yang menatap ke arah bawah, sedikit terkejut dengan kalimat yang di lontarkan oleh laki-laki itu. Apakah dia tidak salah dengar? Atau pendengarannya sedang rusak? Tidak! Tidak! Jelas-jelas pendengarannya masih normal.
"Kamu tidak perlu mengatakannya sekarang, aku bisa menunggunya," ucap Rangga sembari meraih tangan Lusi yang berada di atas meja tempat mereka duduk.
"Tapi ... jika kamu tidak mau, atau mau menolaknya ucapan ku yang barusan tidak apa-apa. Kamu bisa mengatakannya langsung sekarang."
Lusi masih dengan diamnya, hingga beberapa saat. Saat rujak yang mereka pesan akhirnya datang. "Makanlah, nanti keburu dingin," ucap Rangga lagi.
Lusi pun hanya mengangguk dan segera memakan makanan yang ia pesan, meskipun di bilang saat ini ia sudah terlalu kenyang karena sebelum gadis itu turun, ia sudah makan bersama kedua saudaranya.
Namun, ia tetap harus memakannya, mengingat bahwa laki-laki di depannya ini sudah membantu menemukan saudaranya yang sempat di tangkap polisi tadi sore. Jadi Lusi menahan rasa kenyang di perutnya hanya untuk menemani Rangga.
....
"Terimakasih ya sudah mau temani aku makan malam," ucap Rangga saat ia sudah berada di dekat motornya.
Lusi hanya mengangguk kecil sembari menunggu kepergian laki-laki itu. Namun, laki-laki itu tak kunjung pergi sehingga membuat Lusi menatap ke arahnya. "Apa, ada yang ketinggalan?"
"Tidak ada," sahutnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
__ADS_1
Saat telah menghidupkan motor dan ingin meninggalkan tempat itu. Lusi segera menghentikannya. Rangga pun membuka kaca helmnya lalu bertanya. "Ada apa Lusi?"
Terdengar tarikan nafas panjang yang keluar dari mulut Lusi.
"Aku ...." ucap Lusi yang terlihat gugup.
"Iya, aku apa?" tanya Rangga yang tidak faham maksud dari kata yang dikatakan oleh gadis itu.
"Aku ... aku ...."
Rangga yang berada di atas motornya, mematikan motor tersebut dan menghampiri gadis itu.
"Ada apa Lusi?" ucapnya dengan lembut saat melihat gadis itu gugup.
Rangga terlihat membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan yang di lontarkan oleh Lusi. Ia meraih kedua bahu gadis itu dan bertanya untuk memastikan kembali apakah ia tak salah dengar. "Lusi, kamu tidak sedang bercanda 'kan? Apa akunya saja yang salah dengar?"
Lusi menggelengkan kepalanya cepat sembari tersenyum kecil ke arah Rangga. "Tidak! Kamu tidak salah dengar."
Mendengar perkataan gadis itu, Rangga pun memeluk Lusi tepat saat gadis itu mengangguk. "Terimakasih, terimakasih."
Beberapa saat kemudian, Rangga pun melepaskan pelukannya pada gadis yang saat ini sudah menerima cintanya dan laki-laki itu memegang pipi Lusi dan mengusapnya dengan lembut. "Berarti mulai besok kamu tidak usah lagi naik bus oke! Karena mulai besok aku yang akan mengantar jemput kamu."
__ADS_1
"Besok hari Sabtu," balas Lusi singkat.
"Ah, iya besok kan hari libur kerja. Baiklah, kalau begitu mulai hari Senin aku akan jemput kamu disini, kamu mengerti sayang?"
'D-dia bilang apa? Sa-sayang?' batin Lusi. Gadis itu tak percaya dengan laki-laki di hadapannya itu. Baru beberapa menit yang lalu ia telah menjadi kekasihnya. Tapi... haruskah laki-laki itu langsung mengucapkan kata sayang kepadanya?
"Sayang? Kamu tidak apa-apa?"
"Ah, ak-aku ... tidak apa-apa."
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu sampai rumah yuk!" ucap Rangga.
"Ah, tidak! Tidak! Kamu sebaiknya balik saja. Aku tidak apa-apa naik sendiri nanti," balas Lusi mencoba menolaknya secara halus pada laki-laki itu.
"Tapi sayang-"
"Sebaiknya, kamu cepat pergi! Biar aku langsung naik. Diujung sana aku melihat polisi sedang berkeliaran," ucap Lusi mencoba membohongi laki-laki itu.
"Baiklah, kalau begitu, aku pulang ya."
Lusi pun mengangguk. "Em. Hati-hati"
__ADS_1
Rangga pun pergi meninggalkan Lusi yang masih berdiri di tempatnya dengan bingkisan roti yang masih di pegangnya. "Apakah, orang-orang di kota ini seperti itu semua saat mendapatkan kekasih? Sayang? Astaga."
Lusi pun akhirnya segera pergi untuk pulang karena takut akan ada polisi yang lewat jika ia terus berdiri di tempat itu.